RESEARCH

Fixed Income Notes

02 Agustus 2019

Fixed Income Notes 02 Agustus 2019

Harga Utang Negara pada perdagangan hari Kamis, 1 Agustus 2019 melanjutkan tren penurunan yang didorong oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat beberapa sentimen dari dalam maupun luar negeri.

 

Kenaikan tingkat imbal hasil yang terjadi pada perdagangan kemarin berkisar antara 1 - 20 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 11 bps dimana Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami kenaikan imbal hasil lebih besar dibandingkan dengan yang didapati pada tenor menengah dan panjang. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami kenaikan berkisar antara 6 - 20 bps dengan didorong oleh adanya penurunan harga hingga sebesar 50 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami kenaikan imbal hasil berkisar antara 2 bps hingga 13 bps yang didorong oleh koreksi harga antara 14 bps hingga 73 bps. Adapun untuk imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) mengalami perubahan berkisar antara 1 - 20 bps dengan didorong oleh adanya penurunan harga hingga sebesar 210 bps. 

Berlanjutnya penurunan harga Surat Utang Negara hingga perdagangan kemarin masih didukung oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Penurunan harga Surat Utang Negara ini terjadi  karena faktor pernyataan The Fed yang bernada hawkish akan ragunya terhadap keputusan penurunan suku bunga acuan The Fed. Adapun koreksi harga Surat Utang Negara juga diikuti oleh beberapa negara berkembang lainnya. Sementara itu, dari domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi untuk periode Juli 2019 yang diatas ekspektasi para pelaku pasar sebesar 3,32% YoY dan 0,31% MoM.  

Namun demikian, penurunan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin mulai semakin besar, terutama yang didapati pada Surat Utang Negara dengan tenor menengah dan panjang. Semakin besarnya perubahan harga pada tenor tersebut turut mempengaruhi perubahan tingkat imbal hasilnya. Dengan posisi harga Surat Utang Negara yang melanjutkan tren penurunan didorong oleh aksi jual para pelaku pasar.

Secara keseluruhan, penurunan imbal hasil Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin telah mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan sebesar 12 bps untuk tenor 5 tahun di level 6,912% dan 10 tahun di level 7,488% ditutup naik sebesar 14 bps. Adapun naik sebesar 13 bps untuk tenor 15 tahun di level 7,788%. Adapun untuk seri acuan dengan tenor 20 tahun mengalami kenaikan sebesar 9 bps di level 7,939%. 

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, pergerakan imbal hasilnya mengalami kenaikan dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. Kenaikan imbal hasil terjadi pada keseluruhan seri Surat Utang Negara dengan imbal hasil dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 4,4 bps di level 2,848% setelah mengalami penurunan harga sebesar 20 bps. Sementara itu imbal hasil dari INDO29, INDO44, dan INDO49 juga mengalami kenaikan imbal hasil masing-masing sebesar 2,3 bps; 2,8 bps; 2,7 bps yang berada pada level 3,216%; 4,255%; 4,147%. 

 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp14,86 triliun dari 45 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp4,62 triliun. Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,65 triliun dari 104 kali transaksi di harga rata - rata 105,55% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0082 senilai Rp1,33 triliun dari 119 kali transaksi di harga rata - rata 98,25%.  Sementara itu, volume pada Surat Berharga Syariah Negara tertinggi didapati pada Project Based Sukuk seri PBS014 sebesar Rp1,28 triliun untuk 10 kali transaksi dan diikuti oleh seri PBS016 dengan volume sebesar Rp265,00 miliar dari 2 kali perdagangan. 

Dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,36 triliun dari 33 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan III PLN Tahap IV Tahun 2019 Seri E (PPLN03ECN4) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp660,00 miliar dari 8 kali transaksi di harga rata - rata 100,00% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap III Tahun 2018 Seri B (SMFP04BCN3) senilai Rp160,00 miliar dari 8 kali transaksi di harga rata - rata 98,55%. 

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup melemah sebesar 95,00 pts (0,67%) pada level 14116,00 per dollar Amerika setelah mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan yang bergerak pada kisaran 14060,00 - 14125,00 per dollar Amerika, pelemahan nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin terjadi di tengah kecenderungan mata uang regional yang juga mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika. Mata uang Rupiah Indonesia (IDR) memimpin pelemahan mata uang regional sebesar 0,67%  diikuti oleh mata uang Peso Filipina (PHP) dan Won Korea Selatan (KRW) yang melemah masing-masing sebesar 0,59% dan 0,46%. Sedangkan mata uang Dollar Hongkong (HKD) merupakan mata uang regional yang terlihat mengalami penguatan terhadap dollar Amerika sebesar 0,04%.
 
Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan kembali bergerak mengalami penurunan di tengah beberapa sentimen dari dalam maupun luar negeri. Adapun imbal hasil dari US Treasury bergerak dengan arah yang bervariasi dimana US Treasury untuk tenor 10 tahun mengalami kenaikan pada level 1,897% dan untuk tenor 30 tahun mengalami penurunan di level 2,437%. Sedangakan imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun ditutup turun pada level -0,455% serta surat utang Inggris (Gilt) ditutup turun pada level 0,585%. Kondisi pergerakan surat utang global tersebut kami perkirakan juga akan mempengaruhi arah pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika pada perdagangan hari ini. 

Sementara itu secara teknikal, harga Surat Utang Negara masih akan membuka peluang pelaku pasar untuk melakukan aksi jual yang akan mendorong penurunan harga Surat Utang Negara. Hanya saja, tren penurunan kali ini akan terbatas karena telah memasuki area jenuh jual (oversold) sehingga berpotensi membatasi penurunan harga obligasi negara di pasar sekunder.

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Kami melihat bahwa harga Surat Utang Negara masih berpeluang mengalami penurunan dalam jangka pendek. Untuk itu kami menyarakan pada investor untuk melakukan aksi beli secara bertahap pada tenor-tenor panjang. Beberapa seri Surat Utang Negara yang cukup menarik untuk ditransaksikan diantaranya adalah FR0058, FR0074, FR0065, FR0068, FR0072, FR0075 dan FR0079.

 

Pekan depan pemerintah akan melakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada hari Selasa, tanggal 6 Agustus 2019 dengan seri SPNS07022020 (New Issuance), PBS014 (Reopening), PBS019 (Reopening), PBS021 (Reopening), PBS022 (Reopening), PBS015 (Reopening).     

 

FIResearch@MNCSekuritas

Back Download PDF