RESEARCH

RESEARCH

03 Januari 2019

Fixed Income Notes 03 Januari 2019

  • Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan perdana di tahun 2019 bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. 
  • Perubahan tingkat imbal hasil berkisar antara 1 hingga 9 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan sebesar 2,4 bps dimana kenaikan imbal hasil yang cukup besar didapati pada Surat Utang Negara dengan tenor di bawah 15 tahun. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami kenaikan berkisar natara 1 bps hingga 9 bps dengan didorong oleh adanya penurunan harga hingga sebesar 17 bps. Adapun Surat Utang Negara dengan tenor menengah terlihat mengalami kenaikan imbal hasil hingga sebesar 2,5 bps yang didorong oleh adanya penurunan harga hingga 10 bps. Sementara itu Surat Utang Negara dengan tenor panjang terlihat mengalami kenaikan tingkat imbal hasil hingga sebesar 6,5 bps di tengah penurunan harga Surat Utang Negara hingga sebesar 50 bps. Dari seri acuan, kenaikan imbal hasil yang terjadi hingga sebesar 3 bps dimana untuk seri acuan dengan tenor 5 tahun mengalami kenaikan sebesar 2,5 bps di level 7,88% dan untuk tenor 10 tahun mengalami kenaikan sebesar 7,975%. Sedangkan seri acuan dengan tenor 20 tahun terlihat mengalami kenaikan sebesar 1,5 bps di level 8,398% dan tenor 15 tahun relatif tidak banyak mengalami perubahan imbal hasil di level 8,295%.
  • Pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara yang cenderung mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin didorong oleh kembali melemahnya pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara yang akan diadakan pada hari ini. Menjelang lelang, harga Surat Utang Negara cenderung mengalami penurunan dikarenakan pelaku pasar yang berharap untuk mendapatkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi pada saat pelaksaan lelang. Namun demikian, penurunan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin tidak didukung oleh volume perdagangan yang cukup besar, mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih belum sepenuhnya aktif di pasar sekunder setelah libur di awal pekan. Selain faktor pelemahan nilai tukar Rupiah, koreksi harga juga didorong oleh faktor meningkatnya persepsi risiko yang tercermin pada kenaikan angka Credit Default Swap (CDS). 
  • Sementara itu dari data inflasi yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada bulan Desember 2018 terjadi inflasi sebesar 0,62% dengan inflasi tahunan (YoY) sebesar 3,13%. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 1,45%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,22%; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,13%; kelompok sandang sebesar 0,08%; kelompok kesehatan sebesar 0,20 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,10%; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,28%. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Desember 2018, antara lain: tarif angkutan udara, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah, beras, tarif kereta api, ikan segar, ikan diawetkan, bayam, tomat sayur, wortel, jeruk, cabai rawit, air kemasan, rokok kretek filter, dan tarif angkutan antar kota. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain: cabai merah dan bawang putih. Angka inflasi yang sedikit di atas estimasi tersebut tidak banyak berdampak terhadap pergerakan pasar surat utang mengingat angka inflasi secara keseluruhan masih sesuai dengan target inflasi di tahun 2018 yang berkisar antara 2,50% hingga 4,50%. 
  • Dari perdagangan surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, pergerakan harganya justru terlihat mengalami kenaikan sehingga mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil seiring dengan penurunan imbal hasil dari US Treasury. Harga dari INDO24 mengalami kenaikan hingga sebesar 13 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 3 bps di level 4,267% dan harga dari INDO44 yang mengalami kenaikan sebesar 50 bps mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasilnya sebesar 3 bps di level 5,300%. Adpaun harga dari INDO29 tidak banyak mengalami perubahan sehingga tingkat imbal hasilnya masih berada pada level 4,558%. 
  • Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp5,82 triliun dari 31 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan mencapai Rp1,256 triliun. Obligasi Negara seri FR0064 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp990,00 miliar dari 23 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0044 senilai Rp600,00 miliar dari 2 kali transaksi. Sementara itu Project Based Sukuk seri PBS019 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp275,00 miliar dari 1 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan PBS014 senilai Rp205,00 miliar juga dari 1 kali transaksi.
  • Sementara itu dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,40 triliun dari 42 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan III WOM Finance Tahap I Tahun 2018 Seri A (WOMF03ACN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp303,00 miliar dari 15 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi II Bussan Auto Finance Tahun 2018 Seri A (BAFI02A) senilai Rp200,00 miliar dari 2 kali transaksi. Adapun Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank Maybank Indonesia Tahap II Tahun 2016 (SMBNII01CN2) menjadi sukuk korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp40,00 miliar dari 4 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II XL Axiata Tahap I Tahun 2018 Seri A (SIEXCL02ACN1) senilai Rp11,00 miliar juga dari 4 kali transaksi.
  • Mengawali perdagangan di tahun 2019, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditutup dengan pelemahan sebesar 67,50 pts (0,47%) di level 14457,50 per Dollar Amerika. Bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan di kisaran 14439,00 hingga 14490,00 per Dollar Amerika, pelemahan mata unag Rupiah terjadi di tengah beragamnya arah perubahan mata uang regional terhadap Dollar Amerika. Mata uang Baht Thailand (THB) memimpin penguatan mata uang regional, sebesar 0,90% yang diikuti oleh mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,69% dan Yuan China (CNY) sebesar 0,34%. Adapun pelemahan mata uang regional dipimpin oleh mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,88% yang diikuti oleh mata uang Rupiah dan Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,29%.
  • Imbal hasil surat utang global pada perdagangan pertama di tahun 2019 ditutup dengan kecenderungan mengalami penurunan di tengah kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup turun di level 2,633% dan tenor 30 tahun ditutup turun ke level 2,963%. Sementara itu imbal hasil dari surat utang Inggris ditutup turun ke level 1,217% begitu pula imbal hasil surat utang Jerman yang ditutup turun ke level 0,162%. Imbal hasil surat utang India pada perdagangan kemarin juga ditutup dengan penurunan di level 7,356%.
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan cenderung bergerak terbatas jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara dimana pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Utang Negara senilai Rp15 triliun dari enam seri Surat Utang Negara yang ditawarkan kepada investor. Arah pergerakan harga Surat Utang Negara akan dipengaruhi oleh hasil lelang pada hari ini dimana hal tersebut akan terlihat pada pertengahan sesi perdagangan. Dari faktor eksternal, penurunan imbal hasil surat utang global akan menjadi katalis positif bagi perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika. 
  • Rekomendasi : Ditengah pelaksanaan lelang, maka kami sarankan kepada pelaku pasar untuk mencermati hasil dari lelang perdana di tahun 2019 tersebut. Pada lelang hari ini juga ditawarkan Obligasi Negara seri FR0079 yang akan menjadi seri acuan baru di tahun 2019 untuk tenor 20 tahun menggantikan seri FR0075. Bagi investor yang ingin fokus pada seri acuan, maka seri - seri berikut ini yang harus dicermati yaitu FR0077, FR0078, FR0068 dan seri baru FR0079. 
  • Rencana Lelang Surat Utang Negara seri SPN03190406 (New Issuance), SPN12200106 (New Issuance), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0068 (Reopening) dan FR0079 (New Issuance) pada hari Kamis, tanggal 3 Januari 2019.

Download PDF