RESEARCH

RESEARCH

27 Desember 2018

Fixed Income Notes 27 Desember 2018

  • Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Rabu, 26 Desember 2018 kembali bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. 
  • Setelah libur perdagangan di hari Senin dan Selasa, pada perdagangan kemarin imbal hasil Surat Utang Negara mengalami perubahan hingga sebesar 7 bps didorong oleh adanya perubahan harga Surat Utang Negara yang mencapai 40 bps. Surat Utang Negara dengan tenor pendek cenderung mengalami kenaikan imbal hasil hingga sebesar 7 bps didorong oleh adanya koreksi harga yang mencapai 15 bps. Sementara itu imbal hasil dari Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami kenaikan hingga sebesar 4 bps didorong oleh adanya penurunan harga yang hingga sebesar 15 bps. Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan imbal hasil mencapai 4 bps didorong oleh adanya perubahan harga yang sebesar 40 bps. Sementara itu dari pergerakan imbal hasil seri acuan, kenaikan imbal hasil yang terjadi berkisar antara 1,6 bps hingga 2,8 bps dengan didorong oleh adanya penurunan harga hingga sebesar 20 bps. Imbal hasil dari Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 20 tahun mengalami kenaikan hingga sebesar 2 bps masing - masing di level 7,764% dan 8,364%. Sedangkan imbal hasil dari seri acuan dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan mendekati 3 bps di level 7,957% dan untuk tenor 15 tahun mengalami kenaikan sebesar 1,5 bps di level 8,159%.
  • Pergerakan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara yang cenderung mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin dipengaruhi oleh faktor pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta meningkatnya persepsi risiko yang tercermin pada kenaikan angka Credit Default Swap (CDS) seiring dengan koreksi yang terjadi di indeks saham global jelang libur di awal pekan. Aktivitas perdagangan cenderung terbatas yang tercermin pada volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan di Bursa Efek Indonesia. Di tengah hari perdagangan di akhir tahun 2018 yang tinggal menyisakan 3 hari perdagangan, pelaku pasar tampak berhati - hati dalam melakukan transaksi dan selektif terhadap seri - seri dengan tenor di bawah 10 tahun. 
  • Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, pergerakan imbal hasilnya terlihat terbatas dengan kecenderungan mengalami penurunan. Hal tersebut didukung oleh penurunan tingkat imbal hasil dari US Treasury namun di saat yang sama persepsi ririko justru mengalami peningkatan yang tercermin pada kenaikan angka CDS. Imbal hasil dari INDO29 mengalami penurunan kurang dari 1 bps di level 4,556% yang di dorong oleh kenaikan harga sebesar 5 bps. Sementara itu imbal hasil dari INDO26 mengalami penurunan sebesar 1 bps di level 4,485% setelah mengalami kenaikan harga yang terbatas, sebesar 6,5 bps. Terbatasnya pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan terjadi di tengah beragamnya arah perubahan dari surat utang global.
  • Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp5,83 triliun 40 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp956,83 miliar. Obligasi Negara seri FR0053 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terebsar, senilai Rp620,00 miliar dari 18 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0063 senilai Rp572,00 miliar dari 9 kali transaksi. Adapun Project Based Sukuk seri PBS013 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp230,80 miliar dari 6 kali transaksi yang diikuti oleh Surat Perbendaharaan Negara seri SPNS08022019 senilai Rp225,00 miliar dari 2 kali transaksi.
  • Adapun volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp992,30 miliar dari 55 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 Seri B (ISAT01BCN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp139,20 miliar dari 7 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap III Tahun 2018 Seri A (WSKT03ACN3) senilai Rp100,00 miliar dari 2 kali transaksi. Adapun Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Adira Finance Tahap II Tahun 2018 Seri A (SMADMF03ACN2) menjadi sukuk korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp51,00 miliar dari 2 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank Maybank Indonesia Tahap II Tahun 2016 (SMBNII01CN2) senilai Rp27,00 miliar dari 2 kali transaksi.
  • Nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin kembali ditutup dengan mengalami pelemahan, sebesar 24,20 pts (0,17%) di level 14577,00 per Dollar Amerika. Bergerak dengan mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika di kisaran 14570,00 hingga 14609,00 per Dollar Amerika, pelemahan nilai tukar Rupiah terjadi di tengah beragamnya arah pergerakan mata uang regional terhadap Dollar Amerika. Pelemahan mata uang regional dipimpin oleh mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,24% yang diikuti oleh mata uang Rupiah. Adapun mata uang Ringgit Malaysia (MYR) memimpin penguatan mata uang regional, sebesar 0,19% yang diikuti oleh mata uang Rupee India (INR) dan Dollar Singapura (SGD) yang masing - masing mengalami penguatan sebesar 0,09%.
  • Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan arah perubahan yang bervariasi. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan di level 2,80% seiring dengan adanya perbaikan di pasar sahamnya, mengurangi permintaan terhadap instrumen investasi yang lebih aman (safe haven asset). Kenaikan imbal hasil juga didapati pada surat utang Jepang dan Jerman yang maisng - masing ditutup di level 0,017% dan 0,25%. Adapun imbal hasil dari surat utang India dan Inggris ditutup dengan mengalami penurunan, secara berturut - turut di level 7,254% dan 1,262%. 
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan kembali bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dengan adanya peluang untuk mengalami kenaikan jelang berakhirnya hari perdagangan di tahun 2018. Perdagangan di tahun 2018 akan berakhir pada hari Jum'at, 28 Desember 2018 dimana kami perkirakan pelaku pasar akan berusaha memanfaatkan sisa hari perdagangan tersebut guna mengoptimalkan kinerja portofolionya (window dressing). Hanya saja kenaikan harga akan dibatasi oleh faktor penguatan mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang dunia yang juga akan berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang Rupiah. Sementara itu pada pekan depan, pemerintah telah berencana untuk melaksanakan lelang penjualan Surat Utang Negara dengan target penerbitan senilai Rp15,0 triliun dari enam seri Surat Utang Negara yang ditawarkan. Target lelang tersebut merupakan bagian dari target penerbitan Surat Berharga Negara melalui lelang di kuartal I tahun 2019 yang mencapai Rp185,00 triliun dari 7 kali lelang Surat Utang Negara dan 6 kali lelang Sukuk Negara.
  • Rekomendasi:Dengan adanya peluang kenaikan harga Surat Utang Negara pada hari ini maka kami sarankan kepada investor untuk mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Investor dapat memanfaatkan momentum kenaikan harga untuk mulai melakukan realisasi keuntungan jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara pada pekan depan. Adapun untuk seri acuan di tahun 2019 adalah sebagai berikut : FR0077 (tenor 5 tahun), FR0078 (tenor 10 tahun), FR0068 (tenor 15 tahun) dan FR0079 (tenor 20 tahun) dimana seri FR0079 tersebut merupakan seri baru yang akan ditawarkan pada lelang pada pekan depan. 
  • Pencatatan Obligasi Berkelanjutan I Bank NTT Tahap I Tahun 2018 dan Obligasi I Kapuas Prima Coal Tahun 2018.

Download PDF