RESEARCH

Fixed Income Notes

12 Agustus 2019

Fixed Income Notes 12 Agustus 2019

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan akhir pekan kemarin, Jumat, 9 Agustus 2019, mengalami kenaikan ditengah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat rilis data neraca perdagangan China.
 
Perubahan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin berkisar antara 1 - 14 bps dengan rata - rata mengalami penurunan sebesar 5 bps. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami penurunan berkisar antara 1 - 3 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga hingga sebesar 10 bps. Sedangkan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan sekitar 4 bps yang didorong olah adanya kenaikan harga yang berkisar antara 1 - 19 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan hingga sebesar 14 bps dengan didorong oleh adanya perubahan harga hingga 160 bps. 

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, Jumat, 9 Agustus 2019, harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan ditengah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Menguatnya harga Surat Utang Negara pada akhir pekan kemarin lebih dipengaruhi oleh faktor ekstenal yang diikuti oleh penurunan tingkat imbal hasil global. Meskipun dari domestik telah rilis data Neraca Pembayaran Indonesia untuk periode kuartal II tahun 2019 yang mencatatkan defisit sebesar USD1,98 miliar, namun para pelaku pasar lebih melihat kondisi perekonomian global dengan dirilisnya data perdagangan China. Adapun data neraca perdagangan China mencatatkan kenaikan ekspor sebesar 3,3% secara tahunan, lebih besar daripada ekspektasi para pelaku pasar. Disamping itu, China juga membiarkan nilai mata uang Yuan melemah terhadap Dollar Amerika. Hal tersebut dimaksudkan sebagai bentuk serangan balasan China terhadap tarif impor Amerika pada bulan depan. Dengan melemahnya Yuan maka produk ekspor China akan menjadi lebih murah sehingga berpotensi meningkatkan permintaan barang-barang ekspor China. Kami menilai bahwa dengan membaiknya kondisi ekonomi China, maka akan menjadi katalis positif bagi perdagangan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Secara keseluruhan, turunnya imbal hasil kemarin juga telah mendorong imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan turun sebesar 7 bps masing - masing pada tenor 5 tahun di level 6,760%, tenor 10 tahun di level 7,288%, dan tenor 15 tahun di level 7,673%. Adapun untuk tenor 20 tahun turun sebesar 8 bps di level 7,830%. 

Sementara itu dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, pergerakan imbal hasilnya kembali ditutup dengan mengalami penurunan. Imbal hasil dari INDO24 ditutup mengalami penurunan sebesar 0,3 bps yang berada di level 2,792% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 7 bps. Adapun INDO29 ditutup dengan penurunan imbal hasil sebesar 0,8 bps di level 3,060% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 13 bps. Adapun imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 ditutup turun sebesar 0,7—1,3 bps masing - masing di level 4,121% dan 3,976% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 13 bps dan 27 bps.
 
Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp7,28 miliar dari 37 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp3,28 triliun. Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,02 triliun dari 60 kali transaksi di harga rata - rata 105,91% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0068 senilai Rp604,78 miliar dari 31 kali transaksi di harga rata - rata 104,75%. 

Adapun dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp947,67 miliar dari 29 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi II Intiland Development Tahun 2016 Seri B (DILD02B) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagann terbesar, senilai Rp300 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 100,26% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Indosat Tahap II Tahun 2019 Seri B (ISAT03BCN2) senilai Rp201,20 miliar dari 3 kali transaksi di harga 100,75%. 

Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup menguat sebesar 16,00 pts (0,11%) pada level 14194,00 per dollar Amerika setelah bergerak dengan mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14175,00 hingga 14206,00 per dollar Amerika. Penguatan nilai tukar rupiah tersebut terjadi ditengah mata uang regional  yang bergerak dengan arah yang beragam terhadap mata uang dollar Amerika. Adapun yang memimpin penguatan mata uang regional didapati pada mata uang Peso Filipina (PHP) sebesar 0,31% dan diikuti oleh mata uang Yen Jepang (JPY) dan Rupiah Indonesia (IDR) masing-masing sebesar 0,19% dan 0,11%. Sementara itu mata uang yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada mata uang Renminbi China (CNY) sebesar 0,22% dan diikuti oleh mata uang Won Korea Selatan (KRW) dan Rupee India (INR) yang keduanya melemah sebesar 0,08% terhadap Dollar Amerika.

Pada perdagangan hari ini, kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan berpeluang mengalami kenaikan dengan masih didukung oleh optimisnya para pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian global sebagai akibat dari positifnya neraca perdagangan China. Hal tersebut akan membawa sentimen positif terhadap nilai tukar mata uang regional terhadap Dollar Amerika, termasuk penguatan mata uang Rupiah. Hanya saja, pada perdagangan hari ini, para pelaku pasar lebih menahan diri bertransaksi di pasar sekunder dan cenderung wait and see ditengah jelang dilaksanakannya lelang Surat Utang Negara pada hari Selasa, 13 Agustus 2019.

Adapun  imbal hasil dari US Treasury bergerak mengalami kenaikan. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun pada perdagangan kemarin ditutup naik pada level 1,745% dan untuk tenor 30 tahun juga ikut mengalami penurunan di level 2,259%. Sementara itu imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dan Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan, masing - masing di level –0,567% dan 0,445%. 

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara dengan memanfaatkan momentum perubahan harga untuk melakukan strategi trading dengan pilihan pada seri FR0031, FR0053, FR0061, FR0035, FR0043, FR0070, FR0056, dan FR0059.
 
PT Pemeringkat Efek Indonesia memberikan peringkat “idA+” kepada PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON)

Back Download PDF