RESEARCH

Fixed Income Notes

16 Agustus 2019

Fixed Income Notes 16 Agustus 2019

Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Kamis, 15 Agustus 2019 mengalami kenaikan yang terjadi ditengah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat sentimen negatif dari global
 
Kenaikan tingkat imbal hasil yang terjadi pada perdagangan kemarin berkisar antara 1 - 6 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 1,2 bps dimana Surat Utang Negara dengan tenor panjang mengalami kenaikan imbal hasil lebih besar dibandingkan dengan yang didapati pada tenor pendek dan menengah. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami kenaikan berkisar antara 1 - 3 bps dengan didorong oleh adanya koreksi harga hingga sebesar 9 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami kenaikan imbal hasil hingga 6 bps yang didorong oleh penurunan harga hingga 31 bps. Adapun untuk imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) mengalami perubahan berkisar antara 1 - 5 bps dengan didorong oleh adanya perubahan harga hingga sebesar 51 bps. 

Pada perdagangan kemarin, tingkat imbal hasil Surat Utang Negara mengalami kenaikan yang didorong oleh koreksi harga Surat Utang Negara ditengah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Penurunan harga Surat Utang Negara tersebut diakibatkan adanya sentimen negatif dari luar negeri. Data produksi industri China untuk periode Juli tercatat hanya tumbuh sebesar 4,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,3%. Sementara itu, dari perlambatan ekonomi juga didapati pada negara Jerman yang hanya tumbuh sebesar 0,4% melambat dibandingkan dengan peiode sebelumnya sebesar 0,9%.

Sementara itu, dari sentimen domestik, Badan Pusat Statistik merilis neraca perdagangan untuk periode Juli 2019 yang masih mengalami defisit sebesar USD 63,5 juta. Defisit tersebut diakibatkan dari defisitnya sektor migas yang tercatat USD142,4 juta berbanding terbalik dengan sektor non-migas yang surplus sebesar USD78,9 juta. Dengan defisit nya neraca perdagangan untuk periode Juli 2019 tersebut, maka akan berdampak pada nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika sehingga harga Surat Utang Negara juga ikut tertekan.

Secara keseluruhan, penurunan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin telah mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan sebesar 2 bps untuk tenor 5 tahun di level 6,834% dan 10 tahun di level 7,453% ditutup naik sebesar 2 bps. Adapun turun sebesar 2 bps untuk tenor 15 tahun di level 7,822%. Adapun untuk seri acuan dengan tenor 20 tahun mengalami kenaikan sebesar 2 bps di level 7,893%. 

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, pergerakan imbal hasilnya mengalami penurunan dibandingkan dengan perdagangan di hari Rabu. Penurunan imbal hasil terjadi pada sebagian besar seri Surat Utang Negara dengan imbal hasil dari INDO24 mengalami penurunan sebesar 3,2 bps di level 2,723% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 14,3 bps. Sementara itu imbal hasil dari INDO29, INDO44, dan INDO49 mengalami penurunan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 6,6 bps; 7,1 bps; dan 8,9 bps yang didorong oleh kenaikan harga masing-masing sebesar 59 bps, 142 bps dan 186 bps. 
 
Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp19,52 triliun dari 42 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp7,94 triliun. Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,70 triliun dari 71 kali transaksi di harga rata - rata 105,40% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0082 senilai Rp3,07 triliun dari 88 kali transaksi di harga rata - rata 97,68%.  Sementara itu, volume pada Surat Berharga Syariah Negara tertinggi didapati pada Project Based Sukuk seri PBS019 sebesar Rp1,14 triliun untuk 20 kali transaksi dan diikuti oleh seri PBS014 dengan volume sebesar Rp206,00 miliar dari 8 kali perdagangan. 

Dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,29 triliun dari 51 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Sukuk Wakalah Medco Power Indonesia II Tahun 2019 Seri A (SWMEDP02A) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp160,00 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 100,13% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Sarana Multi Infrastruktur Tahap I Tahun 2019 Seri B (SMII02BCN1) senilai Rp137,00 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 100,05%. 

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup melemah sebesar 24,00 pts (0,16%) pada level 14273,00 per dollar Amerika setelah bergerakmengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan kemarin pada kisaran 14238,00 - 14309,00 per dollar Amerika, pelemahan nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin terjadi di tengah kecenderungan mata uang regional yang juga mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika. Mata uang Dollar Hongkong (HKD) dan Dollar Taiwan (TWD), keduanya memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,06% yang diikuti oleh mata uang Yen Jepang (JPY) dan Dollar Singapura (SGD) yang menguat masing-masing sebesar 0,04% dan 0,01%. Sedangkan mata uang Peso Filipina (PHP) dan Renminbi China (CNY) merupakan mata uang regional yang terlihat mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika masing-masing sebesar 0,53% dan 0,20%.
 
Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan bergerak mengalami penurunan di tengah beberapa sentimen yang terjadi. Dari luar negeri, pergerakan imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup mengalami penurunan. Adapun imbal hasil dari US Treasury bergerak turun di level 1,525% untuk tenor 10 tahun dan di level 1,973% untuk tenor 30 tahun . Sedangakan imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun ditutup turun pada level -0,718% serta surat utang Inggris (Gilt) ditutup naik pada level 0,409%. Kondisi pergerakan surat utang global tersebut kami perkirakan juga akan mempengaruhi arah pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika pada perdagangan hari ini. 

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Beberapa seri Surat Utang Negara yang cukup menarik untuk ditransaksikan diantaranya adalah FR0053, FR0061, FR0063, FR0070, FR0056, FR0059 dan FR0064.

Back Download PDF