RESEARCH

RESEARCH

21 Februari 2019

Fixed Income Notes 21 Februari 2019

Pada perdagangan hari Rabu, 20 Februari 2019 harga Surat Utang Negara kembali bergerak dengan mengalami kenaikan di tengah optimisnya para pelaku pasar akan terciptanya kesepakatan antara Amerika dan China untuk mengakhiri perang dagang.

Perubahan harga Surat Utang Negara yang terjadi hingga sebesar 80 bps yang berdampak terhadap adanya perubahan tingkat imbal hasil rata - rata mengalami penurunan sebesar 3 bps. Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami kenaikan hingga sebesar 26 bps yang mendorong terjadinya rata-rata penurunan imbal hasil sebesar 3 bps. Adapun harga Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami kenaikan yang berkisar antara 14 bps hingga 43 bps yang berdampak terhadap penurunan imbal hasil berkisar antara 2 bps hingga 8 bps. Sedangkan untuk Surat Utang Negara dengan tenor panjang mengalami pergerakan harga yang cenderung mengalami kenaikan hingga sebesar 80 bps sehingga mengalami penurunan imbal hasil hingga sebesar 11 bps.

Pada perdagangan hari Selasa, tanggal 19 Februari 2019 pergerakan harga Surat Utang Negara bergerak dengan mengalami kenaikan yang kembali didorong oleh faktor nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, dimana perubahan nilai tukar tersebut akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan dengan faktor domestik. Dari faktor domestik pergerakan harga Surat Utang Negara dipengaruhi oleh prediksi Bank Indonesia yang akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 6,00% yang akan di rilis pada hari ini. Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya karena kondisi ekonomi Indonesia yang masih stabil dan pasar yang relatif cukup optimis. Adapun dari faktor eksternal datang dari optimisnya para pelaku pasar akan terciptanya kesepakatan damai perang dagang antara Amerika dan China. Optimisme semakin menguat ketika Amerika dan China tengah merumuskan MoU termasuk komitmen China untuk menjaga stabilitas nilai tukar Yuan China terhadap Dollar Amerika. Selain itu, penurunan harga minyak dunia juga memberikan sentimen positif bagi nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, dimana penurunan harga minyak dunia akan mempengaruhi impor bahan bakar minyak sehingga membantu neraca perdagangan Februari 2019.

Tingkat imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika pada perdagangan kemarin kembali ditutup dengan mengalami perubahan yang beragam dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah menurunnya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS). Harga dari INDO24 mengalami koreksi harga sebesar 2,3 bps yang mendorong terjadinya peningkatan tingkat imbal hasil sebesar 0,5 bps di level 3,832%. Adapun harga dari INDO29 mengalami kenaikan harga sebesar 5,3 bps yang menyebabkan turunya imbal hasil sebesar 0,6 bps di level 4,164%. Adapun untuk INDO44 dan INDO49 mengalami koreksi harga masing-masing sebesar 0,6 bps dan 7,7 bps yang mendorong kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 0,04 bps di level 4,968% dan 0,5 bps di level 4,897%. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan hari Rabu, tanggal 20 Februari 2019 mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp16,92 triliun dari 41 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Adapun Surat Utang Negara pada seri FR0069 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,20 triliun dari 12 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Surat Utang Negara seri FR0077 senilai Rp2,11 triliun dari 38 kali transaksi. Sementara itu, untuk perdagangan Sukuk Negara, Sukuk Negara Ritel seri SR008 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp755 miliar dari 10 kali transaksi kemudian diiringi oleh Project Based Sukuk seri  PBS016 dengan volume sebesar Rp301,00 miliar untuk 4 kali transaksi.

Volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,02 triliun dari 50 seri surat utang korporasi yang ditransaksikan. Adapun untuk perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Timah Tahap I Tahun 2017 Seri B (TINS01BCN1) didapati surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar yaitu sebesar Rp176,00 miliar dari 4 kali transaksi. Selanjutnya volume perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Chandra Asri Petrochemical Tahap I Tahun 2018 (TPIA02CN1) sebesar Rp175,00 miliar dari 4 kali perdagangan dan diikuti oleh volume perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Bank CIMB Niaga Tahap IV Tahun 2018 Seri A (BNGA02ACN4) sebesar Rp140 miliar untuk 3 kali transaksi. Berikutnya, untuk surat utang korporasi dengan volume Rp75,00 miliar dari 1 kali transaksi didapati pada perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap VII Tahun 2019 Seri A (SMFP04ACN7).

Nilai tukar Rupiah mengalami penguatan sebesar 62 pts (0,43%) di level 14042. Adapun pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika terjadi pada kisaran 14042 hingga 14083. Adapun penguatan tersebuat terjadi sepanjang sesi perdagangan. Rupiah mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika ini ditengah penguatan nilai tukar mata uang regional dimana penguatan nilai tukar mata uang tertinggi didapati pada mata uang Renminbi China (CNY) sebesar 0,58% yang kemudian diikuti oleh penguatan mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,55%. Sedangkan untuk mata uang yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada pelemahan mata uang Yen Jepang (JPY) dan mata uang Dollar Hongkong (HKD) masing-masing sebesar 0,12% dan 0,01% terhadap mata uang Dollar Amerika.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan kecenderungan mengalami penurunan terutama pada surat utang dari negara - negara maju yang dianggap sebagai safe haven asset di tengah koreksi yang terjadi di pasar saham global. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan penurunan masing - masing di level 2,645% dan 2,996%. Imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun juga mengalami penurunan masing-masing di level 0,10% dan 0,726%. Hal yang sama juga terjadi pada surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun yang mengalami penurunan masing-masing di level 1,178% dan 1,704%.

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak bervariasi dengan peluang terjadinya penguatan harga seiring dengan berlanjutnya tren penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Selain itu, jelang dirilisnya keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan akan tetap menahan suku bunga acuannya di level 6,00% dan jelang FOMC Minutes pada pekan ini akan berdampak bagi sebagian pelaku pasar untuk melakukan aksi wait and see.

Rekomendasi Dengan beberapa faktor tersebut, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus kepada perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Peluang kenaikan harga di pasar sekunder dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan strategi trading dengan pilihan masih pada Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah seperti seri FR0069, FR0053, FR0061, FR0063, FR0070, FR0056, FR0071, FR0077 dan FR0058.  

Download PDF