RESEARCH

Company Update

10 September 2018

Weekly Analysis 10 - 14 September 2018

Bulan telah berganti, musim telah berganti, dan asian games telah berakhir. Selama sepekan, IHSG telah melemah 2.77% ke 5,851.5. Pelemahan tersebut tertekan oleh penurunan pada sektor pertambangan (-6.09%); industri dasar (-5.14%); dan property (-4.97%). Net sell asing mencapai IDR 2.86 triliun. Pelemahan tersebut  kemungkinan disebabkan oleh panic selling dari portfolio investor asing akibat spillover effect. dari currency crisis di Spanyol, Argentina, dan Afrika Selatan (emerging markets) dan ketidakpastian pada trade restriction dan geopolitics antara US-China. Faktor negatif eksternal masih membayangi bursa saham emerging markets di tengah ekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunganya dua kali hingga akhir tahun. Ekspektasi tersebut didorong oleh aktivitas ekonomi US yang menunjukkan akselerasi ekspansi. Indikator makroekonomi US telah berada pada natural unemployment, penguatan pada tenaga kerja, dan GDP growth lebih cepat. Investor umumnya “wait and see” menanti kebijakan konkret Pemerintah dalam menekan current account deficit (CAD) yaitu dengan membatasi impor dan memperkuat cadangan devisa.Secara technical, IHSG berada pada tren Fibonacci Fan dalam jangka panjang. Kemungkinan IHSG akan menguji 5835-5900-5995 sebagai resistance level terkuat.Kami perkirakan IHSG akan bergerak dalam range  5,770-5,995.

Wall Street dalam sepekan bergerak melemah –48.3 atau -0.19% di level 25.916. Perlemahan tersebut sejalan dengan kekhawatiran pelaku pasar terhadap isu perang dagang yang memanas bawasannya Trump mengatakan akan mengenakan tarif tambahan senilai US$ 267 miliar untuk produk - produk China. Defisit Neraca Perdagangan Amerika Serikat pada bulan Juli mencapai level tertinggi. Defisit neraca perdagangan disebabkan karena melemahnya ekspor kedelai dan pesawat sipil, hal ini menunjukan kebijakan proteksionisme Trump belum bisa memperbaiki defisit perdagangan.

Bursa Asia pekan lalu di tutup mayoritas melemah. Bursa Asia nampaknya mengekor perlemahan Wall Street pada pekan lalu.  Harga Komoditas bergerak mixed pada pekan lalu. Kenaikan terbesar terjadi pada harga CPO sebesar +13 atau +0.59% kelevel 2,213. Penurunan paling besar terjadi pada harga Nikel yaitu sebesar –445 poin atau –3.48% kelevel 12,355.

 

Back Download PDF