RESEARCH

Company Update

12 Juni 2019

Fixed Income Notes 12 Juni 2019

Pada perdagangan hari Selasa, tanggal 11 Juni 2019, harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan yang masih didorong oleh sentimen global akan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga acuan global
 
Pada perdagangan kemarin, hari Selasa, tanggal 11 Juni 2019, perubahan harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan hingga mencapai 190 bps yang mendorong adanya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 23 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan, semua serinya mengalami kenaikan harga yang berkisar antara 7 bps hingga 64 bps yang mengakibatkan adanya penurunan tingkat imbal hasil hingga 7,4 bps. Adapun perubahan harga tertinggi didapati pada seri acuan dengan tenor 15 tahun sebesar 64 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 7 bps di level 8,045% dan diikuti oleh perubahan harga seri acuan bertenor 20 tahun dan 5 tahun yang masing-masing naik sebesar 26 bps dan 12 bps sehingga berdampak kepada perubahan imbal hasil masing-masing sebesar 2,6 bps di level 8,190% dan 3 bps di level 7,289%. Adapun perubahan harga terendah didapati pada seri acuan dengan tenor 10 tahun sebesar 7 bps yang mengakibatkan ternjadinya penurunan imbal hasil sebesar 1,1 bps di level 7,699%. 

Kenaikan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin masih dipicu oleh sentimen positif dari ekspektasi para pelaku pasar terhadap penurunan suku bunga acuan dari beberbagai negara maju akibat ancaman perlambatan ekonomi global. Bank Dunia memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 30 bps yang semula 2,9% menjadi 2,6% pada pekan lalu. Meningkatnya kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan pada beberapa negara maju, terutama The Fed, akan berdampak pada pelaku pasar yang memanfaatkan momomentum tersebut untuk meningkatkan kepemilikan aset dibeberapa negara berkembang untuk mendapatkan tingkat imbal hasil yang lebih baik. Hanya saja, kenaikan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin tidak diikuti oleh kenaikan surat utang pada negara-negara berkembang lainnya. Para pelaku pasar masih melihat fundamental ekonomi Indonesia yang membaik setelah adanya kenaikan rating/peringkat surat utang Indonesia yang dilakukan oleh Standard & Poors (S&P) yang semula dari “BBB-” menjadi “BBB”.
 
Kenaikan imbal hasil terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah beragamnya imbal hasil US Treasury. Kenaikan imbal hasil tersebut didapati pada semua seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika. Perubahan harga INDO 24 dan INDO 29 mengalami penurunan masing-masing sebesar 4 bps dan 32,8 bps yang berdampak pada kenaikan imbal hasil masing-masing sebesar 9 bps di level 3,162% dan 3,8 bps di level 3,502%. Adapun untuk seri INDO44 dan INDO 49 didapati penurunan harga masing-masing sebesar 58,3 bps dan 46,4 bps sehingga mengakibatkan naiknya tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 3,1 bps di level 4,445% dan 2,5 bps di level 4,334%. 
 
Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp18,69 triliun dari 41 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar cukup aktif melakukan transaksi perdagangan. Adapun Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,75 triliun dari 79 kali transaksi di harga rata - rata 103,43% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0068 dan FR0077 masing-masing senilai Rp1,62 triliun dari 85 kali transaksi di harga rata - rata 102,05% dan Rp1,56 triliun dari 49 kali transaksi di harga rata - rata 104,12%. 
 
Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,49 triliun dari 42 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Adapun untuk seri Obligasi Berkelanjutan III WOM Finance Tahap II Tahun 2019 Seri A (WOMF03ACN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp519,00 miliar dari 24 kali transaksi di harga rata - rata 100,03% dan diikuti oleh Sukuk Ijarah TPS Food II Tahun 2016 (SIAISA02) dan Obligasi I Bank UOB Indonesia Tahun 2015 Seri C (BBIA01C) masing-masing senilai Rp508,00 miliar dari 14 kali transaksi di harga rata - rata 83,54% dan Rp56,00 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata-rata 101,65%. 
 
Pada perdagangan kemarin, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami penguatan sebesar 10 pts (0,07%) di level 14240,00 per Dollar Amerika. Pergerakan nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan pada awal sesi perdagangan kemarin, namun kembali menguat pada pertengahan sesi hingga akhir sesi perdagangan dan bergerak pada kisaran 14235,00 hingga 14263,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami penguatan seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional yang menguat terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun mata uang Peso Filipina (PHP) memimpin penguatan  sebesar 0,49% diiringi dengan mata uang Won Korea Selatan (KRW) dan mata uang Rupee India (INR) yang juga mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,38% dan 0,30%. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan satu-satunya didapati pada mata uang Yen Jepang (JPY) yang mengalami koreksi sebesar 0,23% terhadap Dollar Amerika.  
 
Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami penguatan yang terbatas sehingga berada di level 2,141%, namun untuk US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami pelemahan sehingga berada di level 2,613%. Pergerkan US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak melemah dimana indeks DJIA ditutup melemah terbatas sebesar 5 bps sehingga berada pada level 26048,51 dan indeks NASDAQ juga ditutup melemah sebesar 1 bps sehingga berada pada level 7822,57. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan tenor 30 tahun mengalami pelemahan masing-masing di level 0,842% dan 1,429%. Adapun untuk obligasi Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun, keduanya mengalami penguatan masing-masing pada level –0,23% dan 0,386%. 
 
Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak bervariasi dengan masih berpeluang untuk mengalami kenaikan yang terbatas. Perubahan harga Surat Utang Negara tersebut masih didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika akibat optimisnya para pelaku pasar terhadap kelanjutan isu penurunan suku bunga acuan akibat adanya perlambatan ekonomi global. Selain itu, para pelaku pasar juga menantikan suku bunga acuan yang akan disampaikan pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada pertengahan bulan ini di tanggal 15-16 Juni 2019. 

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara. Kami merekomendasikan kepada investor untuk melakukan strategi trading di tengah pergerakan harga Surat Utang Negara yang cenderung bergerak berfluktuasi dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0031, FR0053, FR0061, FR0035, FR0043, FR0059, FR0071, dan FR0058.
 
 Kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara mengalami kenaikan senilai Rp304,00 miliar.

Back Download PDF