RESEARCH

RESEARCH

11 Januari 2019

Fixed Income Notes 11 Januari 2019

  • Penguatan nilai tukar Rupiah dan indikasi The Fed akan menghentikan siklus pengetatan uang (money tightening) dapat menjadi katalis positif terjadinya penguatan harga Surat Utang pada perdagangan hari Kamis, 10 Januari 2019.
  • Kenaikan tingkat imbal hasil hingga sebesar 2 bps yang didorong oleh adanya penurunan harga Surat Utang Negara yang mencapai 16 bps tercatat pada perdagangan hari Kamis, 10 Januari 2019. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami perubahan hingga sebesar 4 bps di tengah adanya perubahan harga yang mencapai 12 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami koreksi hingga sebesar 2 bps didorong oleh adanya kenaikan harga hingga 8 bps. Sedangkan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang bergerak dengan kecenderungan mengalami koreksi hingga sebesar 3 bps didorong oleh adanya kenaikan harga yang mencapai 17 bps. Adapun dari Surat Utang Negara seri acuan, mengalami perubahan imbal hasil yang cukup bervariasi pada keseluruhan seri. Seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun mengalami penurunan imbal hasil hingga mendekati 2 bps masing - masing di level 7,812% dan 7,896%. Sementara itu untuk seri acuan dengan tenor 15 tahun dan  20 tahun mengalami kenaikan imbal hasil yang terbatas yaitu hanya dibawah 1 bps masing-masing berada pada level 8,270% dan 8,322%.
  • Perubahan harga yang cenderung mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin masih didorong oleh faktor nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika. Beberapa sentimen dari faktor eksternal seperti perkembangan negosiasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta indikasi The Fed akan menghentikan siklus pengetatan (money tightening) pada tahun ini dapat menjadi katalis positif bagi penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.
  • Seiring dengan pergerakan imbal hasil US Treasury yang menguat diperdagangan kemarin, imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika menunjukkan perubahan yang bervariasi pada hampir keseluruhan seri Surat Utang Negara. Imbal hasil dari INDO24 mengalami pelemahan sebesar 63 bps di level 4,104% didorong oleh adanya kenaikan harga hingga 3 bps. Adapun imbal hasil dari INDO29 dan INDO44 pada perdagangan kemarin ditutup dengan mengalami penguatan masing - masing sebesar 3 bps di level 4,391% dan 2 bps di level  5,101%.
  • Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp17,26 triliun dari 44 seri Surat Berharga Negara dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp4,11 triliun. Obligasi Negara seri FR0070 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,968 triliun dari 51 transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0071 senilai Rp2,55 triliun dari 23 kali transaksi. Adapun Project Based Sukuk Negara Ritel seri PBS019 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp332,00 miliar dari 10 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS016 senilai Rp300,00 miliar dari 8 kali transaksi.
  • Adapun volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan senilai Rp422 miliar dari 39 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Sukuk Sukuk Mudharabah Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry I Tahun 2018 Seri A (SMLPPI01A) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp500,00 miliar dari 2 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan Indonesia Eximbank I Tahap II Tahun 2018 Seri B (SMBEXI01BCN2) senilai Rp100,00 miliar dari 2 kali transaksi. Adapun Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap IV Tahun 2018 Seri A (BBRI02ACN4) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp60,00 miliar dari 6 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap II Tahun 2017 Seri B (ISAT02BCN2) senilai Rp60,00 miliar dari 2 kali transaksi.
  • Sementara itu nilai tukar Rupiah ditutup menguat sebesar 73,00 pts (0,51%) di level 14053 per Dollar Amerika. Nilai tukar rupiah bergerak menguat dari awal perdagangan hingga berakhirnya sesi perdagangan dan ditutup dengan mengalami penguatan pada kisaran 14027 hingga 14100 per Dollar Amerika. Penguatan nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin berhasil memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,51% diikuti oleh penguatan mata uang Yen China (CNY) dan Ringgit Malaysia (MYR) masing—masing sebesar 0,42% dan 0,37%. Adapun mata uang Rupee Indian (INR) memimpin pelemahan mata uang regional, sebesar 0,10% yang diikuti oleh Dollar Hongkong (HKD) sebesar 0,02%.
  • Adapun Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup di level 2,746% menguat sebesar 65 bps, dimana indeks saham utamanya mengalami kenaikan hingga sebesar 42 bps pada level 6986,07 (NASDAQ) dan indeks saham DJIA menguat sebesar 51 bps pada level 24001,92. Sementara itu imbal hasil surat utang Inggris dan Jerman juga terlihat mengalami penguatan, masing - masing di level 1,28% dan 0,199%. Namun, imbal hasil dari surat utang Jepang juga menunjukkan penurunan hingga ke level 0,017% didorong oleh koreksi yang terjadi di pasar sahamnya sebesar –1,29%.
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih berpeluang mengalami kenaikan ditengah katalis positif dari optimisme pelaku pasar terhadap isu perang dagang antara China dengan Amerika Serikat.
  • RekomendasiDitengah potensi kenaikan harga, maka kami menyarankan pelaku pasar untuk melakukan strategi trading jangka pendek memanfaatkan momentum kenaikan harga di pasar sekunder. Beberapa seri yang dapat dicermati pada perdagangan hari ini adalah sebagai berikut: FR0073, FR0067, FR0068, FR0075, FR0072.

 

 

 

Virus-free. www.avast.com

Area lampiran

Download PDF