RESEARCH

RESEARCH

15 April 2019

Fixed Income Notes 15 April 2019

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin, tanggal 12 April 2019 bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan yang terbatas di tengah jelang diselenggarakannya Pemilihan Umum, lelang Sukuk Negara, serta dirilisnya data ekonomi domestik sehingga para pelaku cenderung untuk menahan diri melakukan transaksi di pasar sekunder.

Kenaikan tingkat imbal hasil hingga sebesar 3 bps yang didorong oleh adanya penurunan harga Surat Utang Negara yang mencapai 27 bps. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami perubahan hingga sebesar 1,4 bps di tengah adanya perubahan harga yang mencapai 4,3 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami rata-rata kenaikan sebesar 1 bps didorong oleh adanya penurunan harga yang berkisar antara 1 bps hingga 17 bps. Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan hingga sebesar 51 bps didorong oleh adanya penurunan harga yang mencapai 415 bps. Adapun dari Surat Utang Negara seri acuan, kenaikan imbal hasil terjadi pada seluruh seri hingga 2 bps setelah mengalami penurunan harga yang mencapai 19 bps.

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, hari Kamis, tanggal 12 April 2019, perubahan harga Surat Utang Negara bergerak dengan arah yang beragam dengan kecenderungan mengalami penurunan yang terbatas ditengah jelang diselenggarakannya pemilihan umum dan lelang Sukuk Negara. Sementara itu pada hari ini akan dirilis juga data neraca perdagangan Indonesia untuk periode Maret 2019. Dari beberapa sentimen tersebut, para pelaku pasar cenderung untuk menahan diri melakukan transaksi di pasar sekunder dan melakukan aksi wait and see yang tercermin dari turunnya volume peradagangan kemarin dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya. Selain itu, turunnya harga Surat Utang Negara pada perdagangan akhir pekan kemarin dipicu juga dari faktor meningkatnya harga komoditas minyak dunia. Kenaikan harga komoditas minyak akan meningkatkan biaya impor sehingga kebutuhan akan Dollar Amerika juga semakin tinggi yang pada akhirnya mengganggu pergerakan nilai tukar Rupiah dan juga pergerakan harga Obligasi Negara.

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika  menunjukkan kenaikan yang terjadi pada sebagian besar seri Surat Utang Negara. Imbal hasil dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 0,7 bps di level 3,489% didorong oleh adanya koreksi harga hingga 3,2 bps. Adapun imbal hasil dari INDO29 dan INDO49 pada perdagangan kemarin ditutup dengan mengalami kenaikan di kisaran 1,0 bps hingga 1,2 bps yang masing-masing berada di level 3,897% dan 4,656% yang diakibatkan oleh penurunan harga masing-masing sebesar 10 bps dan 17 bps. Sedangkan untuk INDO44 mengalami penurunan imbal hasil di level 3,897% yang berdampak setelah terjadinya kenaikan harga sebesar 4,1 bps. 

Volume perdagangan Surat Berharga Negara pada perdagangan kemarin dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp10,43 triliun dari 35 seri Surat Berharga Negara dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp5,00 triliun. Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,73 triliun dari 63 transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0079 senilai Rp1,64 triliun dari 105 kali transaksi. Adapun Project Based Sukuk seri PBS012 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp189,20 miliar dari 22 kali transaksi diikuti perdagangan Surat Perdagangan Negara-Syariah seri SPNS08052019 senilai Rp100,00 miliar dari 1 kali transaksi.

Adapun volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan lebih besar dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp856,42 miliar dari 60 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan II Maybank Finance Tahap II Tahun 2019 Seri A (BIIF02ACN2) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp76,35 miliar dari 5 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank Maybank Indonesia Tahap II Tahun 2016 (SMBNII01CN2) senilai Rp58,00 miliar dari 6 kali transaksi. Adapun volume dari Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I Bank Victoria Tahap II Tahun 2018 (BVIC01SBCN2) sebesar Rp52,50 miliar dari 11 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Japfa Tahap II Tahun 2017 (JPFA02CN2) senilai Rp52,00 miliar dari 2 kali transaksi.

Sementara itu nilai tukar Rupiah ditutup menguat sebesar 45,00 pts (0,32%) di level 14095,00 per Dollar Amerika. Sempat dibuka melemah di awal perdagangan, kemudian bergerak berfluktuasi dan mengalami penguatan  di tengah sesi hingga di tutupnya perdagangan. Adapun pergerakan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran 14095,00 hingga 14153,00 per Dollar Amerika. Penguatan nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin terjadi di tengah bervariasinya arah perubahan nilai tukar mata uang regional. Mata uang Rupiah Indonesia (IDR) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,32% diikuti oleh penguatan mata uang Dollar Singapura (SGD) dan Renminbi China (CNY) masing-masing sebesar 0,18% dan 0,16%. Sedangkan mata uang Rupee India (INR) mengalami pelemahan mata uang regional terbesar, sebesar 0,32% yang diikuti oleh mata uang Yen Jepang (JPY) dan Dollar Taiwan (TWD) masing-masing sebesar 0,28% dan 0,05% terhadap Dollar Amerika.

Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan masing-masing di level 2,562% dan 2,974%. Kenaikan imbal hasil tersebut terjadi ditengah pergerakan indeks saham utama yang  juga mengalami kenaikan sebesar 46 bps di level 7984,16 (NASDAQ) dan indeks DJIA sebesar 103 bps di level 26412,30. Adapun imbal hasil surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor 10 mengalami kenaikan di level 1,215%. Sementara itu, untuk imbal hasil surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 10 dan 30 tahun terlihat mengalami kenaikan, masing - masing berada di level 0,059% dan 0,706%. 

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak beragam dan berpotensi mengalami koreksi ditengah jelang diselenggarakannya lelang Sukuk Negara pada esok hari tanggal 16 April 2019, serta jelang diselanggarakannya Pemilihan Umum. Selain itu, para pelaku pasar juga menantikan dirilisnya data neraca perdagangan Indonesia periode Maret 2019 pada hari ini. Kami menilai bahwa adanya beberapa sentimen diatas, para pelaku pasar cenderung untuk menahan diri melakukan transaksi di pasar sekunder dan melakukan aksi wait and see atas pergerakan harga yang terjadi.

Rekomendasi

Dari beberapa faktor tersebut maka kami perkirakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari ini akan cenderung mengalami koreksi. Kami masih menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta melakukan strategi trading di tengah harga Surat Utang Negara yang masih bergerak berfluktuasi. Kami juga masih merekomendasikan seri - seri Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah sebagai pilihan di tengah kondisi pasar saat ini, yaitu seri: FR0053, FR0070, FR0056, FR0071 dan FR0073.

Pada sepekan kedepan terdapat lima surat utang yang akan jatuh tempo senilai Rp66,62 triliun.      

Download PDF