RESEARCH

Monthly Highlight

16 Oktober 2018

Weekly Analysis 15 - 19 Oktober 2018

Secara week-on-week, IHSG telah menguat sebesar 0.43 persen ke 5,731.9. Sebagai informasi tambahan, IMF memprediksi pertumbuhan PDB riil Indonesia hanya sebesar 5.1% pada 2018 dan 2019, lebih rendah dibandingkan dengan asumsi Pemerintah pada APBN yaitu sebesar 5.4 dan 5.2% masing-masing pada 2018 dan 2019. IMF bahkan menurunkan juga perkiraan pertumbuhan PDB riili global menjadi 3.7% pada 2018 dan 2019. Meningkatnya ketidakpastian kebijakan melatarbelakangi melemahnya data perekonomian dan pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih moderat. Ketidakpastian dalam perdagangan dunia mengemuka seiring penerapan/ancaman sanksi dagang AS terhadap mitra dagangnya, termasuk Tiongkok dan respons balasannya. Selain itu, melemahnya konsultasi multilateral dalam isu perdagangan. Secara technical analysis, faktor eskternal negatif masih membayangi pergerakan IHSG. Dalam jangka menengah, IHSG masih berada dalam pola downtrend. Jika break pada 5691 sebagai support level terkuat, maka kemungkinan IHSG akan melamah lebih dalam. Kami perkirakan IHSG akan bergerak dalam range 5,668-5,784.

Wall Street dalam sepekan bergerak melemah sebesar –1,107 atau  –4.19 persen di level 25,340. Pelemahan Wall Street pekan lalu seiring US treasury yields meningkat ke level 7 tahun tertinggi, akibat siklus ekonomi US berlanjut menunjukkan ekspansi dan kekhawatiran  terhadap perselisihan dagang antara US-China.

Bursa Asia mayoritas mengalami pelemahan. China sedang menghadapi depresiasi pada Yuan. Demi menjaga stabilitas nilai tukar Yuan dan meningkatkan likuiditas, PBOC, bank sentral China, telah sebanyak empat kali dalam tahun ini kembali memotong reserve ratio untuk para lenders. Pemotongan tersebut mencapai USD 175bn. Harga komoditas bergerak mixed. Penguatan terjadi pada harga  copper sebesar +1.81 persen atau di level 2.81. Perlemah terjadi pada harga copper sebesar –4.04 persen di level 71.3.

 

Back Download PDF