RESEARCH

RESEARCH

07 November 2018

Fixed Income Notes 07 November 2018

  • Penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta hasil positif dari pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara mendorong terjadinya kenaikan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Selasa, 6 November 2018.
  • Kenaikan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin hingga mencapai 90 bps yang terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Utang Negara sehingga mendorong terjadinya penurunan imbal hasil yang berkisar antara 2 bps hingga 15 bps dengan rata - rata penurunan imbal hasil sebesar 8 bps. Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami kenaikan hinngga sebesar 20 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil yang berkisar antara 2 bps hingga 8 bps. Sementara itu pada Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami kenaikan berkisar antara 20 bps hingga 55 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga mencapai 14 bps. Adapun pada Surat Utang Negara dengan tenor panjang, kenaikan harga yang terjadi mencapai 90 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasilnya yang berkisar antara 2 bps hingga 15 bps. Kenaikan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin juga mendorong terjadinya penurunan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 14 bps di level 7,962% dan tenor 10 tahun di level 8,143%. Sedangkan untuk seri acuan dengan tenor 15 tahun mengalami penurunan imbal hasil sebesar 12 bps di level 8,457% dan yenor 20 tahun mengalami penurunan imbal hasil sebesar 11 bps di level 8,644%.
  • Pergerakan harga Surat Utang Negara yang mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin didukung oleh faktor menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika di saat mata uang regional yang cenderung tidak banyak mengalami perubahan terhadap Dollar Amerika. Penguatan nilai tukar Rupiah tersebut didukung oleh adanya perjanjian keuangan bilateral antara Bank Indonesia (BI) dan Bank Sentral Singapura (Monetary Authority of Singapore - MAS) dengan nilai setara US$10 miliar yang dilakukan pada hari Senin, 5 November 2018. Perjanjian tersebut memungkinkan kedua bank sentral mendapatkan akses likuiditas dalam valuta asing dari satu sama lain, apabila dibutuhkan, untuk menjaga stabilitas moneter dan keuangan. Selain penguatan nilai tukar Rupiah, kenaikan harga Surat Utang Negara juga didukung oleh hasil positif dari lelang penjualan Surat Utang Negara, dimana pada lelang tersebut pemerintah meraup dana senilai Rp20,0 triliun dengan total penawaran yang masuk mencapai Rp59,48 triliun. Jumlah penawaran tersebut mengalami peningkatan dibandingkan dengan jumlah penawaran lelang sebelumnya yang senilai Rp47,55 triliun yang dikuti pula oleh cukup kompetitifnya tingkat imbal hasil yang diminta oleh investor. Kenaikan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin juga didukung oleh kenaikan volume perdagangan.
  • Kenaikan harga juga didapati pada Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika didukung oleh membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS). Kenaikan harga terjadi pada hampir keseluruhan seri dengan kenaikan harga yang cukup besar didapati pada Surat Utang Negara dengan tenor di atas 7 tahun. Harga dari INDO28 dan INDO43 masing - masing mengalami kenaikan sebesar 25 bps dan 35 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan imbal hasil masing - masing sebesar 3 bps di level 4,769% dan 5,420%. Adapun harga INDO23 mengalami kenaikan kurang dari 10 bps yang menyebabkan penurunan imbal hasilnya kurang dari 1 bps di level 4,329%. 
  • Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp27,63 triliun dari 36 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangans seri acuan senilai Rp11,24 triliun. Obligasi Negara seri FR0065 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp8,88 triliun dari 63 kali transaksi di harga rata - rata 84,65% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp7,81 triliun dari 110 kali transaksi di harga rata - rata 100,01%. Sedangkan Sukuk Negara Ritel seri SR009 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,13 triliun dari 13 kali transaksi di harga rata - rata 99,39% yang diikuti oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS015 senilai Rp210,0 miliar dari 7 kali transaksi di harga rata - rata 85,95%.
  • Sementara itu dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp977,24 miliar dari 32 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap VI Tahun 2018 Seri A (SMFP04ACN6) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp189,7 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 100,02% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi I Angkasa Pura II Tahun 2016 Seri A (APIA01A) senilai Rp80,0 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 98,9%. 
  • Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditutup menguat sebesar 172,50 (1,15%) di level 14804,00 setelah bergerak pada kisaran 14790,00 hingga 14947,50 per Dollar Amerika dengan mengalami penguatan sepanjang sesi perdagangan. Pengutan nilai tukar Rupiah tersebut terjadi di tengah nilai tukar mata uang regional yang tidak banyak mengalami perubahan terhadap Dollar Amerika. Selain mata unag Rupiah, penguatan mata uang regional didapati pada mata uang Peso Philippina (PHP) yang menguat sebesar 0,37% dan Rupee India (INR) sebesar 0,17%. 
  • Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dimana pada negara - negara maju, tingkat imbal hasil surat utangnya cenderung mengalami kenaikan. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan terbatas di level 3,212% adapun untuk tenor 30 tahun justru mengalami penurunan di level 3,426% jelang pelaksanaan pemilihan umum tengah waktu (midterm election). Adapun imbal hasil dari surat utang Inggris terlihat mengalami kenaikan di level 1,539% adapun surat utang Jerman ditutup dengan posisi yang sama dengan penutupan sebelumnya yaitu di level 0,426%. Surat utang regional yang juga terlihat mengalami penurunan imbal hasil pada perdagangan kemarin adalah surat utang China di level 3,509% dan surat utang Thailand di level 2,799%.
  • Secara teknikal, kenaikan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin mendorong harga Surat Utang Negara yang semakin mendekati area jenuh beli (overbought). Selain itu, kenaikan harga yang terjadi pada beberapa hari perdagangan terakhir juga memperkuat sinyal tren kenaikan harga pada hampir keseluruhan tenor Surat Utang Negara. 
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder masih berpeluang mengalami kenaikan yang didukung oleh hasil positif dari pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara serta pergerakan nilai tukar Rupiah yang akan cenderung stabil bergerak di bawah level 15000 per Dollar Amerika. Faktor yang akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang juga akan berdampak terhadap pergerakan harga Surat Utang negara di pasar sekunder adalah data cadangan devisa bulan Oktober 2018 yang akan disampaikan oleh Bank Indonesia pada hari ini serta data Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan III 2018 yang akan disampaikan pada hari Jum'at, 9 November 2018.
  • Rekomendasi :Seiring dengan masih berlanjutnya tren kenaikan harga Surat Utang negara, maka kami menyarankan kepada investor untuk melakukan strategi trading yang memanfaatkan momentum kenaikan harga. Pelaku pasar perlu mewaspadi adanya aksi ambil untung (profit taking) oleh investor dikarenakan harga Surat Utang negara yang mulai mendekati area jenuh beli. Data ekonomi domestik yang akan disampaikan pada pekan ini akan berpotensi menjadi faktor  pergerakan harga Surat Utang negara di pasar sekunder. Beberapa seri yang kami lihat cukup menarik untuk diperdagangkan diantara adalah : *SR008, SR009, FR0053, FR0061, FR0035, FR0043, FR0070 dan FR0054. 
  • Pemerintah meraup dana senilai Rp20,0 triliun dari lelang penjualan Surat Utang Negara seri SPN03190207 (New Issuance), SPN12191107 (New Issuance), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0065 (Reopening) dan FR0075 (Reopening) pada hari Selasa, tanggal 6 November 2018.

 

Download PDF