RESEARCH

RESEARCH

04 Februari 2019

Fixed Income Notes 04 Februari 2019

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan akhir pekan kemarin hari Jumat, tanggal 1 Februari 2019 mengalami kenaikan seiring dengan menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Perubahan harga yang terjadi rata-rata sebesar 73 bps yang mendorong perubahan tingkat imbal hasil mengalami penurunan rata-rata sebesar 10 bps. Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek 1—4 tahun mengalami kenaikan harga sebesar 37 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 10 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara yang memiliki tenor antara 5 hingga 7 tahun mengalami perubahan harga rata-rata sebesar 30 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil hingga sebesar 18 bps. Adapun untuk harga dari Surat Utang Negara dengan jangka waktu panjang, bertenor diatas 7 tahun, didapati kenaikan harga rata-rata sebesar 94 bps yang mengakibatkan terjadinya perubahan imbal hasil hingga mencapai 32 bps.    
 
Kenaikan harga yang terjadi juga berdampak terhadap perubahan tingkat imbal hasil dari Surat Utang Negara seri acuan, dimana kenaikan harga terbesar terjadi pada Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 tahun yaitu sebesar 280 bps yang mendorong penurunan tingkat imbal hasil sebesar 33 bps. Selanjutnya, Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 7 bps yang didorong oleh kenaikan harga sebesar 32 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara dengan tenor 10 tahun didapati penurunan tingkat imbal hasil sebesar 11 bps yang disebabkan oleh perubahan harga sebesar 80 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor 20 tahun mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 19 bps ditengah meningkatnya perubahan harga hingga mencapai 182 bps.
 
Terbatasnya pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan akhir pekan lalu dipengaruhi oleh faktor pergerakan nilai tukar Rupiah yang mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika. Pada awal perdagangan nilai tukar rupiah dibuka dengan kondisi menguat, namun ditengah sesi perdagangan Rupiah sempat melemah sebentar sebelum ditutup kembali dengan menunjukkan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Selain itu, faktor sentimen positif kesepakatan damai perdagangan antara China dan Amerika juga mendorong penguatan harga obligasi negara ditengah The Fed yang memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di kisaran 2,25% - 2,5% serta akan bersikap sabar (dovish) dalam menentukan kenaikan suku bunga kedepan.
 
Dalam sepekan terakhir, pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika terlihat mengalami perubahan yang positif ditengah menguatnya imbal hasil US Treasury. Adapun imbal hasil dari INDO24 mengalami penurunan sebesar 4 bps di level 3,722% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 18 bps. Selanjutnya, imbal hasil dari INDO29 terlihat mengalami penurunan imbal hasil sebesar 6 bps di level 4,074% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 53 bps.  Sementara itu, untuk INDO44 dan INDO49 didapati perubahan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 1,6 bps di level 4,931% dan 0,14 bps di level 4,841% yang disebabkan oleh pergerakan harga yang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 26 bps dan 2,4 bps.
 
Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan di akhir pekan senilai Rp21,25 triliun dari 46 seri Surat Utang Negara yang ditransaksikan dengan volume perdagangan tertinggi didapati pada Surat Utang Negara berseri acuan yaitu, FR0078 senilai 4,50 triliun dari 144 kali transaksi, dan diikuti oleh Surat Utang Negara dengan seri FR0077 senilai 2,79 triliun untuk 98 kali transaksi. Adapun volume terbesar selanjutnya didapati Surat Utang Negara seri FR0047 dan seri FR0079 masing-masing senilai 1,76 triliun dari 22 kali transaksi dan 1,38 triliun dari 80 kali perdagangan.
 
Volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan lebih besar daripada volume perdagangan sebelumnya, senilai Rp1,349 triliun dari 43 seri surat utang korporasi yang ditransaksikan. Obligasi Berkelanjutan III Tower Bersama Infrastructure Tahap I Tahun 2018 (TBIG03CN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan paling besar senilai Rp200,0 miliar dari 2 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank II Tahap V Tahun 2015 Seri C (BEXI02CCN5) senilai Rp180,00 miliar dari 3 kali transaksi. Adapun  Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank II Tahap VII Tahun 2016 Seri C (BEXI02CCN7) dan Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap IV Tahun 2019 Seri A (ADMF04ACN4) menduduki posisi ketiga dan keempat volume perdagangan terbesar yaitu masing-masing sebesar Rp140,00 miliar dari 3 kali transaksi dan Rp119,00 miliar dari 3 kali transaksi.
 
Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan hari Jumat, tanggal 1 Februari 2019 mengalami penguatan sebesar 28 pts (0,20%) di level 13945 dan bergerak pada kisaran 13945 hingga 13990 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut menguat ditengah nilai tukar mata uang regional yang mengalami koreksi terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun yang memimpin penguatan mata uang regional yaitu mata uang Rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,20% dan diikuti oleh mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,01%. Sedangkan, untuk pelemahan nilai mata uang tertinggi didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) dan mata uang Renminbi Cina masing-masing sebesar 0,56% dan 0,52%. Adapun mata uang Rupee India dan mata uang Dollar Singapura juga mengalami penurunan nilai mata uang masing-masing sebesar 0,24% dan 0,22% terhadap Dollar Amerika.
 
Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup menguat sebesar 5 bps yang berada pada level 2,684% dan untuk yang bertenor 30 tahun pada perdagangan kemarin juga ditutup menguat sebesar 2 bps yang berada pada level 3,025% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak dengan arah yang bervariatif. Indeks DJIA ditutup menguat sebesar 26 bps pada level 25063,89 dan indeks NASDAQ ditutup dengan mengalami koreksi sebesar 25 bps sehingga berada pada level 7263,87. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dan pasar obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun, keduanya mengalami arah pergerakan yang positif sehingga masing-masing berada pada level 1,251% dan 0,167%.
 
Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan berpotensi mengalami kenaikan didukung oleh faktor sentimen positif kesepakatan damai perdagangan antara China dan Amerika. Disamping itu juga masih hangatnya pernyataan Bank Sentral Amerika pada hari Kamis pekan lalu, yang bersikap sabar (dovish) dalam menentukan kenaikan suku bunga kedepan sehingga pada periode ini The Fed masih menahan suku bunga acuannya di kisaran 2,25%-2,5%. 
 
Rekomendasi
Dengan beberapa faktor tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Arah pergerakan nilai tukar rupiah akan menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan harga Surat utang Negara di pasar sekunder. Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati diantaranya adalah sebagai berikut ini : FR0070, FR0075, FR0061, FR0069, FR0053 dan FR0056. 

Pada sepekan kedepan terdapat tiga surat utang yang akan jatuh tempo senilai Rp5,87 triliun. 

Rencana Penjualan Sukuk Negara Tabungan Seri ST003.

Download PDF