RESEARCH

Company Update

14 Agustus 2019

Fixed Income Notes 14 Agustus 2019

Pada perdagangan hari Selasa, tanggal 13 Agustus 2019, harga Surat Utang Negara bergerak bevariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan yang didorong oleh pelemahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat sentimen dari dalam dan luar negeri.
 
Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Selasa, 13 Agustus 2019 bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan setelah berdampak dari adanya penurunan harga Surat Utang Negara. Perubahan tingkat imbal hasil berkisar antara 1 - 14 bps dimana sebagian besar Surat Utang Negara mengalami kenaikan imbal hasil. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami kenaikan hingga sebesar 6 bps dengan didorong oleh adanya  perubahan harga yang berkisar antara 1 - 14 bps. Sedangkan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan hingga  21 bps dengan adanya kenaikan harga hingga 108 bps dan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (diatas 7 tahun) yang mengalami kenaikan hingga 14 bps didorong oleh penurunan harga hingga 102 bps. 

Kenaikan tingkat imbal hasil pada perdagangan kemarin didorong oleh perubahan harga yang cenderung mengalami penurunan ditengah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Penurunan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin dipicu akibat adanya sentimen dari domestik maupun eksternal. Adapun dari domestik, para pelaku pasar akan cenderung wait and see menantikan disampaikannya data neraca perdagangan untuk periode Juli oleh Badan Pusat Statistik serta diselenggarakannya lelang Surat Utang Negara sehingga para pelaku pasar cenderung menahan diri untuk bertransaksi di pasar sekunder.

Adapun dari sentimen global, penurunan harga Surat Utang Negara masih dipengaruhi oleh belum adanya kejelasan penyelesaian perang dagang antara Amerika dan China sehingga para pelaku pasar cenderung untuk menahan diri. Hal tersebut terindikasi dari penurunan volume perdagangan kemarin yang mengalami penurunan daripada volume perdagangan sebelumnya.

Secara keseluruhan, perubahan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 7 bps pada level 6,879%; kenaikan imbal hasil seri acuan dengan tenor 10 tahun sebesar 14 bps pada level 7,498%; kenaikan imbal hasil seri acuan tenor 15 tahun sebesar 7 bps pada level 7,843% dan kenaikan imbal hasil seri acuan dengan tenor 20 tahun sebesar 6 bps pada level 7,934%.  
 
Pada perdagangan di hari Senin, imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing bergerak mengalami penurunan. Imbal hasil dari INDO24 mengalami penurunan sebesar 2 bps pada level 2,771%. Adapun imbal hasil dari INDO29 ikut turun sebesar 6,6 bps pada level 2,999% dan imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 yang mengalami penurunan masing-masing sebesar 3,1 bps pada level 4,068% dan 4,8 bps di level 3,898%.

Sementara itu volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya. Volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp15,50 triliun dari 39 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan dimana volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp2,14 triliun. Obligasi Negara seri FR0082 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp7,54 triliun dari 135 kali transaksi. Adapun untuk obligasi Negara seri FR0078 didapati volume sebesar 1,24 triliun dari 60 kali transaksi. Sementara itu, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Surat Berharga Syariah Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp419,69 miliar dari 2 kali transaksi.
 
Dari perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di hari Selasa tanggal 13 Agustus 2019 senilai Rp1,11 triliun dari 68 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan IV Mandiri Tunas Finance Tahap II Tahun 2019 Seri A (TUFI04ACN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp132,50 miliar dari 7 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap I Tahun 2018 Seri A (BEXI04ACN1) dan Obligasi Berkelanjutan I Bank BJB Tahap II Tahun 2018 Seri A (BJBR01ACN2) masing-masing senilai Rp85,00 miliar dari 1 kali transaksi dan Rp80,00 miliar dari 2 kali perdagangan.  
 
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup pada level 14325,00 per dollar Amerika yang melemah sebesar 75,00 pts dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya. Pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika bergerak sepanjang sesi perdagangan.  Adapun nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 14260—14333 per Dollar Amerika. Pelemahan rupiah tersebut diikuti oleh sebagian besar pelemahan mata uang regional, dimana yang memimpin pelemahan mata uang regional yaitu Peso Filipina (PHP) sebesar 1,09% dan diikuti oleh mata uang Rupee India (INR) dan Rupiah Indonesia (INR) yang masing-masing melemah sebesar 0,76% dan 0,52%. Sementara itu, penguatan mata uang regional terbesar didapati pada mata Yen Jepang (JPY) sebesar 0,11% terhadap Dollar Amerika.

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan bahwa harga Surat Utang Negara masih akan bergerak dengan peluang untuk kembali mengalami kenaikan melanjutkan tren kenaikan harga yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Hanya saja, kami perkirakan kenaikan tersebut bergerak terbatas akibat para pelaku pasar yang cenderung menahan diri dan melakukan aksi wait and see menjelang disampaikannya neraca perdagangan untuk periode Juli 2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan ini.
 
Sementara itu, Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan masing-masing pada level 1,683% dan 2,153%. Adapun kenaikan imbal hasil US Treasury tersebut seiring dengan penurunan indeks saham utamanya. Untuk indeks NASDAQ terpantau mengalami penguatan sebesar 195 bps di level 8016,36 dan indeks DJIA naik sebesar 144 bps di level 26279,91. Sementara itu, imbal hasil dari Surat Utang Jerman (Bund) dan surat utang Inggris (Gilt) untuk tenor 10 tahun ditutup mengalami penurunan masing-masing di level –0,612% dan 0,489%.

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara. Kami merekomendasikan kepada investor untuk melakukan strategi trading di tengah pergerakan harga Surat Utang Negara yang cenderung bergerak berfluktuasi dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0053, FR0061, FR0056, FR0059, FR0064, FR0071, FR0078, FR0073 dan FR0058
 
Pemerintah meraup dana senilai Rp15,00 triliun dengan melaksanakan lelang Surat Utang Negara pada tanggal 13 Agustus 2019 untuk seri SPN03191114 (new issuance), SPN12200814 (new issuance), FR0081 (reopening), FR0082 (reopening), FR0080 (reopening), FR0079 (reopening) dan FR0076 (reopening).

Back Download PDF