RESEARCH

Fixed Income Notes

07 Agustus 2019

Fixed Income Notes 07 Agustus 2019

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin, hari Selasa, 6 Agustus 2019 mengalami penurunan ditengah melemahnya mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat kekhawatiran para pelaku pasar terhadap eskalasi perang dagang antara Amerika dan China.
 
Kenaikan tingkat imbal hasil berkisar antara 1—60 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan sebesar 8 bps dimana kenaikan imbal hasil terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Utang Negara. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami kenaikan berkisar antara 1 - 4 bps dengan didorong oleh adanya penurunan harga hingga sebesar 9 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami kenaikan yang berkisar antara 1 - 2 bps dengan didorong oleh adanya penurunan harga hingga 10 bps. Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) terlihat mengalami kenaikan hingga sebesar 60 bps dengan didorong oleh adanya penurunan harga hingga 630 bps. 

Kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin hari Selasa, tanggal 6 Agustus 2019, didorong oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditengah eskalasi perang dagang. Meskipun pada perdagangan kemarin penurunan harga Surat Utang Negara tidak sedalam perdagangan di hari Senin, namun kondisi perang dagang antara Amerika dan China semakin memanas. China merespon kenaikan tarif impor Trump dengan cara menurunkan nilai tukar Yuan terhadap Dollar Amerika dan menangguhkan impor terhadap produk-produk pertanian Amerika. Eskalasi perang dagang yang terus memanas ini berdampak pada para pelaku pasar untuk mengambil aksi wait and see sebelum kembali masuk ke pasar sekunder. 

Selain itu, momentum koreksi harga kemarin dimanfaatkan oleh sebagian investor untuk melakukan aksi beli ditengah diselenggarakannya lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada perdagangan kemarin. Hal ini terindikasi dari meningkatnya volume pada perdagangan kemarin. Pada kuartal III tahun 2019 pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Berharga Negara melalui lelang senilai Rp185 triliun dari 7 kali lelang Surat Utang Negara dan 6 kali lelang Sukuk Negara. Pada lelang Sukuk Negara kemarin, pemerintah meraup dana senilai Rp8,03 triliun dari total penawaran yang masuk senilai Rp18,05 triliun. Angka permintaan tersebut lebih tinggi daripada permintaan lelang SBSN sebelumnya sebesar Rp16,47 triliun dan lebih rendah daripada rata-rata lelang sejak awal tahun yang sebesar Rp22,53 triliun. 

Secara keseluruhan, pada perdagangan kemarin telah mendorong perubahan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan arah yang bervariasi, dengan kenaikan sebesar 2 bps untuk tenor 5 tahun di level 7,092%; turun sebesar 3 bps untuk tenor 10 tahun di level 7,625%; turun 2 bps untuk tenor 15 tahun di level 7,939%; dan naik 1 bps untuk tenor 20 tahun di level 8,134%. 

Sementara itu dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, pergerakan imbal hasilnya bergerak dengan arah yang beragam dengan kecenderungan mengalami kenaikan pada sebagian besar seri Surat Utang Negara di tengah naiknya imbal hasil dari surat utang global. Imbal hasil dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 1 bps di level 2,832% setelah mengalami koreksi harga sebesar 4,4 bps. Adapun untuk imbal hasil INDO29 juga mengalami kenaikan sebesar 0,5 bps di level 3,160% yang didorong oleh turunnya harga sebesar 4,5 bps. Sedangkan imbal hasil INDO44 dan INDO49 keduanya mengalami penurunan sebesar 1 bps di level 4,209% dan 4,079% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 1,1 bps dan 16 bps. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp28,36 triliun dari 53 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Adapun volume perdagangan Surat Utang Negara seri acuan yang dilaporkan senilai Rp6,52 triliun. Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,17 triliun dari 98 kali transaksi di harga rata - rata 103,28% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0064 senilai Rp2,27 triliun dari 33 kali transaksi di harga rata - rata 96,90%. Adapun volume perdagangan dari Surat Berharga Syariah Negara terbesar didapati pada Project based Sukuk seri PBS019 sebesar Rp7,63 triliun dari 57 kali perdagangan dan diikuti oleh seri PBS014 dan SR011 dengan volume masing-masing senilai Rp901,78 miliar untuk 3 kali perdagangan dan Rp104,77 miliar untuk 27 kali transaksi.

Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,15 triliun dari 33 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan II Adhi Karya Tahap I Tahun 2017  (ADHI02CN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp320,00 miliar dari 10 kali transaksi di harga 100,23% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Mayora Indah Tahap I Tahun 2017 (MYOR01CN1) senilai Rp200,00 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 101,30%. 

Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup pada level 14277,00 per dollar Amerika, mengalami pelemahan dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya dan bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan  pada kisaran 14260,00 hingga 14360,00 per dollar Amerika. Nilai tukar rupiah bergerak melemah seiring dengan sebagian besar pelemahan mata uang regional terhadap dollar Amerika, dimana pada perdagangan kemarin, mata uang Rupee India (INR) memimpin pelemahan mata uang regional sebesar 2,84% yang diikuti oleh Won Korea Selatan (KRW) dan Renminbi China (CNY) masing-masing sebesar 2,65% dan 2,10%. Adapun mata uang Yen Jepang (JPY)  merupakan satu-satunya mata uang regional yang mengalami penguatan yaitu sebesar 2,28% terhadap Dollar Amerika.

Pada perdagangan hari ini, kami perkirakan harga Surat Utang Negara bergerak menurun yang masih akan dibayangi oleh kekhawatiran eskalasi perang dagang antara Amerika dan China. Penurunan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari ini juga masih akan dipengaruhi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang didukung oleh menguatnya dollar Amerika terhadap beberapa mata uang regional. Adanya sentimen eksternal akan berdampak terhadap penurunan harga dimana imbal hasil dari surat utang global yang ditutup dengan kecenderungan mengalami kenaikan. 

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup turun pada level 1,699% dan imbal hasil US Treasury 30 tahun juga mengalami penurunan di level 2,228%. Adapun imbal hasil surat utang Jerman (Bund) dengan tenor yang sama mengalami penurunan di level -0,542% sedangkan imbal hasil Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun terlihat mengalami kenaikan, di level 0,515%. Pergerakan imbal hasil surat utang global yang cenderung mengalami kenaikan tersebut kami perkirakan akan masih memberikan tekanan terhadap pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika. 

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan melakukan strategi trading. Kami merekomendasikan beberapa seri Surat Utang Negara yang masih cukup menarik untuk diperdagangkan seperti FR0053, FR0061, FR0043, FR0056, FR0059, FR0071, FR0078 serta FR0073. 
 
Pemerintah meraup dana senilai Rp8,03 triliun dengan melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada tanggal 6 Agustus 2019 untuk seri SPNS07022020 (new issuance), PBS014 (reopening), PBS019 (reopening), PBS021 (reopening), PBS022 (reopening) dan PBS015 (reopening).
 

Back Download PDF