RESEARCH

RESEARCH

18 September 2018

Weekly Analysis 17 - 21 September 2018

Selama sepekan lalu pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan sebesar +79.8 poin atau +1.36% ke level 5,931.3. Badai Florence mengguncang. Ketidakpastian kebijakan trade restriction antara US-China terus bergulir. Tensi geopolitik ikut memanas. Akibatnya, tingkat kepercayaan portfolio investor menurun. Faktor negatif eksternal masih membayangi. Bursa saham emerging markets di Asia bergerak variatif seiring dengan bonds yield yang masih cenderung naik. Begitu juga, pasar uang ikut tertekan seiring dengan penguatan pada USD yang berlanjut. Secara technical, IHSG dalam pola downtrend dalam jangka pendek. IHSG akan menguji 5770-5690 sebagai support level terkuat. Jika tertembus pada level  tersebut, maka kemungkinan akan melanjutkan pelemahan lebih dalam. Kami perkirakan IHSG akan bergerak dalam range  5,770-5,900.

Wall Street dalam sepekan bergerak menguat sebesar +238 atau +0.92% di level 26,154.  Wall Street yang menguat lantaran terdapat kebijakan baru reformasi pajak jilid dua, namun sepanjang kenaikan Wall Street pekan lalu pergerakannya masih terbatas karena pelaku pasar masih dibayangi polemik perang dagang. Pekan lalu Donald Trump mengundang China melakukan putaran pembicaraan baru di Washington yang bersiap membicarakan tentang tarif atas  barang-barang China senilai US$ 200 miliar. Nampaknya pelaku pasar menyadari jika negosiasai perdagangan akan terus bergulir selama jangka waktu kedepan.

Bursa Asia pekan lalu di tutup mayoritas menguat. Bursa Jepang mengalami penguatan di tengah usulan diskusi perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang kemungkinan akan berlangsung di Washington. Harga Komoditas bergerak mixed pada pekan lalu. Kenaikan terbesar terjadi pada harga Oil sebesar +1.2 atau +1.8% kelevel 69. Penurunan paling besar terjadi pada harga CPO yaitu sebesar –7 poin atau –0.32% kelevel 2,206.

 

Download PDF