RESEARCH

RESEARCH

06 Desember 2018

Fixed Income Notes 06 Desember 2018

  • Pelemahan nilai tukar Rupiah dukung terjadinya koreksi harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Rabu, 5 Desember 2018. 
  • Penurunan harga yang terjadi berkisar antara 3 bps hingga 75 bps yang berdampak  terhadap kenaikan imbal hasilnya hingga sebesar 11 bps dengan rata - rata kenaikan imbal hasil sebesar 4 bps. Harga dari Surat Utang Negara bertenor pendek mengalami penurunan hingga sebesar 15 bps sehingga mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasilnya hingga sebesar 11 bps. Sementara itu harga dari Surat Utang Negara bertenor menengah mengalami penurunan sebesar 15 bps hingga 25 bps yang menyebabkan terjadinya kenaikan imbal hasil yang berkisar antara 3 bps hingga 6 bps. Sedangkan adanya penurunan harga hingga sebesar 75 bps yang terjadi pada Surat Utang negara bertenor panjang, telah mendorong terjadinya kenaikan imbal hasilnya hingga sebesar 8 bps. Koreksi yang terjadi pada Surat Utang Negara seri acuan juga mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil yang berkisar antara 4 bps hingga 8 bps. Seri acuan dengan bertenor 5 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 4 bps di level 7,81% dan pada tenor 10 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 6,5 bps di level 7,86%. Sedangkan kenaikan imbal hasil sebesar 5 bps didapati pada seri acuan bertenor 15 tahun di level 8,10% dan kenaikan sebesar 8 bps didapati pada seria acuan bertenor 20 tahun di level 8,246%.
  • Selain faktor melemahnya nilai tukar Rupiah, koreksi yang terjadi pada pasar Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin juga dipengaruhi oleh faktor teknikal dimana harga Surat Utang negara yang sebagian besar berada pada area jenuh beli (overbought) setelah mengalami tren kenaikan harga sejak awal bulan November 2018. Kombinasi dari kedua faktor tersebut mendorong penurunan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder yang terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Utang Negara. Hanya saja, koreksi harga yang terjadi pada perdagangan kemarin juga menjadi momentum bagi pelaku pasar yang ingin menempatkan dananya di instrumen Surat Berharga Negara untuk melakukan pembelian secara bertahap. Aktivitas perdagangan cukup ramai yang tercermin pada tingginya volume perdagangan yang dilaporkan. Adapun dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, tidak terjadi perubahan harga seiring dengan liburnya pasar keuangan Amerika dalam rangka pemakaman mantan Preseiden Amerika Serikat, George Herbert Walker Bush.
  • Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp10,87 triliun dari 41 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp5,06 triliun. Obligasi Negara seri FR0065menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,297 triliun dari 57 kali transaksi di harga rata - rata 87,67% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0063 senilai Rp1,753 triliun dari 22 kali transaksi di harga rata - rata 91,93%. Dari perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk seri PBS012         menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp219,00 miliar dari 26 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Surat Perbendaharaan Negara seri SPNS11012019     senilai Rp95,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga 99,42%.
  • Adapun dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,35 triliun dari 51 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap III Tahun 2017 Seri B (BBRI02BCN3) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp150,00 miliar dari 18 kali transaksi di harga rata - rata 98,00% yang diikuti oleh perdagangan  Obligasi Berkelanjutan III Medco Energi Internasional Tahap II Tahun 2018 Seri A (MEDC03ACN2) senilai Rp120,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,82%. Sementara itu Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank CIMB Niaga Tahap I Tahun 2018 Seri B (SMBNGA01BCN1) menjadi sukuk korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp39,0 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata - rata 99,09%.
  • Nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin ditutup dengan pelemahan sebesar 111,00 pts (0,78%) di level 14402,50 per Dollar Amerika setelah beregrak dengan mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14362,50 hingga 14425,00 per Dollar Amerika. Pelemahan nilai tukar Rupiah tersebut menjadikan mata uang Rupiah menjadi mata uang regional dengan pelemahan terbesar terhadap Dollar Amerika yang diikuti oleh mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,77% dan mata uang Peso Philippina (PHP) sebesar 0,41%. Kekhawatiran atas kegagalan kesepakatan tarif dagang antara China dan Amerika serta prospek dari pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan akan mengalami perlambatan menjadi faktor pelemahan mata uang regional terhadap Dollar Amerika. 
  • Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan arah perubahan yang bervariasi di tengah liburnya pasar keuangan Amerika Serikat. Imbal hasil dari surat utang Inggris dan Jerman ditutup dengan kenaikan, masing - masing di level 1,308% dan 0,276% meskipun pasar saham di kedua negara tersebut mengalami penurunan yang cukup besar di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Sedangkan imbal hasil surat utang Singapura dan Thailand, pada perdagangan kemarin ditutup dengan mengalami penurunan imbal hasil masing - masing di level 2,249% dan 2,648%.
  • Seiring dengan penurunan harga yang terjadi sejak awal pekan ini, harga Surat Utang Negara mulai meninggalkan area jenuh beli (overbought) dan mulai terbentuknya sinyal perubahan tren pergerakan harga dari tren kenaikan harga menjadi tren penurunan harga. Apabila penurunan harga berlanjut dalam beberapa hari perdagangan kedepan, maka akan mengkonfirmasi terbentuknya tren penurunan harga Surat Utang Negara. 
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan kembali berpeluang untuk mengalami penurunan seiring meningkatnya persepsi risiko yang tercermin pada kenaikan angka Credit Default Swap (CDS). Selain itu, koreksi yang terjadi pada pasar saham global kami perkirakan akan berdampak terhadap pasar keuangan domestik termasuk pada pasar Surat Berharga Negara. Adapun pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan angka cadangan devisa bulan November 2018 yang akan disampaikan oleh Bank indonesia pada hari Jum'at, 7 Desember 2018.
  • Rekomendasi : Dengan masih terbukanya peluang koreksi harga, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Arah pergerakan nilai tukar Rupiah masih akan menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang seperti dana pensiun dan asuransi jiwa, kami menyarankan strategi pembelian secara bertahap apabila harga Surat Utang Negara kembali mengalami penurunan pada hari ini dengan pilihan pada seri Surat Utang negara yang memiliki tingkat imbal hasil yang cukup tinggi dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan seri lainnya dengan tenor yang sama, yaitu : FR0070, FR0056, FR0058, FR0074, FR0068 dan FR0067.
  • PT Pemeringkat Efek Indonesia mempertahankan peringkat PT Ricobana Abadi pada peringkat "idBBB-".

Download PDF