RESEARCH

RESEARCH

08 Februari 2019

Fixed Income Notes 08 Februari 2019

Pada perdagangan hari Kamis, tanggal 7 Februari 2019, Harga Surat Utang Negara mengalami perubahan yang bervariasi yang didukung oleh beberapa sentimen positif serta aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan para investor

Tingkat imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin hari Kamis, tanggal 7 Februari 2019 mengalami arah perubahan yang bervariasi pada sebagian besar seri Surat Utang Negara dengan rata-rata perubahan sebesar 7,2 bps yang didorong oleh kenaikan harga dengan rerata 66 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor pendek, dibawah 5 tahun, mengalami pergerakan terbatas dengan kenaikan harga hingga mencapai 2,6 bps yang mendorong terjadinya pelemahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 3,2 bps. Sementara itu untuk Surat Utang Negara dengan tenor menengah diantara 5 hingga 7 tahun mengalami perubahan tingkat imbal hasil rata-rata sebesar 4,5 bps yang disebabkan oleh menguatnya harga rata-rata sebesar 25 bps. Sedangkan untuk Surat Utang Negara dengan tenor panjang diatas 7 tahun mengalami penurunan tingkat imbal hasil hingga mencapai 52 bps yang didorong oleh kenaikan harga rerata sebesar 90 bps.

Pada perdagangan kemarin, perubahan harga Surat Utang Negara masih didorong oleh beberapa sentimen positif baik dari faktor domestik dan faktor eksternal. Faktor domestik diantaranya ialah data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis diatas prediksi serta tingkat imbal hasil yang menarik yang ditawarkan pada pasar Surat Utang Negara. Adapun dari faktor eksternal sentimen positif datang dari Amerika yang bersifat sabar (dovish) terhadap kenaikan tingkat suku bunga acuannya serta potensi perlambatan ekonomi global. Namun, dampak dari beberapa katalis positif tersebut membuat para pelaku pasar untuk mengambil tindakan aksi ambil untung (profit taking) pada perdagangan kemarin, sehingga harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin cenderung bergerak bervariasi.

Pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika terlihat mengalami arah pergerakan yang beragam ditengah melemahnya imbal hasil US Treasury. Adapun perubahan harga terjadi pada sebagian besar seri Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika. Sementara itu, pergerakan tingkat imbal hasil dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 1,31 bps di level 3,743% yang didorong terjadinya penurunan harga 6,2 bps. Sedangkan, pergerakan tingkat imbal hasil dari seri INDO29 mengalami koreksi sebesar 73,7 bps di level 4,084% yang disebabkan penguatan harga sebesar 6,2 bps. Disamping itu, pada perdagangan kemarin, seri INDO44 didapati mengalami perubahan harga tertinggi sebesar 8,9 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hanya sebesar 0,5 bps. Adapun untuk seri INDO49 mengalami perubahan harga sebesar 4,20 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 0,25 bps. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan kemarin yang mencapai Rp17,251 triliun dari 54 seri Surat Utang Negara. Adapun untuk volume perdagangan Surat Utang Negara dengan volume tertinggi pada perdagangan kemarin didapati pada seri FR0078 sebesar Rp2,441 triliun dari 63 kali transaksi dan kemudian diiringi dengan Surat Utang Negara dengan seri FR0070 dan FR0077 masing-masing sebesar Rp1,988 triliun dari 17 kali perdagangan dan 1,432 triliun dari 36 kali transaksi. Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk terbesar didapati pada seri PBS014 dan seri PBS022 masing-masing senilai Rp785 miliar dari 14 kali transaksi dan Rp350 miliar dari 9 kali perdagangan.

Volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan lebih kecil dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, senilai Rp700 miliar dari 54 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank III Tahap V Tahun 2017 Seri C (BEXI03CCN5) senilai Rp100,00 miliar dari 10 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan surat utang korporasi seri Obligasi Berkelanjutan III Summarecon Agung Tahap I Tahun 2018 (SMRA03CN1) dan seri Obligasi Berkelanjutan I Maybank Finance Tahap IV Tahun 2017 Seri A (BIIF01ACN4) masing-masing senilai Rp58,00 miliar dari 4 kali transaksi dan Rp48,00 miliar untuk 2 kali transaksi. Adapun, selanjutnya didapati seri Obligasi I Pelindo IV Tahun 2018 Seri C (PIKI01C) dengan volume perdagangan sebesar Rp45,00 miliar dari 9 kali perdagangan.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami koreksi sebesar 53,00 pts (0,38%) di level 13973,00 per Dollar Amerika. Bergerak dengan mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan di kisaran 13930,00 hingga 13988,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami pelemahan ditengah nilai tukar mata uang regional yang bergerak dengan arah beragam terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun yang mengalami penguatan tertinggi didapati pada mata uang Ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,53% dan diikuti dengan mata uang Rupee India (INR) dan mata uang Yen Jepang (JPY) yang keduanya mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,22% dan 0,12%. Sedangkan, untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan terkuat didapati pada mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,45% yang diiringi dengan pelemahan nilai tukar mata uang Rupiah Indonesia (IDR) dan mata uang Baht Thailand (THB) masing-masing sebesar 0,38% dan 0,11% terhadap Dollar Amerika.

Pada perdagangan kemarin, imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup mengalami pelemahan sebesar 139 bps yang berada pada level 2,66%, hal yang sama juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun mengalami pelemahan sebesar 126 bps yang berada pada level 2,99% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak melemah. Indeks DJIA ditutup melemah sebesar 87 bps sehingga berada pada level 25169,53 dan indeks NASDAQ juga ditutup dengan mengalami pelemahan sebesar 118 bps sehingga berada pada level 7288,35. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dan obligasi Jerman bertenor 10 tahun keduanya mengalami koreksi sehingga masing-masing berada pada level 1,181% dan 0,107%. Adapun untuk obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 30 tahun mengalami kenaikan sehingga berada di level 1,702% dan untuk obligasi Jerman bertenor 30 tahun mengalami koreksi sehingga berada pada level 0,728%.

Pada perdagangan hari ini, Jumat 8 Februari 2019, kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan kembali bergerak arah perubahan yang bervariasi dengan masih adanya peluang mengalami penurunan di tengah para investor yang melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah terjadi penguatan harga yang signifikan dalam hampir sepekan penuh. Selain itu, pergerakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari ini juga masih akan dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. 

Rekomendasi

Dengan masih terbukanya peluang terjadinya koreksi harga, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus pada seri Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah. Arah pergerakan harga Surat Utang Negara masih akan banyak dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati diantaranya adalah sebagai berikut ini : FR0077, FR0069, FR0061, FR0059, FR0070 dan FR0053.

Pekan depan pemerintah akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada hari Selasa, tanggal 12 Februari 2019.

 

Download PDF