Beranda

RESEARCH

Fixed Income Notes

23 Juli 2019

Fixed Income Notes 23 Juli 2019

Pada perdagangan awal pekan ini, hari Senin, tanggal 22 Juli 2019, harga Surat Berharga Negara bergerak dengan  kecenderungan mengalami penurunan ditengah adanya beberapa sentimen global.

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin mengalami penurunan hingga mencapai 72,5 bps, sehingga mendorong terjadinya kenaikan rata-rata tingkat imbal hasil sebesar 4 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara bertenor pendek (1-4 tahun) didapati penurunan harga berkisar antara 1 bps hingga 17 bps yang menyebabkan turunnya tingkat imbal hasil berkisar antara 1 bps hingga 5 bps. Sementara itu, Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan harga  hingga 65 bps yang berdampak pada kenaikan tingkat imbal hasil yang berkisar antara 2,5 bps hingga 11 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor panjang (diatas 7 tahun) mengalami penurunan harga dengan rata-rata penurunan sebesar 29 bps yang menyebabkan naiknya rata-rata tingkat imbal hasil sebesar 3,4 bps.  

Pada perdagangan awal pekan ini, hari Senin, tanggal 22 Juli 2019, harga Surat Utang Negara bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan ditengah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Koreksi yang terjadi lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal dimana para pelaku pasar menantikan potensi penurunan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika pada akhir bulan ini serta adanya sentimen dari Inggris setelah mundurnya salah seorang menteri  negara untuk bagian Eropa dan Amerika, Sir Alan Duncan. Mundurnya Duncan akan membawa kekhawatiran bagi para pelaku pasar akan berhasilnya Brexit ditengah Perdana Menteri yang baru, Boris Johnson.  

Sementara itu, para pelaku pasar nampaknya lebih menahan diri ditengah jelang diselenggarakannya lelang Sukuk Negara pada hari ini, hal ini terindikasi dari menurunnya volume pada perdagangan kemarin. Pada kuartal III tahun 2019 pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Berharga Negara melalui lelang senilai Rp185 triliun dari 7 kali lelang Surat Utang Negara dan 6 kali lelang Sukuk Negara. Pada lelang sebelumnya, pemerintah meraup dana senilai Rp8,00 triliun dari total penawaran yang masuk senilai Rp36,43 triliun.

Secara keseluruhan, koreksi harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin telah mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasil pada Surat Utang Negara seri acuan. Adapun untuk tenor 5 tahun mengalami kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 6,1 bps di level 6,553% sedangkan untuk tenor 10 tahun dan 15 tahun mengalami kenaikan tingkat imbal hasil masing-maisng sebesar 5,7 bps dan 2,4 bps di level 7,175% dan 7,506%. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 20 tahun didapati kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 3,8 bps di level 7,710%.

Sementara itu dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi dollar Amerika, juga mengalami perubahan tingkat imbal hasil dengan kecenderungan mengalami penurunan yang seiring dengan penurunan imbal hasil surat utang global. Imbal hasil dari INDO24 ditutup turun terbatas dibawah 1 bps di level 2,858%. Sementara itu, imbal hasil dari INDO29 ditutup dengan mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 2 bps di level 3,195% dan untuk tingkat imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 0,5 bps di level 4,260% dan 0,4 bps di level 4,134%.

Volume perdagangan Obligasi Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin lebih kecil daripada perdagangan sebelumnya yaitu senilai Rp9,29 triliun dari 36 seri Obligasi Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp4,16 triliun. Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,81 triliun dari 82 kali transaksi di harga rata - rata 107,75% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0077 senilai Rp1,26 triliun dari 46 kali transaksi di harga rata - rata 106,41%. Sementara itu, Project Based Sukuk seri PBS015 menjadi Surat Berharga Syariah Negara terbesar yaitu sebesar Rp546,00 miliar dari 6 kali transaksi dan diikuti oleh seri PBS014 sebesar Rp520,00 miliar dari 12 kali transaksi. Adapun volume dari Sukuk Negara Ritel seri SR011 sebesar Rp61,67 miliar untuk 39 kali perdagangan.

Sementara itu dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya senilai Rp563,84 miliar dari 31 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap V Tahun 2019 Seri A (BEXI04ACN5) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp112,00 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata-rata 100,03% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi PLN VIII Tahun 2006 Seri B (PPLN08B) senilai Rp108,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 111,03% yang kemudian diiringi dengan Obligasi Berkelanjutan II Pegadaian Tahap I Tahun 2013 Seri D (PPGD02DCN1) sebesar Rp80,00 miliar untuk 3 kali transaksi di harga rata-rata 100,80%.

Adapun nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup melemah sebesar 9,00 pts (0,06%) di posisi 13946,00 per Dollar Amerika setelah bergerak mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan. Nilai tukar Rupiah tersebut bergerak pada kisaran 13942,00 hingga 13968,00 per dollar Amerika. Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut terjadi seiring dengan melemahnya sebagian besar nilai mata uang regional. Adapun mata uang yang memimpin penguatan mata uang regional yaitu mata uang Dollar Singapura (SGD)  sebesar 0,06% dan diikuti oleh penguatan mata uang Renminbi China (CNY) sebesar 0,03%. Sedangkan untuk mata uang yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,33% terhadap Dollar Amerika dan diikuti oleh mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,20%. 

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan terutama pada Surat Utang Negara dengan tenor panjang. Hal ini seiring dengan para pelaku pasar yang cenderung menahan diri terhadap sentimen-sentimen yang terjadi pada pasar global, seperti suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, harga minyak yang mulai bergerak fluktuatif sejak beberapa hari lalu, serta diselenggarakannya lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada hari ini.

Sementara itu, dari faktor eksternal, tingkat imbal hasil dari US Treasury ditutup dengan mengalami kenaikan. Tingkat imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup naik di level 2,057% seiring dengan tenor 30 tahun yang juga ikut ditutup naik pada level 2,579%. Kenaikan imbal hasil US Treasury tersebut juga diikuti oleh perubahan pada indeks saham utamanya dimana indeks NASDAQ terpantau naik sebesar 58 bps di level 8204,14 dan untuk indeks DJIA mengalami juga kenaikan sebesar 17,7 bps di level 27171,90. Adapun untuk imbal hasil dari surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan pada level 0,717%. Sementara itu, imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) bertenor 10 tahun ditutup naik di level –0,34% dan yang bertenor 30 tahun berada di level 0,249%.

Rekomendasi
Dengan beberapa faktor pertimbangan di atas, harga Surat Utang Negara masih akan bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan dalam jangka pendek, maka kami masih menyarankan Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah sebagai pilihan investasi. Selain itu, kami juga tetap menyarankan kepada investor untuk mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan fokus pada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0031, FR0053, FR0061, FR0063, FR0070, FR0056, FR0059 dan FR0071.

Rencana Lelang Surat Berharga Syariah Negara atau Sukuk Negara seri SPN-S 10012020 (Reopening), PBS014 (Reopening), PBS019 (Reopening), PBS021 (Reopening), PBS022 (Reopening) dan PBS015 (Reopening) pada hari Selasa tanggal 23 Juli 2019.

Back Download PDF
Copyright © 2020 MNC Sekuritas. All Right Reserved.