RESEARCH

Fixed Income Notes

05 Agustus 2019

Fixed Income Notes 05 Agustus 2019

Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Jumat, 2 Agustus 2019 bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah berlanjutnya tren koreksi harga akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Perubahan imbal hasil yang terjadi pada perdagangan kemarin berkisar antara 1 - 23 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan sebesar 6 bps dimana perubahan imbal hasil yang cukup besar terjadi pada tenor menengah, 5 - 7 tahun. 

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) bergerak  dengan mengalami perubahan hingga sebesar 4 bps di tengah perubahan harga yang berkisar antara 1 - 11 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) terlihat mengalami kenaikan berkisar antara 2 - 14 bps dengan didorong oleh adanya koreksi harga hingga sebesar 77 bps dan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) yang juga mengalami kenaikan hingga sebesar 23 bps didorong oleh adanya koreksi harga hingga sebesar 186 bps. 

Kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan akhir pekan kemarin diakibatkan oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditengah tren penurunan harga Surat Utang Negara selama 6 hari terakhir. Penurunan harga Surat Utang Negara tersebut terjadi karena adanya eskalasi perang dagang antara Amerika dan China dimana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan kembali mengenakan tarif tambahan sebesar 10% bagi barang-barang China terhitung per 1 September 2019. Hal tersebut akan mendorong penjualan pada aset-aset negara berkembang, salah satunya Indonesia. Sementara itu, Bank Indonesia juga berusaha melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik maupun luar negeri. Dengan kondisi tersebut, para pelaku pasar cenderung untuk wait and see terlebih dahulu menantikan moment yang baik untuk kembali masuk ke pasar sekunder. Hari ini para pelaku pasar juga menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode kuartal II 2019 yang diprediksi akan mengalami penurunan di level 5,04% dimana tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelumnya pada kuratal I 2019 sebesar 5,07%. 
 
Hal tersebut turut mempengaruhi terbatasnya perubahan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan, dimana pada perdagangan di akhir pekan kemarin perubahan imbal hasilnya hingga sebesar 6 bps masing - masing di level 6,975% untuk tenor 5 tahun, di level 7,540% untuk tenor 10 tahun, di level 7,831% untuk tenor 15 tahun dan di level 8,014% untuk tenor 20 tahun. 

Sementara itu dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, imbal hasil dari INDO24 mengalami penurunan sebesar 3,2 bps di level 2,813% dan INDO29 juga mengalami penurunan sebesar 5,3 bps di level 3,158% setelah mengalami kenaikan harga masing - masing sebesar 14,3 bps dan 46,5 bps. Adapun imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 keduanya mengalami penurunan sebesar 4 bps masing-masing di level 4,213% dan 4,096% setelah mengalami kenaikan harga berkisar antara 79 - 99 bps. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan akhir pekan kemarin terlihat mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume pada perdagangan sebelumnya, sebesar Rp19,28 triliun dari 51 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan, dengan volume seri acuan yang dilaporkan senilai Rp7,05 triliun. Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp5,03 triliun dari 177 kali transaksi di harga rata - rata 104,74% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0064 senilai Rp1,29 triliun dari 20 kali transaksi di harga rata - rata 91,15%. Sementara itu, untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan volume terbesar didapati pada Project Based Sukuk dengan seri PBS014 yaitu senilai Rp958,91 miliar dari 11 kali transaksi dan diikuti seri PBS016 dengan volume sebesar Rp128,00 miliar dengan 1 kali perdagangan.

Dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan obligasi korporasi senilai Rp1,67 triliun dari 48 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.  Obligasi Berkelanjutan III Indosat Tahap II Tahun 2019 Seri A (ISAT03ACN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp376,00  miliar dari 8 kali transaksi di harga rata - rata 100,30%. Diikuti oleh seri Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap I Tahun 2018 Seri A  (BEXI04ACN1) Rp245,00  miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 99,66% 

Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup melemah sebesar 69,00 pts pada level 14185,00 per dollar Amerika dan bergerak melemah hingga akhir sesi perdagangan. Pergerakan nilai tukar Rupiah bergerak pada kisaran 14165,00 hingga 14230,00 per dollar Amerika. Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut terjadi seiring dengan pelemahan sebagian besar mata uang regional terhadap dollar Amerika. Adapun yang memimpin pelemahan mata uang regional didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,78% yang diikuti oleh pelemahan Rupee India (INR) dan Dollar Taiwan (TWD) masing-masing sebesar 0,77% dan 0,64%. Sementara itu, mata uang regional yang mengalami penguatan tertinggi didapati pada mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,46% dan diikuti oleh penguatan Baht Thailand (THB) dan Dollar Hongkong (HKD) masing-masing sebesar 0,18% dan 0,02% terhadap dollar Amerika.

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan cenderung bergerak bervariasi dengan arah pergerakan yang cenderung mengalami penurunan yang disebabkan oleh adanya lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang akan diselenggarakan besok sehingga para pelaku pasar lebih menahan diri untuk bertransaksi di pasar sekunder. Sementara itu, para pelaku pasar pada hari ini akan menantikan disampaikannya data pertumbuhan PDB kuartal II 2019 oleh Badan Pusat Statistik. Selain itu, dari sisi eksternal, para pelaku pasar juga menantikan beberapa rilis data diantaranya adalah US Non-Manufacturing PMI untuk periode Juli 2019 dan Caixin Services PMI China untuk periode Juli 2019, dimana data-data tersebut besar kemungkinan dapat menjadi sentimen penggerak pasar hari ini.

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun terlihat mengalami penurunan di level 1,848% sementara itu imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 30 tahun juga ditutup turun pada level 2,385%. Sementara itu imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun ditutup naik pada level –0,488% dan pada tenor 30 tahun turun di level 0,011%. Adapun imbal hasil dari surat utang Inggris (Gilt) mengalami kenaikan pada level 0,544% untuk tenor 10 tahun. 

Rekomendasi
Dengan kombinasi dari beberapa faktor tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Strategi trading masih kami sarankan di tengah kondisi pasar surat utang yang masih akan bergerak berfluktuasi seiring dengan kondisi yang terjadi di pasar keuangan global dengan pilihan masih pada tenor pendek dan panjang seperti seri FR0053, FR0070, FR0056, FR0059, FR0064 dan FR0071.

Pada sepekan kedepan terdapat satu surat utang yang akan jatuh tempo senilai Rp1,37 triliun. Kesadaran Berinvestasi Meningkat, SBR007 Laris Dibeli Generasi Muda.

Back Download PDF