RESEARCH

Fixed Income Notes

20 Agustus 2019

Fixed Income Notes 20 Agustus 2019

Pada perdagangan awal pekan ini, hari Senin, tanggal 19 Agustus 2019, harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan yang didorong oleh menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta adanya sentimen positif dari hubungan perang dagang antara Amerika dan China.
 
Harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin mengalami rata-rata kenaikan sebesar 24,5 bps, sehingga mendorong terjadinya penurunan rata-rata tingkat imbal hasil sebesar 3,5 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara bertenor pendek (1-4 tahun) didapati kenaikan harga hingga 15 bps yang menyebabkan turunnya tingkat imbal hasil berkisar antara 1 bps hingga 5 bps. Sementara itu, Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) juga mengalami kenaikan harga yang berkisar antara 11 bps hingga 17 bps yang berdampak pada penurunan tingkat imbal hasil yang berkisar antara 2 bps hingga 4 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor panjang (diatas 7 tahun) mengalami kenaikan harga dengan rata-rata kenaikan sebesar 31 bps yang menyebabkan turunnya rata-rata tingkat imbal hasil sebesar 4 bps.  

Pada perdagangan hari Senin, tanggal 19 Agustus 2019, harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan ditengah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Kenaikan harga Surat Utang Negara tersebut mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara. Adapun pada perdagangan kemarin, para pelaku pasar kembali optimis terhadap hasil perundingan kesepakatan dagang antara Amerika dan China. Kedua negara sepakat untuk mengadakan pertemuan lebih lanjut untuk membahas kesepakatan dagang di Amerika dalam  tujuh hingga sepuluh hari kedepan. Sementara itu, sentimen positif juga datang dari rancangan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2020. Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi di level 5,3%, tertinggi sejak tahun 2013. 

Secara keseluruhan, kenaikan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin telah mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil pada Surat Utang Negara seri acuan. Adapun untuk tenor 5 tahun mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 4 bps sedangkan untuk tenor 10 tahun dan 15 tahun mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 9,5 bps dan 7 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 20 tahun didapati penurunan tingkat imbal hasil sebesar 2,3 bps.

Sementara itu dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi dollar Amerika, mengalami perubahan tingkat imbal hasil, seiring dengan pergerakan imbal hasil surat utang global yang ditutup dengan mengalami kenaikan. Imbal hasil dari INDO24 ditutup naik sebesar 1,6 bps di level 2,717%. Sementara itu, imbal hasil dari INDO29 ditutup dengan mengalami kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 5,2 bps di level 2,983% dan untuk tingkat imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 mengalami kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 3 bps di level 3,935% dan 7,8 bps di level 3,774%.

Volume perdagangan Obligasi Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin lebih kecil daripada perdagangan sebelumnya yaitu senilai Rp7,69 triliun dari 40 seri Obligasi Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp2,15 triliun. Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,04 triliun dari 42 kali transaksi di harga rata - rata 106,66% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0056 senilai Rp758,26 miliar dari 16 kali transaksi di harga rata - rata 106,48%. Sementara itu, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Surat Berharga Syariah Negara terbesar yaitu sebesar Rp150,00 miliar dari 4 kali transaksi dan diikuti oleh volume Sukuk Negara Ritel seri SR010 sebesar Rp98,78 miliar dari 11 kali transaksi. Adapun volume dari Project Based Sukuk seri PBS019 sebesar Rp60,00 miliar untuk 6 kali perdagangan.

Sementara itu dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya senilai Rp1,63 triliun dari 49 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan III Indosat Tahap II Tahun 2019 Seri B(ISAT03BCN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp350,30 miliar dari 8 kali transaksi di harga rata-rata 100,88% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Sarana Multi Infrastruktur Tahap I Tahun 2019 Seri B (SMII02BCN1) senilai Rp246,00 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 100,08%.

Adapun nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup menguat sebesar 5,00 pts (0,04%) di posisi 14238,00 per Dollar Amerika setelah dibuka dengan mengalami penguatan sepanjang sesi perdagangan. Nilai tukar Rupiah tersebut bergerak pada kisaran 14194,00 hingga 14240,00 per dollar Amerika. Penguatan nilai tukar rupiah tersebut terjadi ditengah bervariasinya arah pergerakan mata uang regional. Adapun mata uang yang memimpin penguatan mata uang regional yaitu mata uangPeso Filipina (PHP) sebesar 0,25% dan diikuti oleh penguatan mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,18%. Sedangkan untuk mata uang yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,36% yang diikuti oleh pelemahan Yen Jepang (JPY) sebesar 0,16% terhadap Dollar Amerika. 

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder akan bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan terutama pada Surat Utang Negara dengan tenor panjang. Hal ini seiring dengan para pelaku pasar yang merespon positif terhadap sentimen-sentimen yang terjadi pada pasar global, seperti meredanya ketegangan hubungan dagang antara Amerika dan China serta optimisnya pemerintah Indonesia yang terlihat dari penetapan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%, terbesar sejak tahun 2013

Sementara itu, dari faktor eksternal, tingkat imbal hasil dari US Treasury ditutup dengan mengalami penurunan. Tingkat imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup turun di level 1,594% seiring dengan tenor 30 tahun yang juga ikut ditutup menurun pada level 2,076%. Hanya saja penurunan imbal hasil US Treasury tersebut tidak diikuti oleh perubahan pada indeks saham utamanya yang bergerak menguat dimana indeks NASDAQ terpantau naik sebesar 135 bps di level 8002,81 namun untuk indeks DJIA mengalami kenaikan sebesar 96 bps di level 26135,79. Adapun untuk imbal hasil dari surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan pada level 0,484%. Sementara itu, imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) bertenor 10 tahun ditutup turun di level –0,646% dan yang bertenor 30 tahun berada di level –0,14%.

Rekomendasi
Dengan beberapa faktor pertimbangan di atas, harga Surat Utang Negara masih akan bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan melanjutkan tren perdagangan kemarin, maka kami masih menyarankan Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah sebagai pilihan investasi. Selain itu, kami juga tetap menyarankan kepada investor untuk mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan fokus pada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0034, FR0053, FR0063, FR0056, FR0059, FR0064, dan FR0071.
 
Rencana Lelang Surat Berharga Syariah Negara atau Sukuk Negara seri SPN-S 07022020 (Reopening), PBS014 (Reopening), PBS019 (Reopening), PBS021 (Reopening), PBS022 (Reopening) dan PBS005 (Reopening) pada hari Selasa tanggal 20 Agustus 2019.
 

Back Download PDF