RESEARCH

RESEARCH

07 Februari 2019

Fixed Income Notes 07 Februari 2019

  • Harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Rabu, tanggal 6 Februari 2019 mengalami kenaikan didukung oleh data pertumbuhan ekonomi kuartal IV tahun 2018 yang lebih baik dari perkiraan serta nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.
  • Pada perdagangan kemarin hari Rabu tanggal 6 Februari 2019, harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan pada sebagian besar seri Surat Utang Negara hingga mencapai 140 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 21 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan, kenaikan harga yang terjadi telah mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil yang berkisar antara 7,6 bps hingga 11,8. Surat Utang Negara dengan tenor 20 tahun mengalami perubahan harga tertinggi dibandingkan dengan seri acuan lainnya sebesar 117 bps yang telah menyebabkan turunnya tingkat imbal hasil sebesar 12 bps. Sementara itu, untuk seri acuan dengan tenor 5 dan 10 tahun mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 33 bps dan 83 bps yang mendorong penurunan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 8 bps dan 11 bps. Adapun untuk seri acuan dengan tenor 15 tahun didapati peningkatan harga sebesar 97 bps telah menyebabkan tingkat imbal hasil mengalami koreksi sebesar 11 bps.   
  • Perubahan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin dipicu baik dari faktor domestik maupun dari faktor eksternal. Adapun dari faktor domestik, perubahan harga didukung oleh sentimen positif ditengah dirilisnya data ekonomi kuartal IV 2018 yang tumbuh sebesar 5,18% YoY, pertumbuhan tersebut dinilai lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Selain itu, dari faktor eksternal perubahan harga Surat Utang Negara ini masih dipengaruhi oleh  sentimen positif dari Bank Sentral Amerika yang menetapkan suku bunga acuannya masih di kisaran 2,25% - 2,50% pada pertengahan pekan lalu. Dari kedua sentimen tersebut, pelaku pasar merespon dengan melakukan pembelian Surat Utang Negara di pasar sekunder, sehingga berdampak kepada pergerakan harga Surat Utang Negara terutama dengan tenor menengah dan panjang.
  • Pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika terlihat mengalami kenaikan ditengah melemahnya imbal hasil US Treasury. Adapun perubahan harga terjadi pada sebagian besar seri Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika. Sementara itu, pergerakan harga dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 5 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 1 bps di level 3,732%. Selanjutnya pergerakan harga INDO29 juga mengalami penguatan sebesar 17,5 bps yang menyebabkan pelemahan tingkat imbal hasil sebesar 2 bps. Disamping itu, untuk INDO44 didapati mengalami perubahan harga sebesar 14 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 0,8 bps. Adapun perubahan harga terbesar didapati pada bertenor panjang seri INDO49 yang mengalami pelemahan sebesar 28,8 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 1,74 bps. 
  • Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mencapai Rp15,82 triliun dari 42 seri Surat Utang Negara dimana untuk seri acuan volume perdagangan mencapai Rp4,65 triliun dengan volume perdagangan Surat Utang Negara terbesar didapati pada seri FR0078 sebesar 2,26 triliun dari 97 kali transaksi. Selanjutnya adalah Surat Utang Negara seri FR0061 yang memiliki volume perdagangan senilai Rp1,27 triliun dari 39 kali transaksi yang diikuti dengan seri FR0077 dengan volume perdagangan senilai Rp1,19 triliun dari 71 kali transaksi. Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar didapati pada Project Based Sukuk seri PBS0014 dengan volume sebesar 1,87 triliun dari 23 kali transaksi dan diikuti oleh Project Based Sukuk seri PBS022 dengan volume perdagangan sebesar Rp668,05 miliar rupiah.
  • Volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan, senilai Rp1,17 triliun dari 38 seri surat utang korporasi yang ditransaksikan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap III Tahun 2018 Seri D (BEXI04DCN3) senilai Rp275,00 miliar dari 7 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan surat utang korporasi seri Obligasi Berkelanjutan II Bank OCBC NISP Tahap I Tahun 2016 Seri C(NISP02CCN1) dan seri Obligasi Berkelanjutan II Waskita Karya Tahap III Tahun 2017 Seri B (WSKT02BCN3) masing-masing senilai Rp120,00 miliar dari 7 kali transaksi dan Rp100,00 miliar untuk 5 kali transaksi. Adapun, selanjutnya didapati seri Obligasi I Indonesia Infrastructure Finance Tahun 2016 Seri A (IIFF01A) dengan volume perdagangan sebesar Rp90 miliar dari 2 kali perdagangan.
  • Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami penguatan sebesar 41,50 pts (0,30%) di level 13920,00 per Dollar Amerika. Bergerak dengan mengalami penguatan sepanjang sesi perdagangan di kisaran 13895,00 hingga 13950,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut  menguat ditengah nilai tukar mata uang regional yang bergerak dengan arah bervariasi terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun yang mengalami penguatan tertinggi didapati pada mata uang Peso Filipina (PHP) sebesar 0,30% dan diikuti dengan mata uang Yen Jepang (JPY) dan mata uang Rupiah Indonesia (IDR) yang keduanya mengalami penguatan sama besar di level 0,29%. Sedangkan, untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan didapati pada mata uang Dollar Singapura (SGD) sebesar 0,17% yang diiringi dengan pelemahan nilai tukar mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,11 terhadap Dollar Amerika.
  • Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup mengalami pelemahan sebesar 14 bps yang berada pada level 2,69% sedangkan untuk imbal hasil US Treasury yang bertenor 30 tahun ditutup menguat terbatas sebesar 5 bps yang berada pada level 3,03% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak melemah. Indeks DJIA ditutup melemah sebesar 8 bps sehingga berada pada level 25390,30 dan indeks NASDAQ juga ditutup dengan mengalami pelemahan sebesar 36 bps sehingga berada pada level 7375,28. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) bertenor 10 tahun mengalami pelemahan sehingga berada pada level 1,212% dan untuk yang bertenor 30 tahun juga ikut melemah di level 1,718%. Adapun untuk pasar obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun didapati perubahan yang positif berada di level 0,166%.
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih kembali berpeluang untuk mengalami kenaikan yang didukung adanya potensi penguatan nilai tukar rupiah di tengah rilisnya data ekonomi kuartal IV 2018 yang tumbuh sebesar 5,18% YoY. Disamping itu,suksesnya lelang penjualan Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin dan kembali turunnya imbal hasil surat utang global turut menjadi katalis positif.
  • Rekomendasi Dengan kombinasi dari beberapa faktor tersebut, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Arah pergerakan harga Surat Utang Negara masih akan banyak dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati diantaranya adalah sebagai berikut ini : FR0071, FR0079, FR0061, FR0056, FR0059 dan FR0053
  • Pemerintah meraup dana senilai Rp10,12 triliun melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara pada tanggal 6 Februari 2019 untuk seri SPNS01082019 (reopening), PBS014 (reopening) PBS019 (reopening), PBS022 (reopening) dan PBS015 (reopening). 

Download PDF