RESEARCH

Company Update

08 Maret 2019

Fixed Income Notes 08 Maret 2019

Pada perdagangan hari Rabu, tanggal 6 Maret 2019, Harga Surat Utang Negara mengalami penurunan yang didukung oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta adanya sentimen negatif dari faktor eksternal.
 
Harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Rabu, tanggal 6 Maret 2019 mengalami penurunan hingga sebesar 32 bps yang mendorong kenaikan tingkat timbal hasil hingga sebesar 3,8 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan mengalami koreksi harga pada keseluruhan serinya, dimana Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 tahun didapati penurunan harga tertinggi yaitu sebesar 33 bps yang menyebabkan terjadinya kenaikan imbal hasil sebesar 3,8 bps yang diikuti oleh penurunan harga pada seri acuan bertenor 10 tahun sebesar 22 bps sehingga mendorong kenaikan imbal hasil sebesar 3 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara dengan tenor 20 tahun didapati penurunan harga sebesar 12 bps yang mengakibatkan terjadinya kenaikan imbal hasil sebesar 1,3 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan bertenor 5 tahun mengalami koreksi harga sebesar 9 bps sehingga berdampak kepada kenaikan imbal hasil sebesar 2,1 bps.
 
Perubahan harga Surat Utang Negara masih didorong oleh beberapa sentimen, diantaranya ialah faktor perubahan nilai tukar Rupiah yang mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika. Hal ini disebabkan oleh beberapa sentimen dari faktor eksternal seperti perang dagang antara China dan Amerika serta isu nuklir yang terjadi di Korea Utara. Beberapa sentimen tersebut berdampak kepada para pelaku pasar yang semakin pesimis terhadap kondisi pasar di regional asia, termasuk Indonesia. Dari sisi domestik, meredupnya optimisme konsumen menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja saham dan nilai tukar rupiah yang terindikasi dari penurunan nilai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada periode Februari 2019 sebesar 0,4 pts dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya sehingga berada di level 125,1. Selain itu, pada akhir pekan ini juga akan dirilis cadangan devisa Indonesia untuk periode Februari 2019 dimana kondisi tersebut membuat para pelaku pasar melakukan aksi wait and see.
 
Pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika terlihat mengalami arah pergerakan yang beragam ditengah menguatnya imbal hasil US Treasury. Adapun perubahan harga terjadi pada sebagian besar seri Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika. Pergerakan harga dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 0,9 bps mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 0,2 bps di level 3,791%. Sedangkan, pergerakan harga dari seri INDO29 dan INDO 44 mengalami koreksi masing-masing sebesar 0,1 bps dan 19,7 bps yang berdampak terhadap penguatan tingkat imbal hasilnya masing-masing di level 4,195% dan 5,021%.  Adapun untuk seri INDO49 mengalami perubahan harga sebesar 10,6 bps yang mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasil hingga sebesar 0,6 bps.  
 
Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan kemarin yang mencapai Rp14,94 triliun dari 39 seri Surat Utang Negara. Adapun untuk volume perdagangan Surat Utang Negara dengan volume tertinggi pada perdagangan kemarin didapati pada seri FR0077 sebesar Rp4,127 triliun dari 42 kali transaksi dan kemudian diiringi dengan Surat Utang Negara dengan seri FR0078 dan FR0068 masing-masing sebesar Rp1,805 triliun dari 37 kali perdagangan dan 1,321 triliun dari 62 kali transaksi. Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk terbesar didapati pada seri PBS013 dan seri PBS012 masing-masing senilai Rp98,54 miliar dari 2 kali transaksi dan Rp40,00 miliar dari 6 kali perdagangan.
 
Volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan lebih besar dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, senilai Rp1,31 triliun dari 48 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap III Tahun 2018 Seri A (ISAT02ACN3) senilai Rp393,00 miliar dari 2 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan surat utang korporasi seri Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap I Tahun 2017 Seri B (ISAT02BCN1) dan seri Obligasi Berkelanjutan IV BFI Finance Indonesia Tahap II Tahun 2019 Seri B (BFIN04BCN2) masing-masing senilai Rp80,00 miliar dari 4 kali transaksi dan Rp75,00 miliar untuk 3 kali transaksi. Adapun, selanjutnya didapati seri Obligasi Medco Power Indonesia I Tahun 2018 Seri A (MEDP01A) dengan volume perdagangan sebesar Rp60,00 miliar dari 12 kali perdagangan.
 
Pada perdagangan hari Rabu, tanggal 6 Maret 2019, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami pelemahan sebesar 17,00 pts (0,11%) di level 14144,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar Rupiah bergerak dengan mengalami perubahan yang bervariasi di sepanjang sesi perdagangan di kisaran 14120,00 hingga 14154,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami pelemahan ditengah nilai tukar mata uang regional yang bergerak dengan arah beragam terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun yang memimpin penguatan mata uang regional didapati pada mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,19%. Selanjutnya, mata uang Peso Filipina (PHP) dan mata uang Yen Jepang (JPY) keduanya mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,15% dan 0,03%. Sedangkan, untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan paling tinggi didapati pada mata uang Ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,35% yang diiringi dengan pelemahan nilai tukar mata uang Won Korea Selatan (KRW) dan mata uang Baht Thailand (THB) masing-masing sebesar 0,30% dan 0,29% terhadap Dollar Amerika. 
 
Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup mengalami penguatan terbatas sebesar 0,5 bps yang berada pada level 2,641%, hal yang sama juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penguatan sebesar 0,2 bps yang berada pada level 3,027% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak melemah. Adapun untuk indeks DJIA ditutup melemah sebesar 78 bps sehingga berada pada level 25473,23 dan indeks NASDAQ juga ditutup dengan mengalami pelemahan sebesar 113 bps sehingga berada pada level 7421,46. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) bertenor 10 tahun mengalami kenaikan sehingga berada di level 1,18% dan untuk tenor 30 juga didapati mengalami kenaikan di level 1,671%. Adapun untuk obligasi Jerman (Bund) untuk tenor 10 tahunnya mengalami penurunan sehingga berada di level 0,062% namun untuk obligasi Jerman dengan tenor 30 tahun mengalami kenaikan terbatas di level 0,73%.
 
Pada perdagangan hari ini, Jumat 8 Maret 2019, kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan kembali bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dengan adanya peluang mengalami penurunan di tengah para investor yang semakin pesimis terhadap kondisi pasar saat ini. Hal ini dipicu oleh ketegangan yang terjadi antara Amerika dengan beberapa negara di regional Asia, yaitu China dan Korea Utara yang secara tidak langsung juga akan berdampak kepada kondisi pasar di Indonesia. Sementara itu, pergerakan harga Surat Utang Negara juga akan cenderung terbatas ditengah investor yang menantikan rilisnya data cadangan devisa Indonesia pada hari ini.
 
Rekomendasi
Dengan masih terbukanya peluang terjadinya koreksi harga, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus pada seri Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah. Arah pergerakan harga Surat Utang Negara masih akan banyak dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati diantaranya adalah sebagai berikut ini : FR0069, FR0053, FR0061, FR0056, FR0059 dan FR0071. 

 

Back Download PDF