33333fixed-income-notes-12-maret-2019fixed-income-notes-12-
RESEARCH

MNCS Daily Scope Wave

12 Maret 2019

Fixed Income Notes 12 Maret 2019

Pergerakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin, hari Senin, tanggal 11 Maret 2019 mengalami kenaikan ditengah pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang cukup fluktuatif.

Perubahan harga yang terjadi pada peradagangan kemarin mencapai 30,5 bps dengan rata-rata kenaikan sebesar 0,5 bps yang mendorong adanya penurunan imbal hasil hingga sebesar 4,9 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan, semua serinya mengalami kenaikan harga yang berkisar antara 8 bps hingga 25 bps sehingga berdampak pada penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 2,6 bps. Kenaikan harga tertinggi didapati pada Surat Utang Negara seri acuan bertenor 20 tahun sebesar 25 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 2,6 bps dan diiringi dengan Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun dan 15 tahun yang mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 19 bps dan 16 bps yang berdampak pada perubahan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 2,6 bps dan 1,9 bps. Adapun untuk perubahan harga terendah didapati pada Surat Utang Negara seri acuan bertenor 5 tahun sebesar 8 bps yang mengakibatkan  penurunan tingkat imbal hasil sebesar 2 bps.

Pada perdagangan awal pekan ini, pergerakan harga Surat Utang Negara kembali bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan. Hal ini masih dipengaruhi oleh faktor nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Pada perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika cukup berfluktuatif dimana pada awal perdagangan rupiah sempat melemah, namun di tengah sesi hingga berakhirnya perdagangan Rupiah mulai menguat kembali. Penguatan rupiah ini terjadi akibat faktor technical rebound mengingat sepanjang pekan lalu rupiah turun sebesar 1,38% sehingga depresiasi rupiah yang cukup dalam dan didorong oleh faktor fundamental domestik yang cukup baik akan membuat para investor tertarik. Selain itu, diperkuat juga oleh pernyataan Bank Indonesia dimana Bank Indonesia akan menjaga likuiditas di pasar uang. Sementara itu, pada hari ini juga akan dilakukan lelang penjualan surat utang yang ditargetkan sebesar Rp 15 triliun dari tujuh seri surat utang yang ditawarkan kepada investor.

Kenaikan harga juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah penguatan imbal hasil US Treasury. Kenaikan harga didapati pada sebagian besar seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika. Harga INDO24 dan INDO29 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 11,3 bps dan 5,8 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 2,4 bps di level 3,728% dan 0,7 bps di level 4,184%. Adapun harga dari INDO44 mengalami kenaikan sebesar 9 bps yang berdampak pada penurunan imbal hasil sebesar 0,5 bps di level 5,016%. Sedangkan untuk INDO49 mengalami penurunan harga sebesar 3 bps yang mengakibatkan terjadinya kenaikan imbal hasil sebesar 0,2 bps di level 4,918%.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, senilai Rp14,35 triliun dari 44 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan. Adapun untuk volume perdagangan Surat Utang Negara dengan volume tertinggi didapati pada seri FR0068 sebesar Rp2,29 triliun dari 31 kali transaksi dan kemudian dilanjutkan dengan Surat Utang Negara dengan seri FR0078 dan FR0063 masing-masing sebesar Rp1,98 triliun dari 45 kali perdagangan dan Rp1,35 triliun dari 20 kali transaksi. Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara, volume Project Based Sukuk terbesar didapati pada seri PBS014 senilai Rp320,21 miliar dari 13 kali transaksi dan diiringi oleh volume Sukuk Negara Ritel seri SR009 senilai Rp224,88 miliar untuk 51 kali transaksi. 

Pada perdagangan awal pekan ini, volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan lebih kecil dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, senilai Rp969,25 miliar dari 49 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap I Tahun 2018 Seri A (BEXI04ACN1) senilai Rp110,00 miliar dari 4 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan surat utang korporasi seri Obligasi Berkelanjutan III FIF Tahap III Tahun 2018 Seri B (FIFA03BCN3) dan seri  Obligasi Berkelanjutan IV Mandiri Tunas Finance Tahap I Tahun 2019 Seri A (TUFI04ACN1) masing-masing senilai Rp100,00 miliar dari 4 kali transaksi dan Rp74,00 miliar untuk 3 kali transaksi. Adapun, selanjutnya didapati seri Obligasi Berkelanjutan II Bank Maybank Indonesia Tahap I Tahun 2017 Seri A (BNII02ACN1) dengan volume perdagangan sebesar Rp70,00 miliar untuk 4 kali transaksi.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami penguatan sebesar 24 pts (1,55%) di level 14291,00 per Dollar Amerika. Pergerakan nilai tukar Rupiah pada awal perdagangan mengalami pelemahan kemudian bergerak mengalami penguatan terhadap mata uang Dollar Amerika hingga akhir sesi perdagangan. Penguatan nilai tukar Rupiah tersebut bergerak pada kisaran 14276 hingga 14339 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut menguat ditengah pergerakan mata uang regional yang beragam. Adapun yang memimpin penguatan mata uang regional didapati pada mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,37% dan kemudian diiringi dengan penguatan mata uang Won Korea Selatan (KRW) dan mata uang Rupiah Indonesia (IDR) masing-masing sebesar 0,22% dan 0,17%. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan paling tinggi didapati pada mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,06% kemudian diikuti dengan nilai tukar mata uang Renminbi China (CNY), mata uang Dollar Singapura (SGD), mata uang Dollar Taiwan (TWD) yang mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika masing-masing sebesar 0,04%, 0,04%, dan 0,02%. 

