RESEARCH

RESEARCH

02 Januari 2019

Fixed Income Notes 02 Januari 2019

  • Menutup perdagangan di akhir tahun 2018, imbal hasil Surat Utang Negara bergerak dengan bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan. 
  • Perubahan tingkat imbal hasil yang terjadi hingga mencapai 8 bps dimana perubahan imbal hasil yang cukup besar terjadi pada Surat Utang Negara dengan tenor pendek hingga menengah. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek menmgalami perubahan hingga sebesar 8 bps didorong oleh adanya perubahan harga yang mencapai 10 bps. Adapun Surat Utang Negara dengan tenor menengah, tingkat imbal hasilnya bergerak dengan mengalami kenaikan hingga sebesar 7 bps setelah mengalami adanya penurunan harga yang berkisar antara 20 bps hingga 25 bps. Sementara itu imbal hasil dari Surat Utang Negara bertenor panjang mengalami arah perubahan yang bervariasi dengan besaran perubahan hingga sebesar 3 bps. Adapun keempat seri Surat Utang Negara seri acuan mengalami kenaikan imbal hasil dengan kenaikan imbal hasil terbesar didapati pada seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 7 bps di level 7,798% yang diikuti oleh kenaikan imbal hasil seri acuan dengan tenor 20 sebesar 4 bps di level 8,384%. Sedangkan untuk seri acuan dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 1,5 bps di level 7,956% dan untuk seri acuan dengan tenor 15 tahun mengalami kenaikan kurang dari 1 bps di level 8,174%. Dalam sepekan terakhir, tingkat imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor 10 tahun bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah gejolak yang terjadi pada pasar saham global berdamak terhadap meningkatnya persepsi risiko dari instrumen surat utang negara - negara berkembang.
  • Pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan di hari Jum'at, 28 Desember 2018 yang cenderung mengalami kenaikan tersebut terjadi di tengah minimnya volume perdagangan seiring dengan pelaku pasar yang mengantisipasi libur panjang di awal pekan ini serta jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara di hari Kamis, 3 Januari 2019 yang merupakan lelang perdana di tahun 2019. Seiring dengan tren kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara yang terjadi di sepanjang tahun 2018, dimana rata - rata imbal hasil Surat Utang Negara mengalami kenaikan sebesar 160 bps maka kinerja Surat Utang Negara di tahun 2018 tercatat mengalami penurunan sebesar 1,60% yang tercermin pada penurunan INDOBeXG-Total Return dari level 240,197 ke level 236,349. Adapun untuk pasar surat utang korporasi masih mencatatkan kinerja positif sebesar 3,80% yang tercermin pada kenaikan INDOBeXC-Total Return dari level 253,055 ke level 262,674. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja negatif sebesar 2,54% dengan IHSG ditutup di level 6.194,50. 
  • Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika di akhir pekan kemarin, pergerakan harganya cenderung terbatas dengan kecenderungan mengalami kenaikan seiring dengan penurunan imbal hasil US Treasruy. Perubahan tingkat imbal hasil yang terjadi rata - rata di bawah 1 bps sehingga tidak banyak berpengaruh terhadap tingkat imbal hasilnya. Imbal hasil dari INDO23 ditutup di level 4,135% setelah mengalami kenaikan imbal hasil kurang dari 1 bps. Adapun Imbal hasil dari INDO28 dan INDO43 masing - masing ditutup di level 4,508% dan 5,158% setelah mengalami penurunan tingkat imbal hasil yang kurang dari 1 bps. Dalam sepekan terakhir, imbal hasil dari Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika bergerak dengan mengalami penurunan imbal hasil sejalan dengan penurunan imbal hasil US Treasury dan imbal hasil surat utang global yang juga mengalami penurunan. Hanya saja, di tahun 2018, imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 100 bps seiring dengan kenaikan imbal hasil US Treasury.
  • Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan di akhir pekan kemarin senilai Rp4,98 triliun dari 42 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp417,66 miliar. Obligasi Negara seri FR0065 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp262,59 miliar dari 8 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0068 senilai Rp259,22 miliar dari 10 kali transaksi. Adapun dari perdagangan Sukuk Negara, volume perdagangan terbesar didapati pada Project Based Sukuk seri PBS017 senilai Rp608,09 dari  15 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Surat Perbendaharaan Negara seri SPNS08052019 senilai Rp300,00 miliar dari 1 kali transaksi. Di sepanjang tahun 2018, Obligasi Negara seri FR0064 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp477,53 triliun adapaun seri yang paling sering ditransaksikan adalah Obligasi Negara seri FR0075 sebanyak 36.178 kali transaksi. 
  • Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp490,34 miliar dari 28 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank PANIN Tahap II Tahun 2017 (PNBN02SBCN2) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp61,00 miliar dari 8 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap III Tahun 2018 Seri E (ADMF04ECN3) senilai Rp50,00 miliar dari 1 kali transaksi. Sementara itu Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank Maybank Indonesia Tahap II Tahun 2016 (SMBNII01CN2) menjadi sukuk korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp17,00 miliar dari 2 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap IV Tahun 2016 Seri B (SIISAT01BCN4) senilai Rp14,00 miliar dari 2 kali transaksi. Di Sepanjang tahun 2018, Obligasi Berkelanjutan III FIF Tahap III Tahun 2018 Seri A (FIFA03ACN3) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp3,857 triliun, adapun surat utang korporasi yang paling sering ditransaksikan adalah Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap II Tahun 2018 Seri B (WSKT03BCN2) sebanyak 651 kali transaksi. 
  • Nilai tukar Rupiah pada perdagangan di hari Senin, 31 Januari 2018 ditutup dengan penguatan sebesar 178,00 pts (1,22%) di level 14390,00 per Dollar Amerika. Bergerak dengan mengalami penguatan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14389,00 hingga 14495,00 per Dollar Amerika, penguatan mata uang Rupiah sejalan dengan penguatan mata uang regional terhadap Dollar Amerika. Mata uang Rupiah memimpin penguatan mata uang regional jelang tutup tahun 2018, yang diikuti oleh perdagangan Baht Thailand (THB) sebesar 0,46% dan mata uang Ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,39%. Di tahun 2018, mata uang Rupiah mengalami depresiasi sebesar 6,36% di tangah tren penguatan mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang utama dunia seiring dengan normalisasi kebijakan Bank Sentral Amerika dengan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) sebesar 100 bps dari 4 kali kenaikan di tahun 2018. 
  • Imbal hasil surat utang global pada perdagangan di akhir tahun 2018 bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan imbal hasil. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup dengan penuurunan di level 2,686% begitu pula dengan imbal hasil surat utang Inggris yang ditutup turun di level 1,275%. Adapun imbal hasil surat utang Jerman ditutup di level 0,242%. Imbal hasil surat utang global di tahun 2018 bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dimana kenaikan imbal hasil didapati pada US Treasury di tengah keputusan Bank Sentral Amerika untuk menaikkan suku bunga acuan. Adapun imbal hasil surat utang Jerman terlihat mengalami penurunan dari posisi 0,423% turun ke level 0,242%. Penurunan imbal hasil terbesar didapati pada surat utang Jepang yang turun dari level 0,043% turun ke level -0,001%.
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak terbatas dengan arah perubahan yang bervariasi di awal perdagangan tahun 2019. Beberapa seri kami perkirakan akan berpotensi mengalami penurunan jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara, yaitu seri FR0077, FR0078 dan seri FR0068. Adapun pada hari ini, Badan Pusat Statistik akan menyampaikan data inflasi di bulan Desember 2018, dimana analis memperkirakan akan terjadi inflasi bulanan (MoM) sebesar 0,48% dan inflasi tahunan (YoY) diperkirakan sebesar 2,98%. Adapun data penting yang aakn dinantikan oleh investor global adalah data sektor tenaga kerja Amerika Serikat yang akan disampaikan pada hari Jum'at, 4 Januari 2019 waktu setempat. 
  • Pada sepekan kedepan terdapat satu surat utang yang akan jatuh tempo senilai Rp10 triliun.
  • Kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara mengalami penurunan.

Download PDF