RESEARCH

Fixed Income Notes

23 Agustus 2019

Fixed Income Notes 23 Agustus 2019

Pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin, hari Kamis, tanggal 22 Agustus 2019 bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan ditengah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat adanya sentimen dari dalam maupun luar negeri.
 
Perubahan tingkat imbal hasil berkisar antara 1 - 10 bps dengan rata - rata mengalami penurunan sebesar 3 bps dimana penurunan imbal hasil Surat Utang Negara yang cukup besar terjadi pada Surat Utang Negara dengan tenor menengah.

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4tahun) bergerak bervariasi dimana untuk tenor 1 - 2 tahun mengalami penurunan imbal hasil yang berkisar antara 1 - 4 bps sementara itu pada tenor 3 - 4 tahun mengalami kenaikan hingga 1,4 bps dengan didorong oleh adanya perubahan harga hingga sebesar 2 bps. Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan berkisar antara 1 - 6 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan berkisar antara 3 bps hingga 28,5 bps. Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) juga bergerak dengan kecenderungan mengalami rata-rata penurunan sebesar 3 bps dengan didorong oleh adanya rata-rata kenaikan harga hingga sebesar 106 bps. 

Pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin juga dipengaruhi oleh sentimen eksternal dimana para pelaku pasar masih khawatir terhadap memanasnya hubungan perang dagang antara Amerika dan China sehingga berakibat turunnya aktivitas pergerakan komoditas dan aktivitas ekonomi diantara keduanya. Sejauh ini, Amerika telah mengenakan tarif masuk baru bagi produk impor asal China sebesar USD250 miliar dan China membalas dengan mengenakan tarif masuk barang impor Amerika senilai USD110 miliar. Hanya saja, Amerika menunda pengenaan tarif impor balasan hingga pertengahan Desember 2019. 

Sementara itu, dari dalam negeri, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berakhir pada hari Kamis kemarin memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7- day RR Rate) pada level 5,50%, dengan suku bunga Deposit Facility turun sebesar 4,75% dan Lending Facility turun sebesar 6,25%. Keputusan menurunkan suku bunga tersebut terjadi ditengah terjaganya tingkat inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ditengah ketidakpastian keuangan global dan stabilitas eksternal yang terkendali. Hasil dari Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia tersebut berpengaruh terhadap pasar surat utang. Adanya penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang tak terprediksi oleh pelaku pasar mengakibatkan para pelaku pasar memanfaatkan momentum tersebut dengan aksi beli di pasar sekunder sehingga mengakibatkan penurunan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara. 

Secara keseluruhan, penurunan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin telah mendorong imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan turun pada posisi 6,617% (6 bps) untuk tenor 5 tahun, di posisi 7,221% (4 bps) untuk tenor 10 tahun, di posisi 7,627% (8 bps) untuk tenor 15 tahun dan di posisi 7,730% (2 bps) untuk tenor 20 tahun. 

Penurunan imbal hasil pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika terjadi ditengah kenaikan imbal hasil dari US Treasury. Imbal hasil dari INDO24 ditutup turun sebesar 0,4 bps di level 2,704% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 2 bps. Adapun imbal hasil dari INDO29 dan INDO44 mengalami juga penurunan yaitu masing - masing sebesar 2,5 bps di level 3,008% dan 3,902% didorong oleh adanya kenaikan harga sebesar 22 bps dan 51 bps. Sementara itu, untuk seri INDO49 mengalami penurunan imbal hasil sebesar 2,1 bps yang diakibatkan dari kenaikan harga sebesar 44 bps.

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin menunjukkan adanya penurunan dibandingan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp13,34 triliun dari 43 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan dimana untuk seri acuan, volume perdagangan yang dilaporkan mencapai Rp5,61 triliun. Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,14 triliun dari 69 kali transaksi di harga rata - rata 107,13% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0082 senilai Rp2,02 triliun dari 97 kali transaksi di harga rata - rata 99,40%. 

Adapun dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp923,5 miliar dari 47 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap V Tahun 2019 Seri B (BEXI04BCN5) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp176 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,05% dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan III Indosat Tahap II Tahun 2019 Seri A (ISAT03ACN2) senilai Rp110 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 100,70%. 

Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup menguat terbatas sebesar 4,00 pts (0,02%) pada level 14235,00 per dollar Amerika. Dibuka dengan mengalami penguatan kemudian sempat melemah di pertengahan sesi dan kembali menguat terbatas hingga akhir sesi perdagangan yang bergerak pada kisaran 14228,00 hingga 14250,00 per dollar Amerika, penguatan nilai tukar rupiah tersebut terjadi di tengah mayoritas pelemahan mata uang regional terhadap dollar Amerika seiring dengan penguatan nilai tukar dollar Amerika terhadap mata uang utama dunia. Mata uang Yen Jepang (JPY) memimpin penguatan mata uang regional terhadap dollar Amerika sebesar 0,15% yang diikuti oleh Peso Filipina (PHP) dan Rupiah Indonesia (IDR) masing-masing sebesar 0,08% dan 0,02%. Adapun yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,41%.

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara berpeluang untuk mengalami penguatan namun dibatasi oleh kembali naiknya imbal hasil dari US Treasury. Imbal hasil dari US Treasury pada perdagangan hari Kamis kembali ditutup dengan mengalami kenaikan terbatas setelah sempat mengalami penurunan. Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun pada perdagangan kemarin ditutup naik pada level 1,616% begitu pula dengan tenor 30 tahun yang ditutup naik pada level 2,105%. Adapun imbal hasil dari surat utang Inggris (gilt) dengan tenor 10 tahun juga ditutup naik pada level 0,519%, sedangkan surat utang Jerman ditutup turun pada level –0,641%. Adanya kenaikan imbal hasil pada sebagian besar surat utang tersebut kami perkirakan juga akan mendorong harga tertekan terhadap pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika pada perdagangan hari ini, terlebih setelah mengalami kenaikan harga pada perdagangan kemarin. 

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut, kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan melakukan strategi trading memanfaatkan momentum perubahan harga. Beberapa seri yang masih cukup menarik adalah seri FR0053, FR0061, FR0063, FR0070, FR0056, FR0059, FR0064, FR0071, FR0073. 
 
Pekan depan pemerintah akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada hari Selasa, tanggal 27 Agustus 2019 dengan seri SPN03191128 (New Issuance), SPN12200508 (Reopening), FR0081 (Reopening), FR0082 (Reopening), FR0080 (Reopening), FR0079 (Reopening), FR0076 (Reopening). 

Back Download PDF