RESEARCH

RESEARCH

01 Februari 2019

Fixed Income Notes 01 Februari 2019

Harga Surat Utang Negara pada akhir bulan Januari 2019 ditutup dengan arah pergerakan yang positif, didorong oleh penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika dan hasil dari FOMC Meeting yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya.
 
Menutup perdagangan di bulan Januari 2019, kenaikan harga yang terjadi pada sebagian seri Surat Utang Negara mencapai 125 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 16 bps. Sementara itu, Surat Utang Negara seri acuan pergerakan harganya juga mengalami kenaikan pada beberapa seri, diantaranya ialah Surat Utang Negara seri acuan bertenor 5 tahun yang mengalami perubahan harga sebesar 59 bps mengakibatkan terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 14 bps di level 7,824%. Selanjutnya, Surat Utang Negara dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan harga sebesar 92 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 13 bps di level 7,997%. Namun, untuk Surat Utang Negara yang bertenor 15 tahun mengalami penurunan harga yang terbatas sebesar 2 bps yang mendukung terjadinya kenaikan tingkat imbal hasil yang terbatas dibawah 1 bps pada level 8,476%. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan bertenor 20 tahun mengalami kenaikan harga sebesar 78 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 8 bps yang berada pada level 8,462%.
 
Penguatan harga Surat Utang Negara pada perdagangan di akhir bulan Januari 2019 masih dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika. Menguatnya Rupiah pada perdagangan kemarin didorong oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Adapun dari faktor internal, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir tahun 2018 cukup kuat, didukung oleh konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah. Selain itu, investor asing juga membeli 1,04 miliar saham Indonesia pada hari Rabu kemarin. Hal ini merupakan volume pembelian terbesar sejak April 2015. Adapun dari faktor eksternal adalah berakhirnya FOMC Meeting yang menetapkan suku bunga acuannya tetap berada pada level 2,25% - 2,50%, sama pada periode sebelumnya.
 
Harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika mengalami kecenderungan penurunan ditengah harga US Treasury yang bergerak cenderung mengalami koreksi dan membaiknya persepsi risiko di tengah gejolak yang terjadi di pasar keuangan global. Perubahan harga terjadi pada keseluruhan seri Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika. Harga INDO24 mengalami kenaikan sebesar 52 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 11 bps. Sementara itu untuk INDO29 dan INDO44 mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 110 bps dan 152 bps yang mengakibatkan penurunan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 13,2 bps dan 9,1 bps. Adapun untuk INDO49 mengalami perubahan harga tertinggi sebesar 166,20 yang mengakibatkan menurunnya tingkat imbal hasil sebesar 10,1 bps.
 
Sementara itu, volume Surat Berharga Negara yang dilaporkan mengalami kenaikan volume yang signifikan dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya yaitu senilai Rp32,23 triliun dari 55 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada Surat Berharga Negara seri FR0070 senilai Rp5,595 triliun dari 47 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Surat Berharga Negara seri FR0078 dan FR0077 masing-masing senilai Rp4,579 triliun sebanyak 186 kali transaksi dan Rp4,101 triliun dari 139 kali transaksi. Adapun untuk Sukuk Negara perdagangan terbesar didapati dari Project Based Sukuk seri PBS013 senilai Rp398,71 miliar dari 8 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Sukuk Negara Ritel seri SR008 dengan nilai Rp377,22 miliar sebanyak 13 kali transaksi.
 
Sementara itu, dari perdagangan surat utang korporasi, volume yang dilaporkan mencapai Rp530,32 miliar dari 36 seri, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan II Bank Sulselbar Tahap I Tahun 2018 (BSSB02ACN1) dengan nilai Rp88,00 miliar dari 9 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Maybank Finance Tahap III Tahun 2016 (BIIF01BCN3) senilai Rp40,00 miliar dari 4 kali transaksi. Adapun untuk volume obligasi korporasi sebesar Rp38,00 miliar dari 1 kali transaksi didapati pada Obligasi Berkelanjutan I Bank UOB Indonesia Tahap I Tahun 2016 Seri B (BBIA01BCN1). Selanjutnya Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap III Tahun 2015 Seri C (ISAT01CCN3) didapati volume senilai Rp29,00 miliar dari 4 kali transaksi. Obligasi korporasi syariah, Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Adira Finance Tahap III Tahun 2019 Seri A (SMADMF03ACN3) menempati sebagai obligasi korporasi syarian dengan volume tertinggi senilai Rp26,00 miliar dari 1 kali transaksi di harga 100,7%.
 
Nilai tukar Rupiah pada perdagangan hari Kamis, 31 Januari 2019 ditutup menguat sebesar 158,50 pts (1,12%) pada level Rp13972,50 per Dollar Amerika setelah FOMC Meeting memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan serta akan bersabar dalam menentukan kebijakan moneternya. Adapun nilai tukar Rupiah sepanjang sesi perdagangan mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika, bergerak pada kisaran 13967,50 hingga 14079,00  per Dollar Amerika. Nilai tukar Rupiah  yang menguat ini terjadi ditengah penguatan sebagian besar nilai mata uang regional. Mata uang Rupiah Indonesia (IDR) mengalami penguatan tertinggi diantara mata uang regional lainnya sebesar 1,12% dan diiringi dengan mata uang Baht Thailand (THB) dan mata uang Peso Filipina (PHP) masing-masing sebesar 0,50% dan 0,48%. Selanjutnya mata uang Yen Jepang (JPY) mengalami penguatan sebesar 0,44% yang diikuti oleh mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,33%. Adapun untuk mata uang Dollar Hongkong (HKD) dan mata uang Rupee India (INR) mengalami pelemahan mata uang masing-masing sebesar 0,04% dan 0,01% terhadap Dollar Amerika. 
 
Adapun imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun ditutup dengan kondisi mengalami pelemahan sebesar 180 bps berada pada level 2,63%, diikuti dengan penurunan yang terjadi pada imbal hasil US Treasury dengan tenor 30 tahun yang ditutup melemah di level 3,00%. Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat mengalami arah perubahan yang bervariasi dimana indeks indeks DJIA melemah sebesar 6 bps di level 24999,67 sedangkan indeks NASDAQ ditutup dengan kondisi mengalami penguatan sebesar 137 bps di level 7281,74. Adapun untuk imbal hasil surat utang Inggris (GILT) bertenor 10 tahun mengalami penguatan terbatas sehingga berada pada level 1,221%. Sedangkan, untuk surat utang Jerman (BUND) bertenor 10 tahun mengalami arah pergerakan yang terkoreksi pada level 0,146%.
 
Di bulan Januari, pasar Surat Utang Negara mencatatkan kinerja positif yang tercermin pada penurunan tingkat imbal hasil yang didorong oleh masuknya  investor asing dari pasar Surat Berharga Negara seiring dengan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara berpeluang mengalami kenaikan setelah pengumuman suku bunga acuan Amerika Serikat yang tetap berada di level 2,25%-2,50%.
 
Rekomendasi Dengan pertimbangan beberapa faktor di atas kami menyarankan kepada investor untuk mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder ditengah berakhirnya FOMC Meeting yang menetapkan suku bunga acuannya yang tetap berada pada level 2,25%-2,50%, dimana arah pergerakan harga Surat Utang Negara masih akan dipengaruhi oleh arah pergerakan nilai tukar Rupiah. Beberapa seri yang kami lihat cukup menarik di tengah kondisi pasar saat ini, yaitu : FR0057, FR0068, FR0068, FR0079, FR0053 dan FR0071.

Download PDF