33333fixed-income-notes-11-maret-2019fixed-income-notes-11-
RESEARCH

MNCS Daily Scope Wave

11 Maret 2019

Fixed Income Notes 11 Maret 2019

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, hari Jumat, tanggal 8 Maret 2019, perubahan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Kenaikan imbal hasil yang terjadi pada perdagangan akhir pekan mencapai 12,2 bps dengan rata-rata kenaikan sebesar 5,5 bps. Hal ini didorong oleh turunnya harga Obligasi Negara rata-rata sebesar 38 bps. Adapun untuk Obligasi Negara seri acuan semua serinya mengalami kenaikan imbal hasil hingga sebesar 11 bps yang diakibatkan oleh turunnya harga Obligasi Negara hingga sebesar 93 bps. Adapun kenaikan imbal hasil terbesar didapati pada Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 tahun sebesar 11 bps di level 8,321% yang didorong oleh koreksi harga obligasi sebesar 93 bps dan dilanjutkan pada Surat Utang Negara bertenor 20 tahun yang ditutup dengan mengalami kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 8,1 bps dilevel 8,391% yang di akibatkan oleh turunya harga sebesar  80 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun dan 5 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 7,8 bps di level 7,939% dan 5,8 bps di level 7,516% yang disebabkan oleh terjadinya penurunan harga sebesar 55 bps dan 25 bps. 

Kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin masih didorong oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Hal ini disebabkan kekhawatiran para pelaku pasar yang muncul akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global setelah Bank Sentral Eropa menurunkan perkiraan ekonomi globalnya serta memperpanjang stimulus moneternya yang bersifat dovish, akibatnya mata uang Euro melemah dan membuat mata uang Dollar Amerika semakin kuat. Sementara itu, data perdagangan ekspor China pada bulan Februari turun lebih dari 20% dari tahun sebelumnya serta berlanjutnya ketidakpastian perang dagang antara Amerika dan China dimana China memangkas tujuan ekspansi ekonominya di beberapa negara berkembang. Adapun dari faktor domestik memiliki sentimen yang baik. Hal ini terindikasi dari inflasi yang rendah, masuknya modal asing yang terus berjalan serta cadangan devisa yang meningkat dari bulan sebelumnya. Dari adanya beberapa sentimen diatas, kami melihat bahwa pelaku pasar cenderung menahan diri (wait and see) untuk melakukan transaksi di pasar sekunder dimana koreksi harga pada perdagangan kemarin tidak diikuti oleh volume perdagangan yang besar, volume perdagangan cenderung turun dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya.  

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, tingkat imbal hasil masih terlihat mengalami kenaikan pada sebagian besar serinya. Hal ini terjadi ditengah penurunan imbal hasil surat utang global. Adapun seri INDO29 mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 0,7 bps sehingga berada di level 4,192% yang didorong oleh turunnya harga sebesar 6,1 bps yang diikuti oleh seri INDO44 dan INDO49 yang didapati mengalami kenaikan imbal hasil masing-masing sebesar 0,5 bps di level 5,021% dan 0,2 bps di level 4,917% yang berdampak setelah turunnya harga sebesar 8,7 bps dan 4,4 bps. Sedangkan untuk seri INDO24 mengalami kenaikan harga sebesar 6,8 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 1,5 bps di level 3,756%.

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan hari Jumat, tanggal 8 Maret 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp14,74 triliun dari 40 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Adapun Surat Utang Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,86 triliun dari 30 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp1,80 triliun dari 56 kali transaksi. Sementara itu, untuk perdagangan Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp260 miliar dari 7 kali transaksi dan diiringi dengan volume Project Based Sukuk seri PBS0016 sebesar Rp252,00 dari 4 kali transaksi.

Volume perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,24 triliun dari 26 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Adapun untuk Obligasi Berkelanjutan I Surya Semesta Internusa Tahap I Tahun 2016 Seri A (SSIA01ACN1) menjadi obligasi koporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp200,00 miliar dari 6 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan II Tower Bersama Infrastructure Tahap I Tahun 2016 (TBIG02CN1) senilai Rp200,00 miliar dari 6 kali perdagangan. Selanjunya, untuk obligasi korporasi dengan volume Rp160,00 miliar dari 4 kali transaksi didapati pada perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Waskita Karya Tahap II Tahun 2015 Seri B (WSKT01BCN2).

Pada perdagangan di akhir pekan kemarin pada tanggal 8 Maret 2019, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami pelemahan sebesar 171 pts (1,19%) di level 14315,00 per Dollar Amerika. Pergerakan nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14200,00 hingga 14338,00 per Dollar Amerika. Adapun nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami pelemahan di tengah mata uang regional yang mengalami perubahan yang bervariasi. Mata uang regional yang memimpin penguatan didapati pada mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,42% diikuti oleh  mata uang Rupee India (INR) yang mengalami penguatan sebesar 0,11% terhadap mata uang Dollar Amerika. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Rupiah Indonesia (IDR) yang melemah sebesar 1,19% diiringi dengan pelemahan mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,63% dan mata uang Peso Filipina (PHP) yang melemah sebesar 0,17% terhadap mata uang Dollar Amerika.

Adapun Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami koreksi terbatas sebesar 0,6 bps pada level 2,63% yang diikuti dengan US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penurunan sebesar 1,2 bps sehingga berada pada level 3,013%. Pelemahan imbal hasil US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang ditutup dengan mengalami pelemahan, dimana indeks NASDAQ ditutup melemah sebesar 18 bps sehingga berada pada level 7408,14 sedangkan untuk indeks DJIA juga turut mengalami koreksi sebesar 9 bps sehingga berada pada level 25450,24. Sementara itu untuk obligasi Inggris (Gilt) mengalami penurunan pada semua tenornya, baik pada tenor 5, 10 dan 30 tahun, masing-masing sebesar 0,89%, 1,17%, dan 1,69%. Sedangkan untuk obligasi Jerman (Bund) mengalami penurunan untuk semua tenornya baik itu bertenor 10, 20, dan 30 tahun masing-masing sebesar 0,071%, 0,428%, 0,705%.

Pada perdagangan awal pekan ini tanggal 11 Maret 2019, kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan kembali bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dengan adanya peluang mengalami penurunan di tengah para investor yang semakin pesimis terhadap kondisi pasar saat ini. Hal ini didorong oleh ketegangan perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China serta semakin kuatnya nilai tukar mata uang Dollar Amerika terhadap beberapa mata uang regional akibat rilis data tingkat pengangguran Amerika Serikat yang turun sebesar 20 bps di level 3,8% pada hari akhir pekan kemarin.

Rekomendasi

Dengan masih terbukanya peluang terjadinya koreksi harga, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus pada seri Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah. Arah pergerakan harga Surat Utang Negara masih akan banyak dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati diantaranya adalah sebagai berikut ini : FR0069, FR0053, FR0061, FR0070, FR0056, FR0059, dan FR0071.

Pada sepekan kedepan terdapat lima surat utang yang akan jatuh tempo senilai Rp42,24 triliun. 

Back Download PDF