33333fixed-income-notes-15-mei-2019fixed-income-notes-15-
RESEARCH

MNCS Daily Scope Wave

15 Mei 2019

Fixed Income Notes 15 Mei 2019

Tingkat imbal hasil pada perdagangan hari Selasa, tanggal 14 Mei 2019 terjadi ditengah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang merespon kondisi pasar keuangan global akibat sentimen perang dagang Amerika dan China.

Pada perdagangan kemarin, hari Selasa, 14 Mei 2019, imbal hasil Surat Utang Negara bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan merespon kondisi pasar keuangan global akibat ketegangan perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China. Adapun untuk perubahan imbal hasil Surat Utang Negara terjadi bekisar antara 6,3 bps hingga 9 bps dengan rata-rata kenaikan imbal hasil sebesar 1 bps. Imbal hasil untuk Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1—4 tahun) mengalami kenaikan imbal hasil hingga sebesar 6,4 bps yang didorong penurunan harga hingga sebesar 20,7 bps.Sementara itu Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5—7 tahun) mengalami perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 2 bps yang setelah akibat dari turunnya harga hingga sebesar 8,4 bps dan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang yang mengalami perubahan berkisar antara 6,3—9 bps didorong oleh perubahan harga yang berkisar antara 50—70 bps. 

Pelemahan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin didukung oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika seiring dengan menguatnya mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang regional. Rupiah pada perdagangan kemarin menyentuh level terlemahnya selama lebih dari empat bulan terakhir. Hal ini dikarenakan toleransi risiko yang masih lemah ditengah meningkatnya ketegangan perang dagang antara Amerika dan China sehingga para pelaku pasar cendeung untuk memilih menginvestasikan dananya ke safe haven asset seperti US Treasury. China mengumumkan bahwa akan menaikan tarif sekitar USD60 miliar sebagai balasan atas kebijakan dagang Amerika. Sementara itu, dari sisi domestik, Bank Indonesia juga akan bersedia untuk campur tangan untuk menigkatkan kepercayaan para investor dan menjaga nilai tukar Rupiah. Disisi lain, hasil lelang Surat Berharga Syariah Negara  (SBSN) yang dilaksanakan pada perdagangan kemarin tidak sebaik biasanya, nampaknya para investor menahan diri dan wait and see atas sentimen-sentimen yang terjadi pada pasar keuangan global.

Secara keseluruhan, perubahan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil pada sebagian besar Surat Utang Negara seri acuan. Adapun Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 2 bps pada level 7,492%; kenaikan imbal hasil seri acuan dengan tenor 10 tahun sebesar 1 bps pada level 8,020%. Namun untuk Surat Utang Negara dengan tenor 15 dan 20 tahun perubahan imbal hasil seri acuan tenor 15 tahun dan 20 tahun turun sebesar 1 bps masing-maisng pada level 8,532% dan 8,611%

Sentimen negatif perang dagang Amerika-China juga mempengaruhi terjadinya perubahan imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing. Pada perdagangan di hari Selasa, imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing mengalami kenaikan pada keseluruhan serinya. Imbal hasil dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 2,6 bps pada level 3,42%. Adapun imbal hasil dari INDO29 ikut naik sebesar 4,7 bps pada level 3,95%.

Sementara itu volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan di hari Senin mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya. Volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp11,85 triliun dari 44 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan dimana volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp4,16 triliun. Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,98 triliun dari 53 kali transaksi. Obligasi Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun tersebut diperdagangkan pada harga rata - rata 101,61%. Adapun Project Based Syariah seri SR010 menjadi Surat Berharga Syariah Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp163,85 miliar dari 15 kali transaksi dengan harga rata - rata pada level 99,47%.

Semantara itu, dari perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di hari Selasa, mengalami kenaikan senilai Rp904 miliar dari 44 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap V Tahun 2019 Seri A (ADMF04ACN5) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp93,00 miliar dari 4 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan II Medco Energi Internasional Tahap IV Seri A (MEDC02ACN4) dan Obligasi Berkelanjutan Astra Sedaya Finance Tahap II Tahun 2019 (ASDF04ACN2) masing-masing senilai Rp81,00 dari 2 kali transaksi dan Rp80,00 miliar dari 2 kali perdagangan.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika ditutup pada level 14438,00 per dollar Amerika dan menguat sebesar 13,00 pts dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya. Pada perdagangan hari Selasa, Rupiah dibuka mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika,namun tidak lama kemudian melemah kembali hingga akhir sesi perdagangan. Dibuka menguat pada level 14420 per Dollar Amerika dan bergerak pada kisaran 14420 hingga 14460 per Dollar Amerika. Adapun pergerakan Rupiah tersebut diikuti oleh perubahan yang beragam pada mata uang regional. Adapun yang memimpin penguatan pada mata uang regional yaitu mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,50% yang diiringi dengan Rupee India (INR) sebesar 0,22% dan Dollar Singapura (SGD) sebesar 0,18%. Sedangkan yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Peso Filipina (PHP) sebesar 0,61% dan diikuti oleh pelemahan mata uang Yen Jepang (JPY) dan Dollar Taiwan (TWD) masing-masing melemah sebesar 0,35% dan 0,17% terhadap Dollar Amerika. 

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan cenderung bergerak terbatas di tengah pelaku pasar yang masih menantikan rilisnya data perekonomi domestik yaitu Neraca Perdaganan yang disampaikan pada hari ini, Rabu 15 Mei 2019. Kami memprediksi bahwa neraca perdagangan untuk periode April 2019 akan mengalami defisit sebesar USD509 juta. Sementara itu, pada tanggal 16 Mei 2019 besok, Bank Indonesia juga akan merilis data suku bunga acuannya (7DDR rate). Kami menilai bahwa untuk saat ini BI akan mempertahankan suku bunga acuannya pada 6,00%. Dengan adanya beberapa rilis data perekonomian domestik pada pekan ini,maka para pelaku pasar akan cenderung menahan diri dan melihat data yang akan disampaikan oleh Badan pusat Statistik dan Bank Indonesia tersebut.

Sedangkan dari perdagangan surat utang global, imbal hasil surat utang global bergerak cukup bervariasi. Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 dan 30 tahun ditutup dengan mengalami penurunan masing-masing pada level 2,40% dan 2,85% . Sementara itu imbal hasil dari Surat Utang Jerman (Bund) bertenor 10 tahun ditutup melemah pada level –0,073% dan untuk surat utang Inggris (Gilt) ditutup melemah di level 1,101% untuk tenor 10 tahun.

Rekomendasi

Dengan kombinasi dari beberapa faktor tersebut, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Peluang turunnya harga di pasar sekunder dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan pembelian di harga rendah. Berikut merupakan beberapa seri yang tepat dengan beberapa kondisi tersebut: FR0053, FR061, FR0063, FR0056, FR0059, FR0058, FR0074 dan FR0068.  

Pemerintah meraup dana senilai Rp5,15 triliun melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara pada tanggal 14 Mei 2019 untuk seri SPNS01112019 (reopening), SPNS15052020 (new issuance), PBS014 (reopening), PBS019 (reopening) dan PBS022 (reopening), PBS015 (reopening).

Back Download PDF