Beranda

RESEARCH

Fixed Income Notes

26 Juli 2019

Fixed Income Notes 26 Juli 2019

Pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Kamis, 25 Juli 2019 bergerak dengan kecenderungan  mengalami kenaikan di tengah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat adanya sentimen dari dalam negeri maupun luar negeri.
 
Perubahan tingkat imbal hasil relatif terbatas, berkisar antara 1 - 6 bps dimana pada keseluruhan tenor hasilnya mengalami kenaikan. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami penurunan sebesar 3 bps yang didorong adanya rata-rata kenaikan harga sebesar 1,4 bps. Adapun tingkat imbal hasil untuk Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan berkisar antara 1 - 5,8 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga hingga sebesar 25 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) juga mengalami penurunan hingga sebesar 6 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga hingga sebesar 47 bps. 

Penurunan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin turut didorong oleh naiknya harga Surat Utang Negara ditengah pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang cenderung menguat. Kenaikan harga Surat Utang Negara tersebut turut dipengaruhi oleh sentimen global dimana sebagian besar pergerakan imbal hasil surat utang global juga cenderung mengalami penurunan sebagai dampak menjelang dirilisnya suku bunga acuan dari Bank Sentral Amerika, The Fed dimana para pelaku pasar semakin optimis terhadap penurunan suku bunganya. Sementara itu, sentimen dari dalam negeri, para pelaku pasar juga menantikan dilaksanakannya lelang Surat Utang Negara pada hari Selasa, tanggal 30 Juli 2019, dimana akan terdapat seri baru yang ditawarkan, yaitu seri FR0081 dan FR0082.

Secara keseluruhan, perdagangan kemarin telah mendorong penurunan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun masing - masing sebesar 6 bps di level 6,586% dan 7,172%. Adapun untuk tenor 15 tahun dan 20 tahun masing - masing mengalami penurunan sebesar 4 bps pada level 7,566% dan 7,725%. 

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, pergerakan imbal hasilnya mengalami penurunan di tengah pergerakan imbal hasil dari US Treasury yang juga cenderung mengalami penurunan. Imbal hasil dari INDO24, INDO29, dan INDO44 masng - masing mengalami penurunan sekitar 3-4 bps di level 2,794%; 3,147%; dan 4,214% setelah didorong oleh adanya kenaikan harga yang berkisar antara 12 - 48 bps. Adapun imbal hasil dari INDO49 juga terlihat mengalami penurunan sebesar 2,5 bps di level 4,089% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 49 bps. Pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika turut dipengaruhi oleh pelaku pasar yang semakin optimis terhadap ekspektasi penurunan suku bunga acuan dalam pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika pada akhir bulan ini. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp23,53 triliun dari 36 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan mencapai Rp9,19 triliun. Obligasi Negara seri FR0075 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp5,18 triliun dari 133 kali transaksi di harga rata - rata 98,93% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0077 senilai Rp3,98 triliun dari 51 kali transaksi di harga rata - rata 106,21%. Adapun untuk Surat Berharga Syariah Negara, volume terbesar didapati pada Project Based Sukuk seri PBS014 sebesar Rp949,46 miliar untuk 3 kali perdagangan dan diikuti oleh seri PBS015 dengan volume sebesar Rp250,00 miliar dari 9 kali transaksi.

Dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,10 triliun dari 41 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan III PNM Tahap I Tahun 2019 Seri A (PNMP03ACN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp255,00 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 100,05% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I PP Properti Tahap III Tahun 2019 (PPRO01CN3) senilai Rp200,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,00%. Adapun untuk seri Obligasi II Tridomain Performance Materials Tahun 2019 (TDPM02) didapati volume perdagangan sebesar Rp200,00 miliar dari 6 kali transaksi.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup pada level 13977,00 per dollar Amerika, mengalami penguatan sebesar 20,00 pts (0,14%) dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya setelah bergerak pada kisaran 13975,00 hingga 13992,00 per dollar Amerika. Penguatan nilai tukar rupiah tersebut terjadi di saat mata uang regional bergerak dengan arah yang bervariasi terhadap dollar Amerika, dimana penguatan mata uang regional dipimpin oleh Rupiah Indonesia (IDR) dan Peso Filipina (PHP) yang keduanya sebesar 0,14% dan diikuti oleh Yen Jepang (JPY) sebesar 0,10% dan Ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,06%. Sedangkan pelemahan terbesar didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,30% dan diiringi dengan pelemahan mata uang Dollar Singapura (SGD) sebesar 0,06% dan Rupee India (INR) sebesar 0,05% terhadap Dollar Amerika. 

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan berpeluang mengalami kenaikan dimana para pelaku pasar semakin optimis terhadap sentimen penurunan suku bunga acuan jelang FOMC Meeting pada akhir bulan ini. Para pelaku pasar cenderung mengambil posisi terhadap aset yang lebih berisiko dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Bertambahnya investor asing untuk melakukan akumulasi pembelian Surat Utang Negara juga akan menambah katalis positif di pasar Surat Utang Negara.
 
Imbal hasil dai US Treasury dengan tenor 10 tahun pada perdagangan kemarin ditutup turun terbatas di level 2,072% begitu pula dengan tenor 30 tahun yang turun pada kisaran 2,601%. Adapun imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dan Inggris (Gilt) juga terlihat mengalami penurunan masing - masing di level -0,37% dan 0,698%. Hal tersebut kami perkirakan akan berdampak positif terhadap pergerakan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika pada perdagangan hari ini. 

Rekomendasi
Dengan kombinasi dari beberapa faktor tersebut, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara. Peluang kenaikan harga di pasar sekunder dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan strategi trading dengan pilihan masih pada Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah seperti seri FR0061, FR0070, FR0077, FR0059, FR0064, FR0071. dan FR0058.
 
Pekan depan pemerintah akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada hari Selasa, tanggal 30 Juli 2019 dengan seri SPN03191031 (New Issuance), SPN12200410 (Reopening), FR0081 (New Issuance), FR0082 (New Issuance), FR0080 (Reopening), FR0079 (Reopening), FR0076 (Reopening).     

Back Download PDF
Copyright © 2020 MNC Sekuritas. All Right Reserved.