RESEARCH

Fixed Income Notes

01 Agustus 2019

Fixed Income Notes 01 Agustus 2019

Harga Surat Utang Negara kembali bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan yang didorong oleh beberapa sentimen global pada perdagangan hari Rabu, tanggal 31 Juli 2019.
 
Perubahan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin hari Rabu, 31 Juli 2019 mengalami rata-rata penurunan hingga sebesar 100 bps yang mendorong terjadinya rata-rata kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 5 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami koreksi harga hingga sebesar 24 bps yang menyebabkan terjadinya kenaikan imbal hasil sebesar 3 bps. Sementara itu, Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) didapati penurunan harga yang berkisar antara 14 bps hingga 64 bps yang berdampak pada naiknya tingkat imbal hasil berkisar antara 2 bps hingga 11 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor panjang (diatas 7 tahun) mengalami koreksi harga dengan rata-rata sebesar 45,5 bps yang mendorong terjadinya kenaikan rata-rata tingkat imbal hasil sebesar 4,7 bps.

Perubahan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin bergerak dengan mengalami penurunan dimana para pelaku pasar masih menantikan hasil dari FOMC Meeting yang akan disampaikan tanggal 1 Agustus 2019. Selain itu, pertemuan negoisasi dagang antara Amerika dan China di Shanghai masih belum menemui kejelasan dan dikhawatirkan justru akan tereskalasi. Sementara itu, rilis data dari Manufacturing PMI China sebesar 49,7 dimana angka tersebut dibawah 50 yang menunjukan adanya kontraksi aktifitas manufaktur dari periode sebelumnya. Adapun dari dalam negeri, para pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi dan data pertumbuhan ekonomi untuk periode Juli 2019. Dari beberapa sentimen tersebut, para pelaku pasar masih melakukan aksi wait and see terlebih dahulu dalam merespon kondisi pasar kemarin.
 
Naiknya tingkat imbal hasil juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika yang terjadi ditengah naiknya imbal hasil US Treasury. Penurunan imbal hasil tersebut didapati pada keseluruhan seri Surat Utang Negara berdenominasi mata uang Dollar Amerika. Perubahan harga INDO24 dan INDO29 mengalami penurunan masing-masing sebesar 6,5 bps dan 13,8 bps yang berdampak pada kenaikan imbal hasil masing-masing sebesar 1,4 bps di level 2,804% dan 1,6 bps di level 3,173%. Adapun untuk seri INDO44 dan INDO 49 didapati koreksi harga masing-masing sebesar 10,6 bps dan 21,4 bps sehingga mengakibatkan naiknya tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 0,6 bps di level 4,2260% dan 1,1 bps di level 4,117%. 
 
Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp12,83 triliun dari 48 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Adapun Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,24 triliun dari 80 kali transaksi di harga rata - rata 106,18% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0075 dan FR0056 masing-masing senilai Rp1,07 triliun dari 181 kali transaksi di harga rata - rata 100,38% dan Rp1,06 triliun dari 20 kali transaksi di harga rata - rata 106,63%. 
 
Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,08 triliun dari 47 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Adapun untuk seri Obligasi Berkelanjutan II Japfa Tahap II Tahun 2017 (JPFA02CN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp229,60 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 101,60% dan diikuti oleh Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I Bank Permata Tahap II Tahun 2012 (BNLI01SBCN2) dan Obligasi Berkelanjutan I Waskita Beton Precast Tahap I Tahun 2019  (WSBP01CN1) keduanya senilai Rp80,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,73% dan dari 1 kali transaksi di harga rata-rata 100,05%.  
 
Pada perdagangan kemarin, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami penguatan sebesar 4 pts (0,04%) di level 14022,00 per Dollar Amerika. Pergerakan nilai tukar Rupiah dibuka dengan mengalami penguatan namun pada pertengahan sesi perdagangan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan dan kembali berbalik arah menjadi menguat bergerak pada kisaran 14009 hingga 14028 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami penguatan seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional yang menguat terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun mata uang Baht Thailand (THB) memimpin penguatan  sebesar 0,20% diiringi dengan mata uang Dollar Singapura (SGD) dan Rupee India (INR) yang juga mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,13% dan 0,07%. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) yang mengalami koreksi sebesar 0,10% terhadap Dollar Amerika dan diikuti oleh mata uang Dollar Taiwan (TWD) sebesar 0,09% terhadap Dollar Amerika.
 
Sementara itu, imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami  kenaikan yang terbatas sehingga berada di level 2,035% dan untuk tenor 30 tahun juga ikut mengalami kenaikan imbal hasil di level 2,536%. Pergerakan US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak melemah dimana indeks DJIA ditutup melemah terbatas sebesar 123 bps sehingga berada pada level 26864,27 dan indeks NASDAQ juga ditutup melemah sebesar 119 bps sehingga berada pada level 8175,42. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami pelemahan di level 0,604%. Adapun untuk obligasi Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun, keduanya juga ikut mengalami pelemahan masing-masing pada level –0,439% dan 0,12%. 
 
Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak dengan berpeluang untuk mengalami kenaikan yang didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika akibat optimisnya para pelaku pasar terhadap beberapa sentimen global. Diantaranya adalah rilis data suku bunga acuan The Fed yang menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps di level 2,00%-2,25%. Pemangkasan suku bunga tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan kondisi inflasi Amerika. Penurunan suku bunga acuan The Fed tersebut akan berdampak positif bagi harga Surat Utang Negara dimana kondisi ini membuat para pelaku pasar memungkinkan adanya aksi mencari aset yang lebih berkualitas (flight to quality) dari negara-negara berkembang yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih baik, termasuk Indonesia.

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara. Kami merekomendasikan kepada investor untuk melakukan strategi trading di tengah pergerakan harga Surat Utang Negara yang berpotensi menguat dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0031, FR0034, FR0053, FR0063, FR0070, FR0056, FR0059, dan FR0071. 
 

Back Download PDF