RESEARCH

RESEARCH

06 Maret 2019

Fixed Income Notes 06 Maret 2019

Pada perdagangan kemarin, hari Selasa tanggal 5 Maret 2019, harga Surat Utang Negara bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang cukup fluktuatif serta adanya sentimen dari faktor eksternal maupun  faktor domestik.

Perubahan harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan hingga sebesar 213 bps yang mendorong adanya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 23 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan, sebagian besar serinya mengalami perubahan harga yang terbatas berkisar antara 3 bps hingga 4 bps yang mengakibatkan adanya perubahan tingkat imbal hasil dibawah 1 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun memimpin kenaikan harga sebesar 4 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil yang terbatas sebesar 0,9 bps yang disusul oleh Surat Utang Negara bertenor 15 tahun yang mengalami kenaikan harga terbatas sebesar 3 bps yang berdampak kepada penurunan imbal hasil sebesar 0,3 bps. Adapun untuk seri acuan bertenor 10 tahun tidak mengalami perubahan harga maupun imbal hasil namun untuk seri acuan bertenor 20 tahun mengalami penurunan harga sebesar 9 bps yang mendorong kenaikan tingkat imbal hasil yang terbatas sebesar 0,9 bps.

Perubahan harga pada perdagangan kemarin tanggal 5 Maret 2019 bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan ditengah pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang cukup fluktuatif selama sesi perdagangan. Pergerakan nilai tukar Rupiah yang cukup fluktuatif ini turut dipengaruhi oleh sentimen positif dari pemerintah China untuk menjaga kinerja perekonomiannya dengan cara memangkas tarif pajak secara besar-besaran dan diharapkan mampu menciptakan perputaran uang hampir senilai 2 triliun reminbi China. Perkembangan di China tersebut membuat para pelaku pasar kembali yakin bahwa modal asing akan kembali masuk ke pasar keuangan di regional Asia, termasuk Indonesia. Sementara itu, jelang rilisnya data neraca perdagangan Amerika pada esok hari serta rilisnya data cadangan devisa Indonesia bulan Februari 2019 pada pekan ini, membuat para pelaku pasar melakukan aksi wait and see.

Kenaikan harga juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah penurunan imbal hasil US Treasury. Kenaikan harga didapati pada sebagian besar seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika. Harga INDO24 dan INDO29 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 13 bps dan 1 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 2,8 bps di level 3,784% dan 0,1 bps di level 4,195%. Adapun harga dari INDO44 dan INDO49 mengalami koreksi masing-masing sebesar 10 bps dan 18 bps yang berdampak pada kenaikan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 0,6 bps di level 5,008% dan 1,1 bps di level 4,916%. 

Pada perdagangan kemarin, pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami pergerakan yang cukup fluktuatif dimana pada awal sesi perdagangan rupiah melemah namun, menjelang akhirnya sesi perdagangan rupiah ditutup menguat terbatas sebesar 3 pts (0,01%) di level 14128,00 per Dollar Amerika dan bergerak pada kisaran 14128 hingga 14154. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami penguatan terbatas seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional yang bergerak bervariatif terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun mata uang Rupee India (INR) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,54% yang diikuti dengan penguatan mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,27%. Selanjutnya mata uang Renminbi China (CNY) juga ikut menguat sebesar 0,06% yang disusul oleh mata uang Rupiah Indonesia sebesar 0,01%. Sedangkan untuk mata uang Peso Filipina mengalami pelemahan mata uang sebesar 1,01% yang diiringi dengan mata uang Yen Jepang (JPY) yang melemah sebesar 0,19% terhadap nilai tukar mata uang Dollar Amerika.

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami penurunan terbatas masing-masing sebesar 0,3 bps yang berada pada level 2,719% dan 0,4 bps yang berada pada level 3,083% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang ditutup dengan mengalami penurunan dimana indeks DJIA ditutup melemah sebesar 5 bps sehingga berada pada level 25806,63 dan indeks NASDAQ juga turut mengalami koreksi sebesar 2 bps sehingga berada pada level 7576,36. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami pelemahan sehingga masing-masing berada di level 1,285% dan 1,771%. Adapun hal yang sama juga terjadi pada obligasi Jerman (Bund) pada tenor 10 tahun dan 30 tahun yang melemah sehingga masing-masing berada pada level 0,156% dan 0,802%.  

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak bervariasi dengan masih berpeluang untuk mengalami kenaikan didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika akibat optimisnya para pelaku pasar yang terindikasi dari suksesnya lelang penjualan Surat Berharga Syariah Negara pada perdagangan kemarin menjadi indikasi bahwa pelaku pasar masih merespon positif pada kondisi pasar saat ini. Dari hasil lelang tersebut pemerintah berhasil meraup dana sebesar Rp8,90 triliun dari total penawaran yang masuk mencapai Rp23,18 triliun. Hanya saja, jelang rilisnya data neraca perdagangan Amerika pada esok hari serta rilisnya data cadangan devisa Indonesia bulan Februari 2019 pada pekan ini, membuat para pelaku pasar melakukan aksi wait and see. 

Rekomendasi

Dengan kondisi tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara. Kami merekomendasikan kepada investor untuk melakukan strategi trading di tengah pergerakan harga Surat Utang Negara yang cenderung bergerak berfluktuasi dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0053, FR0070, FR0056, FR0059, FR0058, FR0073 dan FR0070.

Pemerintah meraup dana senilai Rp8,90 triliun dengan melaksanakan lelang Surat Berharga Negara Syariah pada tanggal 5 Maret 2019 untuk seri SPN-S 06092019 (new issuance), PBS014 (reopening), PBS019 (reopening), PBS0022 (reopening), PBS015 (reopening).

 

Download PDF