RESEARCH

RESEARCH

20 Februari 2019

Fixed Income Notes 20 Februari 2019

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Selasa, 19  Februari 2019 kembali bergerak dengan mengalami kenaikan di tengah penurunan imbal hasil surat utang regional serta menguatnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika. 

Perubahan harga Surat Utang Negara yang terjadi hingga sebesar 99 bps yang berdampak terhadap adanya perubahan tingkat imbal hasil rata - rata mengalami penurunan sebesar 0,8 bps. Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami rata-rata penurunan terbatas sebesar 0,2 bps yang mendorong terjadinya rata-rata kenaikan imbal hasil sebesar 0,3 bps. Adapun harga Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami kenaikan yang berkisar antara 1 bps hingga 9 bps yang berdampak terhadap penurunan imbal hasil berkisar antara 0,2 bps hingga 2 bps. Sedangkan untuk Surat Utang Negara dengan tenor panjang mengalami pergerakan harga yang cenderung mengalami kenaikan hingga sebesar 99 bps sehingga mengalami rata-rata penurunan imbal hasil sebesar 0,8 bps.

Pada perdagangan hari Selasa, tanggal 19 Februari 2019 pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara bergerak dengan mengalami penurunan kembali didorong oleh faktor pergerakan nilai tukar rupiah yang mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika. Rupiah terapresiasi karena Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini, tanggal 20 Februari 2019, dimana para pelaku pasar masih meyakini bahwa Bank Indonesia masih akan menahan suku bunga acuannya pada level 6,00%. Selama Bank Sentral Amerika masih bersikap dovish pada kebijakan suku bunganya, maka Bank Indonesia tidak ada alasan untuk menaikkan suku bunga acuannya. Selain itu, sentimen eksternal dimana pernyataan Bank Sentral Jepang yang membatasi penguatan mata uang Yen Jepang terhadap Dollar Amerika, mengakibatkan para pelaku pasar lebih memilih menginvestasikan dananya pada instrumen safe-haven lainnya.  

Harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika pada perdagangan kemarin kembali ditutup dengan mengalami penurunan di tengah meningkatnya persepsi risiko yang tercermin pada kenaikan angka Credit Default Swap (CDS). Harga dari INDO24 mengalami kenaikan harga sebesar 7,5 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 1,6 bps di level 3,828%. Adapun harga dari INDO29 pada perdagangan kemarin berada di level sekitar 104,68 dan tingkat imbal hasilnya sekitar di level 4,17%. Sementara itu, untuk INDO44 mengalami kenaikan harga sebesar 39 bps yang mengakibatkan turunnya tingkat imbal hasil sebesar  2,3 bps di level 4,967%.

Volume perdagangan Obligasi Negara yang dilaporkan pada perdagangan hari Selasa, tanggal 21 Februari 2019 mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp5,96 triliun dari 38 seri Obligasi Negara yang diperdagangkan. Adapun Obligasi Negara pada seri FR0077 menjadi Obligasi Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,36 triliun dari 23 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0059 senilai Rp753,54 dari 35 kali transaksi. Sementara itu, untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp1,12 triliun dari 22 kali transaksi kemudian diiringi oleh Project Based Sukuk seri  PBS019 dengan volume sebesar Rp333,00 miliar untuk 16 kali transaksi.

Volume perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan meningkat  daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,37 triliun dari 46 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Adapun untuk Sukuk Mudharabah Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry I Tahun 2018 Seri B (SMLPPI01B) menjadi obligasi koporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp200,00 miliar dari 2 kali transaksi dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan I XL Axiata Tahap II Tahun 2019 Seri A (EXCL01ACN2) senilai Rp190,00 miliar dari 5 kali perdagangan. Selanjunya, untuk obligasi korporasi dengan volume Rp159,00 miliar dari 13 kali transaksi didapati pada perdagangan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II XL Axiata Tahap II Tahun 2019 Seri A (SIEXCL02ACN2). 

Pada perdagangan hari Selasa, tanggal 19 Februari 2019, nilai tukar Rupiah mengalami penguatan terbatas sebesar 4 pts (0,03%) di level 14103. Adapun pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika terjadi pada kisaran 14101 hingga 14130. Penguatan tersebuat terjadi saat akhir sesi perdagangan setelah di awal perdagangan terpantau melemah. Rupiah mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika ini ini diikuti oleh penguatan nilai tukar mata uang regional. Sementara itu, penguatan nilai tukar mata uang tertinggi didapati pada mata uang Peso Dollar (PHP) sebesar 0,25% yang diikuti oleh mata uang Ringgit Malaysia (MYR) dan Rupiah Indonesia (IDR) masing-masing sebesar 0,28% dan 0,18%. Sedangkan mata uang regional yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada nilai tukar mata uang Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,24% dan selanjutnya juga dialami oleh mata uang Yen Jepang sebesar 0,14%.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan kecenderungan mengalami penurunan terutama pada surat utang dari negara - negara maju yang dianggap sebagai safe haven asset di tengah koreksi yang terjadi di pasar saham global. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan penurunan masing - masing di level 2,63% dan 2,98%. Imbal hasil dari surat utang Jerman untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami kenaikan masing-masing di level 0,106% dan 0,738%. Sementara itu, surat utang Inggris (Bund) dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan di level 1,171% sedangkan untuk surat utang Inggirs bertenor 30 tahun mengalami kenaikan di level 1,69%.

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan cenderung bergerak terbatas di tengah pelaku pasar yang masih menantikan keputusan dari Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Indonesia. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dimulai pada hari ini diperkirakan akan tetap menahan suku bunga acuannya di level 6,00%. Selain itu, pergerakan harga Surat Utang Negara juga masih dipengaruhi oleh keadaan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. 

RekomendasiDengan kombinasi dari beberapa faktor tersebut, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara. Peluang kenaikan harga di pasar sekunder dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan strategi trading dengan pilihan masih pada Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah seperti seri FR0069, FR0053, FR0073, FR0058, FR0074, FR0068, FR0072, FR0077 dan FR0075.  

Download PDF