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup mengalami penguatan masing-masing sebesar 1,8 bps dan 1 bps yang berada pada level 2,659% dan 3,041%. Kenaiakan US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak mengalami kenaikan. Indeks NASDAQ ditutup menguat sebesar 202 bps sehingga berada pada level 7558,06 dan untuk indeks DJIA juga ditutup dengan mengalami penguatan sebesar 79 bps sehingga berada pada level 25650,88. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) ditutup dengan mengalami pelemahan di semua tenor. Adapun surat utang inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami penurunan masing-masing di level 1,178% dan 1,687%. Namun, untuk obligasi Jerman (Bund) ditutup dengan mengalami kenaikan di semua tenornya, baik dengan tenor 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun sehingga masing-masing berada di level 0,071%, 0,444%, dan 0,73%. 

Pada perdagangan hari ini, kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan cenderung bergerak terbatas jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara. Pada hari ini pemerintah berencana untuk mengadakan lelang penjualan Surat Utang Negara dengan target penerbitan senilai Rp15 triliun dari tujuh seri Surat Utang Negara yang ditawarkan kepada investor. Kami perkirakan pelaku pasar masih akan mencermati pelaksanaan lelang sebelum kembali melakukan transaksi di pasar sekunder. 

Rekomendasi Dengan beberapa faktor pertimbangan di atas, harga Surat Utang Negara masih akan bergerak berfluktuasi dalam jangka pendek, maka kami masih menyarankan Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah sebagai pilihan investasi. Selain itu, kami juga tetap menyarankan kepada investor untuk mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan fokus pada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0069, FR0070, FR0056, FR0071, FR0073, dan FR0058.

Rencana Lelang Surat Utang Negara seri SPN03190613 (New Issuance), SPN12200313 (New Issuance), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0068 (Reopening), FR0079 (Reopening) dan FR0076 (Reopening) pada hari Selasa, tanggal 12 Maret 2019.

Pemerintah akan melakukan lelang penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang Rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2019. Target penerbitan senilai Rp15.000.000.000.000,00 (lima belas triliun rupiah) dengan seri – seri yang akan dilelang adalah sebagai berikut : 

- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN03190613 (Diskonto; 13 Juni 2019);

- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN12200313 (Diskonto; 13 Maret 2020);

- Obligasi Negara seri FR0077 (8,12500%; 15 Mei 2024);

- Obligasi Negara seri FR0078 (8,25000%; 15 Mei 2029);

- Obligasi Negara seri FR0068 (8,37500%; 15 Mei 2034); 

- Obligasi Negara seri FR0079 (8,37500%; 15 April 2039); dan

- Obligasi Negara seri FR0076 (7,37500%; 15 Mei 2048).

Kami perkirakan jumlah penawaran yang masuk akan berkisar antara Rp60—75 triliun dengan jumlah penawaran yang cukup besar akan didapati pada instrumen Surat Perbendaharaan Negara serta pada Obligasi Negara seri FR0077 dan FR0078. Adapun berdasarkan kondisi pergerakan harga Surat Utang Negara menjelang pelaksanaan lelang, maka kami perkirakan tingkat imbal hasil yang akan dimenangkan adalah sebagai berikut :

- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN03190613 berkisar antara 5,71 - 5,81;

- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN12200313 berkisar antara 6,03 - 6,12;

- Obligasi Negara seri FR0077 berkisar antara 7,46 - 7,56;

- Obligasi Negara seri FR0078 berkisar antara 7,87 - 7,96;

- Obligasi Negara seri FR0068 berkisar antara 8,25 - 8,34; 

- Obligasi Negara seri FR0079 berkisar antara 8,34 - 8,43; dan 

- Obligasi Negara seri FR0076 berkisar antara 8,56 - 8,65. 

Lelang akan dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Maret 2019, dibuka pukul 10.00 WIB dan ditutup pukul 12.00 WIB. Adapun hasil dari pelaksanaan akan diumumkan pada hari yang sama dan hasil dari lelang akan didistribusikan pada hari Kamis, tanggal 14 Maret 2019. Di tahun 2019, target penerbitan bersih (net issuance) Surat Berharga Negara senilai Rp389,0 triliun dimana pada kuartal I tahun 2019 pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Berharga Negara melalui lelang senilai Rp185,00 triliun dari 7 kali lelang Surat Utang Negara dan 6 kali lelang Sukuk Negara. Pada lelang sebelumnya pemerintah meraup dana senilai Rp22,00 triliun dari total penawaran yang masuk mencapai Rp93,93 triliun. 

Back Download PDF