RESEARCH

Company Update

17 Mei 2019

Fixed Income Notes 17 Mei 2019

Perubahan harga Surat Utang Negara yang mengalami kenaikan terbatas pada perdagangan hari Kamis, 16 Mei 2019, didorong oleh pengutan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika sebagai respon adanya sentimen data ekonomi domestik dan sentimen perang dagang antara Amerika dan China.

Rata-rata harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan yang terbatas mencapai 7 bps pada perdagangan hari Kamis tanggal 16 Mei 2019, sehingga hal ini mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 23 bps. Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1—4 tahun) mengalami rata-rata koreksi harga sebesar 4,5 bps yang mengakibatkan naiknya imbal hasil mencapai 6 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara bertenor jangka menengah (5—7 tahun) mengalami kenaikan harga hingga mencapai 13 bps yang berdampak pada menurunnya tingkat imbal hasil sebesar 1,2 bps. Sedangkan, untuk Surat Utang Negara bertenor panjang (diatas 7 tahun) mengalami rata-rata kenaikan harga sebesar 180 bps yang mengakibatkan turunya rata-rata imbal hasil sebesar 1,5 bps. 

Pergerakan harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan terbatas sehingga berdampak pada penurunan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara di sebagian besar serinya. Adapun penguatan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin didorong oleh pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika yang mencatatkan penguatan terbatas akibat sentimen yang terjadi di domestik dan sentimen global. Bank Indonesia merilis data suku bunga acuan 7DRRR (7 days Reverse Repo Rate) sebesar 6,00% yang sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar seiring dengan cukup terjaganya kondisi ekonomi domestik. Selain itu, kenaikan harga juga didukung dengan masih berlanjutnya akumulasi pembelian oleh para pelaku pasar karena harga Surat Utang Negara sudah dinilai relatif lebih murah oleh para investor dan memberikan tingkat imbal hasil yang cukup tinggi. Adapun dari faktor eksternal masih dipengaruhi oleh adanya sentimen perang dagang antara Amerika dan China yang masih menunggu kejelasan dari proses negosiasi yang berlangsung antar kedua negara tersebut.

Dengan adanya beberapa sentimen tersebut, maka secara keseluruhan pergerakan harga Surat Utang Negara cenderung mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin yang telah mendorong terjadinya penurunan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 1 bps di level 7,475%, tenor 10 tahun sebesar 2 bps yang berada pada level 7,985%. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 dan 20 tahun mengalami penurunan imbal hasil masing—masing sebesar 4 bps di level 8,467% dan 2 bps di level 8,555%.

Pergerakan US Treasury mengalami kenaikan tingkat imbal hasil, namun hal ini tidak terjadi pada imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika yang cenderung mengalami penurunan pada keseluruhan serinya. Adapun imbal hasil dari INDO24 mengalami penurunan sebesar 2,7 bps di level 3,376% didorong oleh adanya kenaikan harga hingga 12,2 bps. Adapun imbal hasil dari INDO29 dan INDO44 pada perdagangan kemarin ditutup dengan mengalami penurunan sebesar 4,8 bps di level 3,879% dan di level 4,682% setelah keduanya mengalami kenaikan harga sebesar 40 bps dan 83 bps. Adapun untuk INDO49 juga mengalami penurunan imbal hasil sebesar 2,4 bps yang diakibatkan oleh kenaikan harga sebesar 42 bps. 

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp10,96 triliun dari 37 seri Surat Berharga Negara dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp4,91 triliun. Obligasi Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,81 triliun dari 15 transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0061 senilai Rp1,48 triliun dari 26 kali transaksi. Adapun Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Surat Berharga Syariah Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,09 triliun dari 8 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan seri PBS016 senilai Rp10,00 miliar dari 1 kali transaksi.

Adapun volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan senilai Rp1,00 triliun dari 55 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019 Seri B (WSKT03BCN4) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp88,00 miliar dari 3 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Astra Sedaya Finance Tahap II Tahun 2016 Seri B (ASDF03BCN2) senilai Rp80,00 miliar dari 4 kali transaksi. Adapun volume perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap I Tahun 2016 Seri B (BBRI02BCN1)  sebesar Rp80,00 miliar dari 2 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Jasa Marga Tahap II Tahun 2014 Seri T (JSMR01CN2T) senilai Rp58,00  miliar dari 4 kali transaksi.  

Pada perdagangan kemarin, nilai tukar Rupiah bergerak dengan arah yang bervariasi dan ditutup menguat sebesar 9,00 pts (0,06%) di level 14452 per Dollar Amerika. Pergerakan Rupiah tersebut dibuka dengan kondisi menguat di level 14453 kemudian mengalami dua kali pelemahan pada pertengahan sesi perdagangan hingga akhirnya ditutup dengan kondisi menguat. Penguatan mata uang Rupiah tersebut terjadi ditengah beragamnya arah pergerakan nilai tukar mata uang regional. Adapun mata uang yang memimpin penguatan mata uang regional yaitu mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,43% dan diikuti oleh mata uang Ringgit Malaysia (MYR) sebesar 0,22% dan Rupiah Indonesia sebesar 0,06%. Sedangkan untuk mata uang yang mengalami koreksi terbesar didapati pada mata uang Peso Filipina (PHP) sebesar 0,26% dan diikuti oleh mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,24%. 

Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan kenaikan masing-masing di level 2,39% dan 2,83% yang terjadi ditengah kenaikan indeks saham utamanya. Adapun untuk indeks NASDAQ mengalami penguatan sebesar 97 bps di level 7898,05 sementara itu untuk indeks DJIA juga mengalami kenaikan sebesar 84 bps di level 25862,68. Adapun imbal hasil surat utang Inggris (Gilt) untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami penurunan masing-masing di level 1,07% dan 1,62%. Begitu juga untuk surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ikut mengalami penurunan imbal hasil masing-masing sebesar –0,101% dan 0,539%.

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan beregrak terbatas dengan berpeluang untuk mengalami penguatan di tengah pelaku pasar yang masih mencermati data suku bunga acuan (7DRRR) oleh Bank Indonesia pada perdagangan kemarin. Namun demikian, penurunan imbal hasil surat utang global kami perkirakan akan membuka peluang terjadinya kenaikan harga Surat Utang Negara untuk beberapa seri terutama pada Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan mata uang rupiah pergerakannya masih akan cenderung berfluktuasi.

Rekomendasi

Dengan kondisi tersebut maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara dengan melakukan strategi trading dengan pilihan pada seri - seri FR0053, FR0061, FR0046, FR0056, FR0059, FR0073, dan FR0065. 

Pekan depan pemerintah akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SBN) pada hari Selasa, tanggal 21 Mei 2019 dengan seri SPN03190822 (New Issuance), SPN12200213 (Reopening), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0068 (Reopening), FR0079 (Reopening), FR0076 (Reopening).   

 

Back Download PDF