RESEARCH

RESEARCH

05 Desember 2018

Fixed Income Notes 05 Desember 2018

  • Harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Selasa, 4 Desember 2018 bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan didorong oleh aksi ambil untung oleh investor memanfaatkan momentum pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. 
  • Sempat dibuka dengan kenaikan harga yang didorong oleh penurunan imbal hasil US Treasury, harga Surat Utang Negara ditutup dengan kecenderungan mengalami penurunan dengan perubahan harga berkisar antara 3 bps hingga 60 bps sehingga berakibat naiknya tingkat imbal hasil Surat Utang Negara hingga sebesar 7 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan sebesar 3 bps. Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami penurunan berkisar antara 3 bps hingga 15 bps yang mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil hingga sebesar 7 bps. Adapun harga Surat Utang Negara dengan tenor menengah terlihat mengalami penurunan harga hingga sebesar 17 bps yang menyebabkan terjadinya kenaikan imbal hasil yang berkisar antara 2 bps hingga 4 bps. Sedangkan harga Surat Utang Negara dengan tenor panjang terlihat bergerak bervariasi dengan adanya perubahan harga yang berkisar antara 3 bps hingga 60 bps sehingga mendorong terjadinya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 7 bps. Koreksi harga yang terjadi pada perdagangan kemarin juga berdampak terhadap kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan kenaikan imbal hasil sebesar 1 bps untuk tenor 10 tahun dan 15 tahun masing - masing di level 7,80% dan 8,05%. Adapun seri acuan dengan tenor 5 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 2 bps di level 7,77% dan tenor 20 tahun mengalami kenaikan sebesar 3 bps di level 8,163%.
  • Penurunan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin didorong oleh aksi ambil untung oleh investor memanfaatkan momentum pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Harga Surat Utang Negara yang bergerak dengan tren kenaikan harga secara teknikal telah mendorong harga Surat Utang Negara berada pada area jenuh beli (overbought) sehingga mulai membatasi potensi kenaikan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Kondisi tersebut tercermin pada terbatasnya pergerakan harga Surat Utang Negara meskipun mendapatkan katalis positif dari dalam dan luar negeri. Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin menjadi momentum bagi investor untuk mulai melakukan penjualan Surat Utang Negara guna merealisasikan keuntungan (profit taking) atas portofolio mereka. Hanya saja koreksi harga yang terjadi juga masih terbatas, karena di saat yang sama investor yang butuh untuk menempatkan dananya di Surat Berharga Negara untuk melakukan pembelian di saat harga Surat Utang negara mengalami penurunan. Investor cukup aktif melakukan perdagangan di pasar sekunder yang tercermin pada tingginya volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan.
  • Di saat harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Rupiah mengalami penurunan, harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika justru melanjutkan tren kenaikan harag seiring dengan penurunan imbal hasil US Treasury serta membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS). Kenaikan harga terjadi pada hampir keseluran seri, dimana kenaikan harga yang cukup besar didapati pada tenor panjang. Harga dari INDO23 mengalami kenaikan sebesar 6 bps yang menyebabkan penurunan imbal hasilnya sebesar 1,5 bps di level 4,265%. Sedangkan harga INDO28 mengalami kenaikan sebesar 15 bps mendorong terjadinya penurunan imbal hasilnya sebesar 2 bps di level 4,704%. Sedangkan kenaikan harga yang lebih tinggi, yaitu sebesar 53 bps didapati pada INDO43, mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 4 bps di level 5,332%. 
  • Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp11,50 triliun dari 41 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdaganagn seri acuan senilai Rp3,10 triliun. Obligasi Negara seri FR0063 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,232 triliun dari 23 kali transaksi di harga rata - rata 92,24% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri 
  • FR0070 senilai Rp1,285 triliun dari 17 kali transaksi dengan harga penutupan di level 101,78%. Sementara itu Project Based Sukuk seri PBS016 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp440,20 miliar dari 19 kali transaksi di harga rata - rata 98,88% yang diikuti oleh perdagangan Sukuk negara Ritel seri SR009 senilai Rp147,05 miliar dari 11 kali transaksi di harga rata - rata 99,23%.
  • Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp368,55 miliar dari 26 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap III Tahun 2018 Seri A (WSKT03ACN3) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp80,00 miliar dari 8 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Sarana Multi Infrastruktur Tahap III Tahun 2018 Seri A (SMII01ACN3) senilai Rp54,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,00%.
  • Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup dengan mengalami pelemahan, sebesar 47,50 pts (0,33%) di level 14291,50  per Dollar Amerika. Bergerak dengan mengalami pelemahan sejak awal perdagangan, niali tukar Rupiah pada perdagangan kemarin berada pada kisaran 14277,50 hingga 14322,80 per Dollar Amerika. Dibuka dengan mengalami pelemahan di level 14322,80 per Dollar Amerika, secara berangsur - angsur pelemahan nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin semakin mengalami penurunan. 
  • Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan, seiring dengan koreksi yang terjadi di pasar saham global mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup turun masing - masing di level 2,915% dan 3,17% setelah indeks pasar saham Amerika Serikat mengalami penurunan hingga sebesar 3,10% (DJIA) di tengah kekhawatiran investor terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu imbal hasil dari surat utang Inggris dan Jerman juga ditutup dengan mengalami penurunan masing - masing di level 1,284% dan 0,253% yang juga didorong oleh koreksi yang terjadi di pasar saham kawasan Eropa. Di kawasan regional, imbal hasil surat utang Jepang ditutup turun di level 0,67% dan surat utang Singapura ditutup turun di level 2,307%.
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan kembali bergerak arah perubahan yang bervariasi dengan masih adanya peluang mengalami penurunan di tengah meningkatnya persepsi risiko akibat dari koreksi yang terjadi di pasar saham global. Hanya saja penurunan harga akan kembali terbatas, dikarenakan investor akan memanfaatkan peluang penurunan harga untuk melakukan pembelian Surat Utang Negara. Imbal hasil Surat Utang negara masih menarik bagi investor domestik seiring dengan laju inflasi yang terkendali. hingga bulan November 2018, inflasi kalende (YTD) tercatat sebesar 2,50% sehingga kemungkinan inflasi hingga akhir tahun 2018 masih akan berada di bawah target inflasi yang sebesar 3,5%. 
  • Rekomendasi: Dengan adanya peluang terjadinya penurunan harga, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Beberapa seri Surat Utang Negara yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan seri lainnya dengan tenor yang sama berpotensi untuk mengalami penurunan harga, diantaranya adalah seri seri berikut ini : *FR0077, FR0059, FR0064, FR0071, FR0078, FR0073, FR0065* dan FR0075. Adapun apabila penurunan harga Surat Utang negara kemabli terjadi, beberapa seri berikut ini dapat dicermati untuk dilakukan pembelian, diantaranya adalah seri seri :  *FR0053, FR0061, FR0070, FR0058 dan FR0068. 
  • Transaksi penjualan Surat Utang Negara dalam valuta asing tahun 2018 dalam rangka pre-funding tahun anggaran 2019 sebesar US$3,0 miliar.

 

Download PDF