RESEARCH

Company Update

11 Juli 2019

Fixed Income Notes 11 Juli 2019

Kombinasi dari berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika serta pergerakan imbal hasil surat utang global yang cenderung mengalami kenaikan mendorong kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Rabu, 11 Juli 2018.
 
Koreksi harga yang terjadi pada perdagangan kemarin kembali mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara dimana kenaikan yang terjadi berkisar antara 1-6 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan sebesar 1 bps. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami penurunan yang terbatas berkisar antara 0,5 - 4 bps dengan didorong oleh adanya peningkatan harga yang berkisar antara 1 - 8 bps. Sementara itu imbal hasil dari Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami perubahan berkisar antara 0,5 - 2 bps yang didorong oleh adanya koreksi harga hingga sebesar 1 bps. Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan berkisar antara 6—7  bps dengan adanya koreksi harga berkisar 45—65 bps. 

Aksi ambil untung oleh investor di tengah pelemahan nilai tukar rupiah serta harga surat utang global yang juga mengalami koreksi menjadi faktor yang mendorong terjadinya koreksi harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin sehingga berakibat terhadap terjadinya kenaikan imbal hasilnya. Namun demikian, koreksi harga yang terjadi tidak didukung oleh volume perdagangan, dimana pada perdagangan kemarin volume perdagangan yang dilaporkan justru mengalami penurunan. Hal tersebut mengidikasikan bahwa pelaku pasar tidak cukup aktif melakukan transaksi di pasar sekunder jelang disampaikannya rilis data Inflasi Amerika Serikat serta data neraca perdagangan pada pekan depan. 

Dengan demikian, koreksi harga yang terjadi telah mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 2 bps di level 6,754% dan untuk tenor 10 tahun imbal hasilnya naik sebesar 6 bps di level 7,306%. Adapun untuk tenor 15 tahun imbal hasilnya naik sebesar 3,2 bps di level 7,616% dan tenor 20 tahun imbal hasilnya ditutup naik sebesar 3 bps di level 7,791%. 

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, pergerakan imbal hasilnya ditutup mengalami kenaikan imbal hasil mengikuti kenaikan imbal hasil surat utang global. Imbal hasil dari INDO24 ditutup naik 1,3 bps di level 2,967%. Adapun untuk imbal hasil dari INDO29 ditutup naik sebesar 5,3 bps di level 3,356% dan imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 yang ditutup mengalami kenaikan 2,5 bps masing - masing di level 4,309% dan 4,192% setelah mengalami penurunan harga masing-masing sebesar 47 bps dan 53 bps. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp20,45 triliun dari 50 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan, dimana untuk seri acuan, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp7,72 triliun. Obligasi Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,94 triliun dari 52 kali transaksi di harga rata - rata 105,5% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp2,94 triliun dari 115 kali transaski di harga rata - rata 106,50%. 
 
Adapun dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,88 triliun dari 57 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan III Bank BTN Tahap II Tahun 2019 Seri A (BBTN03ACN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp307,00 miliar dari 10 kali transaksi di harga rata - rata 100,20% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap V Tahun 2019 Seri B (BEXI04BCN5) senilai Rp238,00 miliar dari 11 kali transaksi di harga 100,75%. 

Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika kembali ditutup dengan pelemahan yang terbatas, sebesar 3,00 pts (0,02%) pada level 14133,00 per dollar Amerika. Bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14129,00 hingga 14155,00 per dollar Amerika, pelemahan nilai tukar rupiah seiring dengan arah pergerakan mata uang regional yang bergerak bervariasi terhadap dollar Amerika. Pelemahan mata uang regional dipimpin oleh Peso Filipina (PHP) sebesar 0,30% dan diikuti oleh Dollar Hongkong (HKD) dan Won Korea Selatan (KRW) masing-masing melemah sebesar 0,10% dan 0,09%. Sedangkan penguatan tertinggi didapati pada mata uang Ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,11% yang diikuti oleh Dollar Taiwan (TWD) dan Renminbi China (CNY) masing-masing menguat sebesar 0,08% dan 0,07% terhadap Dollar Amerika.  

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan cenderung bergerak terbatas dengan masih berpeluang untuk mengalami penurunan ditengah pelemahan nilai tukar rupiah. Adapun dari perdagangan surat utang global, imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun pada perdagangan di akhir pekan kemarin ditutup dengan mengalami penurunan di level 2,044% jelang dirilisnya data inflasi Amerika. Sementara itu imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dengan tenor yang sama pada perdagangan kemarin terlihat mengalami penurunan dimana ditutup turun pada level -0,307%, sedangkan untuk surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan di level 0,766%. Adanya koreksi harga pada pasar surat utang global kami perkirakan akan berdampak negatif terhadap perdagangan Surat Utang Negara pada hari ini serta dibayangi faktor teknikal yang mengindikasikan adanya perubahan menjadi penurunan harga di pasar sekunder. Indikator teknikal menunjukkan bahwa harga Surat Utang Negara berada di area resisten yang mengakibatkan penurunan harga yang terlihat pada sebagian besar surat utang negara dengan tenor penjang. Hal tersebut kami perkirakan akan membuka peluang terjadinya koreksi harga Surat Utang Negara dengan tenor menengah dan panjang dalam jangka pendek. 

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan melakukan strategi trading pada Surat Utang Negara bertenor pendek dan menengah bagi investor dengan horizon investasi jangka pendek, dimana pilihan seri yang kami sarankan diantaranya adalah seri FR0034, FR0053, FR0063, FR0070, FR0056, FR0064, FR0071, FR0073. 
 
Rencana Penjualan Savings Bond Ritel (SBR) Seri SBR007

Back Download PDF