Beranda

RESEARCH

Fixed Income Notes

22 Juli 2019

Fixed Income Notes 22 Juli 2019

Harga Surat Berharga Negara bergerak dengan arah bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan yang terbatas ditengah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta efek diturunkannya suku bunga acuan Bank Indonesia.
 
Perubahan imbal hasil yang terjadi pada perdagangan kemarin berkisar antara 1 - 5 bps dengan rata - rata mengalami penurunan terbatas dibawah 1 bps dimana perubahan imbal hasil yang cukup besar terjadi pada tenor menengah, 5 - 7 tahun. 

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) bergerak  dengan mengalami perubahan yang terbatas dibawah 1 bps di tengah perubahan harga yang hanya berkisar antara 1 - 3 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) terlihat mengalami penurunan berkisar antara 1 - 9 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga hingga sebesar 48 bps dan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) yang juga cenderung bergerak bervariasi dengan adanya perubahan hingga sebesar 1 bps didorong oleh adanya kenaikan harga hingga sebesar 39 bps. 

Perubahan imbal hasil Surat Berharga Negara pada perdagangan kemarin disebabkan oleh respon pelaku pasar setelah diturunkannya suku bunga acuan Bank Indonesia (7 Days Reverese Repo Rate/7DRRR) sebesar 25 bps sebesar 5,75%. Kenaikan harga Surat Utang Negara tersebut juga seiring dengan kenaikan harga obligasi negara-negara lain yang berdampak setelah pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika yang mengindikasikan bahwa kemungkinan dari penurunan suku bunga acuan The Fed semakin besar pada tanggal 31 Juli 2019 waktu setempat. Kami menilai bahwa pernyataan tersebut berakibat pada pelaku pasar yang mengambil posisi ke aset yang lebih beresiko dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. 
 
Hal tersebut turut mempengaruhi terbatasnya perubahan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan, dimana pada perdagangan di akhir pekan kemarin perubahan imbal hasilnya hingga sebesar 3 bps masing - masing di level 6,491% untuk tenor 5 tahun, di level 7,116% untuk tenor 10 tahun, di level 7,482% untuk tenor 15 tahun dan di level 7,670% untuk tenor 20 tahun. 

Sementara itu dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, imbal hasil dari INDO24 mengalami penurunan sebesar 0,4 bps di level 2,863% dan INDO29 mengalami penurunan sebesar 2 bps di level 3,212% setelah mengalami kenaikan harga masing - masing sebesar 2 bps dan 18 bps. Adapun imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 keduanya mengalami penurunan sebesar 1 bps masing-masing di level 4,265% dan 4,138% setelah mengalami kenaikan harga berkisar antara 7 - 10 bps. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan akhir pekan kemarin terlihat mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan pada perdagangan di hari Jumat, namun masih terlihat cukup aktif dengan volume sebesar Rp10,99 triliun dari 38 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan, dengan volume seri acuan yang dilaporkan senilai Rp6,74 triliun. Obligasi Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,11 triliun dari 63 kali transaksi di harga rata - rata 107,05% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp2,24 triliun dari 85 kali transaksi di harga rata - rata 107,98%. Sementara itu, untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan volume terbesar didapati pada Project Based Sukuk dengan seri PBS014 yaitu senilai Rp630,00 miliar dari 7 kali transaksi dan diikuti seri PBS019 dengan volume sebesar Rp285,00 miliar dengan 11 kali perdagangan.

Dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan obligasi korporasi senilai Rp2,08 triliun dari 35 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.  Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap II Tahun 2017 Seri B (BBRI02BCN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp402,00  miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 100,73%. Diikuti oleh seri Obligasi Indofood Sukses Makmur VIII Tahun 2017 (INDF08) Rp320,00  miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 103,08% 

Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup menguat sebesar 23,00 pts pada level 13938,00 per dollar Amerika yang bergerak menguat selama sesi perdagangan. Pergerakan nilai tukar Rupiah bergerak pada kisaran 13893,00 hingga 13928,00 per dollar Amerika. Penguatan nilai tukar rupiah tersebut terjadi seiring dengan menguatnya sebagian besar mata uang regional terhadap dollar Amerika. Adapun yang memimpin penguatan mata uang regional didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,37% yang diikuti oleh penguatan Baht Thailand (THB) dan Rupee India masing-masing sebesar 0,31% dan 0,20%. Sementara itu, mata uang regional yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,32% dan diikuti oleh pelemahan Peso Filipina (PHP) dan Dollar Singapura (SGD) masing-masing sebesar 0,17% dan 0,16% terhadap dollar Amerika.

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan cenderung bergerak bervariasi dengan arah pergerakan yang cenderung mendatar yang disebabkan oleh adanya lelang Surat Berharga Syariah Negara yang akan diselenggarakan besok sehingga para pelaku pasar lebih menahan diri untuk bertransaksi di pasar sekunder. Selain itu, dari sisi eksternal, para pelaku pasar juga mengamati  perkembangan hubungan antara Iran dan Inggris. Memanasnya hubungan kedua negara dipicu setelah Iran menangkap kapal tanker Inggris. Kondisi tersebut akan memberikan sentimen negatif ke pasar keuangan global, termasuk Indonesia. 

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun terlihat mengalami kenaikan di level 2,055% sementara itu imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 30 tahun ditutup mengalami penurunan pada level 2,58%. Adapun untuk imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun ditutup turun pada level –0,324% dan pada tenor 30 tahun turun di level 0,047%. Adapun imbal hasil dari surat utang Inggris (Gilt) mengalami kenaikan pada level 0,737% untuk tenor 10 tahun. 

Rekomendasi
Dengan kombinasi dari beberapa faktor tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Strategi trading masih kami sarankan di tengah kondisi pasar surat utang yang masih akan bergerak berfluktuasi seiring dengan kondisi yang terjadi di pasar keuangan global dengan pilihan masih pada tenor pendek dan panjang seperti seri FR0031, FR0053, FR0061, FR0070, FR0056, FR0059, FR0078, FR0058 dan FR0068.
 
Pada sepekan kedepan terdapat tiga surat utang yang akan jatuh tempo senilai Rp1,43 triliun.     

 

Back Download PDF
Copyright © 2020 MNC Sekuritas. All Right Reserved.