RESEARCH

RESEARCH

12 Februari 2019

Fixed Income Notes 12 Februari 2019

Jelang lelang hari ini, Pergerakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin, hari Senin, tanggal 11 Februari 2019 mengalami koreksi ditengah sentimen negatif pasar global serta masih dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.*
 
Perubahan tingkat imbal hasil mencapai 9,8 bps dengan rata-rata kenaikan sebesar 4,4 bps setelah mengalami adanya koreksi harga hingga sebesar 102 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan, semua serinya mengalami kenaikan imbal hasil yang berkisar antara 5,3 bps hingga 9,8 bps didorong oleh adanya penurunan harga hingga berkisar antara 23 bps hingga 86 bps. Kenaikan tingkat imbal hasil tertinggi didapati pada Surat Utang Negara seri acuan bertenor 15 tahun sebesar 9,8 bps setelah mengalami penurunan harga sebesar 86 bps dan diiringi dengan Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun dan 20 tahun yang mengalami kenaikan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 7,4 bps dan 6 bps yang disebabkan oleh perubahan harga masing-masing sebesar 52 bps dan 59 bps. Adapun untuk perubahan tingkat imbal hasil terendah didapati pada Surat Utang Negara seri acuan bertenor 5 tahun sebesar 5,3 bps yang diakibatkan oleh penurunan harga sebesar 23 bps.
 
Pada perdagangan awal pekan ini, pergerakan harga Surat Utang Negara kembali bergerak dengan kecenderungan mengalami koreksi ditengah sentimen negatif perlambatan pertumbuhan ekonomi global akibat dirilisnya data Industrial Production Italia dan Perancis periode Desember 2018 yang mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Dengan dirilisnya data tersebut para pelaku pasar merespon kemungkinan pelemahan ekonomi untuk wilayah eropa sehingga mengalihkan aset investasinya ke instrumen yang lebih aman. Selain itu, isu perang dagang antara Amerika dan China juga memicu kekhawatiran para investor akibat tidak ditemuinya kesepakatan dagang lebih lanjut antara Amerika dan China. Adapun penurunan harga Surat Utang Negara juga masih dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah yang mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan kemarin.
 
Kenaikan imbal hasil juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah penguatan imbal hasil US Treasury. Kenaikan tingkat imbal hasil didapati pada sebagian besar seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika. Imbal hasil INDO24 dan INDO29 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 5,9 bps di level 3,843% dan 3,1 bps di level 4,171% yang didorong terjadinya penurunan harga sebesar 28 bps dan 26,6 bps. Adapun imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 1,8 bps di level 4,974% dan 2,9 bps di level 4,917% setelah mengalami adanya koreksi harga sebesar 30,6 bps dan 48,7 bps. 
 
Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, senilai Rp5,52 triliun dari 44 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan. Adapun untuk volume perdagangan Surat Utang Negara dengan volume tertinggi didapati pada seri FR0078 sebesar Rp2,509 triliun dari 48 kali transaksi dan kemudian dilanjutkan dengan Surat Utang Negara dengan seri FR0077 dan FR0065 masing-masing sebesar Rp1,826 triliun dari 28 kali perdagangan dan Rp1,462 triliun dari 28 kali transaksi. Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara, volume Sukuk Negara Ritel terbesar didapati pada seri SR008 senilai Rp563,49 miliar dari 12 kali transaksi dan diiringi oleh volume Project Sukuk Negara seri PBS016 senilai Rp270,00 miliar untuk 2 kali transaksi. 
 
Pada perdagangan awal pekan ini, volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan lebih kecil dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, senilai Rp625,66 miliar dari 47 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan II Bank CIMB Niaga Tahap I Tahun 2016 Seri B (BNGA02BCN1) senilai Rp101,00 miliar dari 2 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan surat utang korporasi seri Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap I Tahun 2016 Seri B (BBRI02BCN1) dan seri  Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap II Tahun 2018 Seri C (ADMF04CCN2) masing-masing senilai Rp60,00 miliar dari 3 kali transaksi dan Rp50,00 miliar untuk 1 kali transaksi. Adapun, selanjutnya didapati seri Obligasi I Indonesia Infrastructure Finance Tahun 2016 Seri A (IIFF01A) dengan volume perdagangan sebesar Rp45,00 miliar untuk 1 kali transaksi.
 
Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami pelemahan sebesar 73 pts (0,52%) di level 14038,00 per Dollar Amerika. Pergerakan nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 13940,00 hingga 14048,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami pelemahan seiring dengan pelemahan sebagian besar nilai tukar mata uang regional terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun yang mengalami penguatan tertinggi didapati pada mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,31% diiringi dengan mata uang Rupee India (INR) yang juga mengalami penguatan sebesar 0,18%. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan paling tinggi didapati pada mata uang Renminbi China (CNY) sebesar 0,66% kemudian diikuti dengan nilai tukar mata uang Rupiah Indonesia (IDR), mata uang Yen Jepang (JPY), mata uang Dollar Taiwan (TWD) yang mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika masing-masing sebesar 0,52%, 0,43%, dan 0,23%. 
 
Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup mengalami penguatan sebesar 75 bps yang berada pada level 2,65%, hal yang sama juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penguatan sebesar 40 bps yang berada pada level 2,99% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak bervariasi. Indeks NASDAQ ditutup menguat sebesar 13 bps sehingga berada pada level 7307,90 sedangkan untuk indeks DJIA ditutup dengan mengalami pelemahan sebesar 21 bps sehingga berada pada level 25053,11. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami penguatan di level 1,18% seiring dengan kenaikan obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun di level 0,12%. Adapun untuk obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 30 tahun mengalami kenaikan pada level 1,688% namun, untuk obligasi Jerman bertenor 30 tahun mengalami koreksi sehingga berada pada level 0,742%.
 
Pada perdagangan hari ini, kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan cenderung bergerak terbatas jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara. Pada hari ini pemerintah berencana untuk mengadakan lelang penjualan Surat Utang Negara dengan target penerbitan senilai Rp15 triliun dari tujuh seri Surat Utang Negara yang ditawarkan kepada investor. Kami perkirakan pelaku pasar masih akan mencermati pelaksanaan lelang sebelum kembali melakukan transaksi di pasar sekunder. 
 
Rekomendasi
Dengan beberapa faktor pertimbangan di atas, harga Surat Utang Negara masih akan bergerak berfluktuasi dalam jangka pendek, maka kami masih menyarankan Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah sebagai pilihan investasi. Selain itu, kami juga tetap menyarankan kepada investor untuk mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan fokus pada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0070, FR0077, FR0053, FR0073, FR0074, dan FR0056.
 
Rencana Lelang Surat Utang Negara seri SPN03190513 (New Issuance), SPN12200213 (New Issuance), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0068 (Reopening), FR0079 (Reopening) dan FR0076 (Reopening) pada hari Selasa, tanggal 12 Februari 2019.
 
Pemerintah akan melakukan lelang penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang Rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2019. Target penerbitan senilai Rp15.000.000.000.000,00 (lima belas triliun rupiah) dengan seri – seri yang akan dilelang adalah sebagai berikut : 
 
- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN03190513 (Diskonto; 13 Mei 2019);
- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN12200213 (Diskonto; 13 Februari 2020);
- Obligasi Negara seri FR0077 (8,12500%; 15 Mei 2024);
- Obligasi Negara seri FR0078 (8,25000%; 15 Mei 2029);
- Obligasi Negara seri FR0068 (8,37500%; 15 Mei 2034); 
- Obligasi Negara seri FR0079 (8,37500%; 15 April 2039); dan
- Obligasi Negara seri FR0076 (7,37500%; 15 Mei 2048).
 
Kami perkirakan jumlah penawaran yang masuk akan berkisar antara Rp45—55 triliun dengan jumlah penawaran yang cukup besar akan didapati pada instrumen Surat Perbendaharaan Negara serta pada Obligasi Negara seri FR0077 dan FR0078. Adapun berdasarkan kondisi pergerakan harga Surat Utang Negara menjelang pelaksanaan lelang, maka kami perkirakan tingkat imbal hasil yang akan dimenangkan adalah sebagai berikut :
 
- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN03190513 berkisar antara 5,78 - 5,87;
- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN12200213 berkisar antara 6,06 - 6,15;
- Obligasi Negara seri FR0077 berkisar antara 7,75 - 7,84;
- Obligasi Negara seri FR0078 berkisar antara 8,06 - 8,15;
- Obligasi Negara seri FR0068 berkisar antara 8,12 - 8,21; 
- Obligasi Negara seri FR0079 berkisar antara 8,21 - 8,31; dan 
- Obligasi Negara seri FR0076 berkisar antara 8,75 - 8,84. 
 
Lelang akan dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Februari 2019, dibuka pukul 10.00 WIB dan ditutup pukul 12.00 WIB. Adapun hasil dari pelaksanaan akan diumumkan pada hari yang sama dan hasil dari lelang akan didistribusikan pada hari Kamis, tanggal 14 Februari 2019. Di tahun 2019, target penerbitan bersih (net issuance) Surat Berharga Negara senilai Rp389,0 triliun dimana pada kuartal I tahun 2019 pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Berharga Negara melalui lelang senilai Rp185,00 triliun dari 7 kali lelang Surat Utang Negara dan 6 kali lelang Sukuk Negara. Pada lelang sebelumnya pemerintah meraup dana senilai Rp23,20 triliun dari total penawaran yang masuk mencapai Rp48,61 triliun. 

Download PDF