RESEARCH

Company Update

25 Februari 2019

Fixed Income Notes 25 Februari 2019

Harga Surat Utang Negara mengalami kenaikan yang terbatas akibat menguatnya nilai tukar Rupiah pada perdagangan akhir pekan kemarin, Jumat, 22 Februari 2019 yang didorong oleh optimisnya para investor di tengah kesepakatan damai perang dagang antara Amerika dan China.

Harga Surat Utang Negara mengalami perubahan hingga sebesar 135 bps yang berdampak terhadap perubahan tingkat imbal hasil rata-rata mengalami penurunan hingga sebesar 16 bps. Adapun Surat Utang Negara dengan seri acuan bertenor 15 tahun mengalami perubahaan harga dengan kecenderungan mengalami kenaikan sebesar 20 bps yang mendorong terjadinya perubahaan imbal hasil sebesar 2,3 bps di level 8,204%. Sementara itu, untuk seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun, keduanya mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 13 bps dan 10 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 3,1 bps di level 7,703% dan 1,5 bps di level 7,919%. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor 20 tahun mengalami penurunan harga yang terbatas di bawah 1 bps sehingga berdampak terhadap kenaikan imbal hasil yang terbatas pula. 

Pada perdagangan di akhir pekan kemarin, hari Jumat, tanggal 22 Februari 2019 pergerakan harga Surat Utang Negara bergerak dengan mengalami perubahan yang positif ditengah faktor perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang menguat terbatas selama sesi perdagangan. Faktor menguatnya rupiah ini dipicu oleh isu politik perang dagang antara Amerika dan China dimana kedua negara telah menyepakati gambaran besar nota kesepahaman (MoU) yang mencakup perlindungan terhadap kekayaan intelektual, perluasan investasi sektor jasa, transfer teknologi, nilai tukar mata uang, serta halangan non-tarif (non tariff barrier) di bidang perdagangan. Momentum ini menjadi katalis positif bagi para pelaku pasar dimana mereka lebih optimis untuk menginvestasikan dananya ke negara-negara berkembang di Asia, salah satunya ialah Indonesia. 

Harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika pada perdagangan akhir pekan kemarin ditutup dengan mengalami koreksi di tengah menurunnya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS). Harga dari INDO24 mengalami koreksi harga sebesar 15 bps yang mendorong terjadinya peningkatan tingkat imbal hasil sebesar 3 bps di level 3,915%. Adapun harga dari INDO29 mengalami penurunan harga sebesar 25 bps yang menyebabkan kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 3 bps di level 4,220%. Adapun untuk INDO44 dan INDO49 mengalami koreksi harga masing-masing sebesar 62 bps dan 40 bps yang mendorong kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 3 bps di level 5,017% dan 2 bps di level 4,938%. 

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan hari Jumat, tanggal 22 Februari 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp6,82 triliun dari 32 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Adapun Surat Utang Negara pada seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,52 triliun dari 55 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Surat Utang Negara seri FR0053 senilai Rp1,25 triliun dari 45 kali transaksi. Sementara itu, untuk perdagangan Sukuk Negara, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume terbesar, yaitu sebesar Rp268,00 miliar dari 10 kali transaksi kemudian dikuti oleh Sukuk Ritel Negara seri SR009 dengan volume sebesar Rp227,41 miliar untuk 11 kali transaksi.

Volume perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,30 triliun dari 46 kali transaksi. Adapun obligasi negara dengan volume tertinggi didapati pada perdagangan Obligasi Berkelanjutan II Bank Maybank Indonesia Tahap III Tahun 2018 Seri A (BNII02ACN3) sebesar Rp 200,00 miliar untuk 4 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV BFI Finance Indonesia Tahap II Tahun 2019 Seri B (BFIN04BCN2) sebesar Rp175,00 miliar dari 6 kali perdagangan. Selanjutnya, untuk perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Mandiri Tunas Finance Tahap I Tahun 2019 Seri A (TUFI04ACN1) sebesar Rp150,00 miliar dari 4 kali perdagangan yang diiringi dengan volume perdagangan PPRO01ACN2 sebesar  Rp126,00 miliar dari 3 kali transaksi.

Pada perdagangan di akhir pekan kemarin, nilai tukar Rupiah menguat sebesar 8 pts (0,06%) di level 14220. Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika terjadi pada kisaran 14185 hingga 14230. Adapun penguatan Rupiah tersebut cukup fluktuatif dan terjadi di sepanjang sesi perdagangan. Rupiah menguat terhadap Dollar Amerika ditengah mayoritas nilai tukar mata uang regional yang mengalami pelemahan dimana pelemahan tertinggi didapati pada nilai tukar mata uang Ringgit Malaysia sebesar 0,46% dan diikuti oleh melemahnya mata uang Peso Filipina sebesar 0,33%. Selanjutnya, pelemahan nilai tukar terjadi pada mata uang Won Korea Selatan sebesar 0,24% dan mata uang Renminbi China sebesar 0,21%. Adapun nilai tukar mata uang regional yang mengalami penguatan didapati pada nilai tukar mata uang Yen Jepang sebesar 0,16% dan mata uang Rupiah Indonesia sebesar 0,06% terhadap mata uang Dollar Amerika. 

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan akhir pekan kemarin ditutup dengan kecenderungan mengalami koreksi. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan mengalami pelemahan sehingga masing - masing berada pada level 2,654% dan 3,017%. Namun, imbal hasil  yang terjadi pada surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami kenaikan masing-masing di level 0,754% dan 3,017%. Adapun yang terjadi pada surat utang Jerman (Bund) didapati mengalami penurunan untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun yang mengalami penurunan masing-masing di level 0,089% dan 0,714%. Adapun untuk pasar saham Amerika untuk indeks DJIA dan indeks NASDAQ keduanya mengalami perubahan yang postif sehingga masing-masing menguat berada pada level 26031,81 dan 7527,54.  

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder masih akan bergerak dengan arah perubahan yang beragam dengan kecenderungan potensi untuk mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan oleh arah pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung menguat ditengah kondisi lambatnya perekonomian global akibat sentimen positif yang datang dari perang dagang antara Amerika dan China. Keduanya telah melakukan pembahasan lebih lanjut terkait nota kesepakatan dagang antara kedua belah pihak negara. Hal ini membuat para pelaku pasar lebih optimis untuk menginvestasikan dananya ke negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Selain itu, dari faktor domestik, pada pertengahan pekan kemarin Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6,00% dimana level tersebut sudah sesuai dengan ekspektasi pasar.

Rekomendasi Dengan pertimbangan beberapa faktor di atas kami masih menyarankan kepada investor untuk mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Adapun pergerakan harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah yang memberikan tingkat imbal hasil yang menarik dengan tingkat risiko yang moderat adalah seri - seri berikut: FR0070, FR0077, FR0056, FR0078, FR0069, FR0053 dan FR0061.

Pada sepekan kedepan terdapat dua surat utang yang akan jatuh tempo senilai Rp1,34 triliun. Kedua surat utang tersebut merupakan surat utang korporasi. 

Kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara mengalami kenaikan senilai Rp 17,24 triliun. 

Back Download PDF