RESEARCH

Company Update

25 Juni 2019

Fixed Income Notes 25 Juni 2019

Pada perdagangan awal pekan ini, hari Senin, tanggal 24 Juni 2019, harga Surat Berharga Negara bergerak dengan arah yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan ditengah adanya beberapa sentimen baik domestik maupun global.*
 
Harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin mengalami penurunan hingga mencapai 125 bps, sehingga mendorong terjadinya kenaikan rata-rata tingkat imbal hasil sebesar 1 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara bertenor pendek (1-4 tahun) didapati kenaikan harga yang terbatas berkisar antara 3 bps hingga 5 bps yang menyebabkan turunnya tingkat imbal hasil berkisar antara 1 bps hingga 2,5 bps. Sementara itu, Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan harga  hingga 21 bps yang berdampak pada kenaikan tingkat imbal hasil yang berkisar antara 1,5 bps hingga 4 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor panjang (diatas 7 tahun) mengalami penurunan harga dengan rata-rata penurunan sebesar 13 bps yang menyebabkan naiknya rata-rata tingkat imbal hasil sebesar 1 bps.  

Pada perdagangan awal pekan ini, hari Senin, tanggal 24 Juni 2019, harga Surat Utang Negara bergerak dengan arah yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan ditengah beberapa sentimen. Koreksi harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin dipicu oleh mulai memanasnya hubungan antara Amerika dan Iran setelah Iran menembak jatuh pesawat tanpa awak (drone) milik Amerika Serikat. Kami menilai bahwa baku ancam yang terjadi antara Amerika dan Iran akan mempengaruhi harga minyak dunia sehingga memungkinkan para pelaku pasar untuk mengambil aksi wait and see terhadap kondisi pasar global. Meskipun pada perdagangan kemarin didukung oleh rilis data neraca perdagangan Indonesia untuk periode Mei 2019 yang surplus sebesar USD210 juta, namun para pelaku pasar nampaknya lebih menahan diri ditengah jelang diselenggarakannya lelang Sukuk Negara pada hari ini, hal ini terindikasi dari menurunnya volume pada perdagangan kemarin. Pada kuartal II tahun 2019 pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Berharga Negara melalui lelang senilai Rp129 triliun dari 5 kali lelang Surat Utang Negara dan 6 kali lelang Sukuk Negara. Pada lelang sebelumnya, pemerintah meraup dana senilai Rp5,16 triliun dari total penawaran yang masuk senilai Rp13,48 triliun.

Secara keseluruhan, kenaikan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin telah mendorong terjadinya perubahan tingkat imbal hasil yang beragam pada Surat Utang Negara seri acuan. Adapun untuk tenor 5 tahun mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 1,5 bps sedangkan untuk tenor 10 tahun dan 15 tahun mengalami kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 2,7 bps dan 1,4 bps. Sementara itu, untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 20 tahun didapati kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 3,5 bps.

Sementara itu dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi dollar Amerika, juga mengalami perubahan tingkat imbal hasil yang bervariasi, seiring dengan pergerakan imbal hasil surat utang global yang ditutup dengan mengalami kenaikan. Imbal hasil dari INDO24 ditutup naik sebesar 1,4 bps di level 2,980%. Sementara itu, imbal hasil dari INDO29 ditutup dengan mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 1 bps di level 3,363% dan untuk tingkat imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 mengalami kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 1,3 bps di level 4,266% dan 0,3 bps di level 4,188%.

Volume perdagangan Obligasi Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin lebih kecil daripada perdagangan sebelumnya yaitu senilai Rp7,75 triliun dari 44 seri Obligasi Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp861,96 miliar. Surat Utang Negara seri FR0068 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,42 triliun dari 73 kali transaksi di harga rata - rata 104,25% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp987,00 miliar dari 33 kali transaksi di harga rata - rata 105,93%. Sementara itu, Sukuk Negara Ritel seri SR011 menjadi Surat Berharga Syariah Negara terbesar yaitu sebesar Rp530,10 miliar dari 73 kali transaksi dan diikuti oleh volume Surat Perbendaharaan Negara-Syariah seri SPNS01112019 sebesar Rp200,00 miliar dari 1 kali transaksi. Adapun volume dari Project Based Sukuk seri PBS014 sebesar Rp137,00 miliar untuk 5 kali perdagangan.

Sementara itu dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya senilai Rp902,4 miliar dari 33 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Obligasi Subordinasi Bank Victoria III Tahun 2013 (BVIC03SB) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp131,00 miliar dari 9 kali transaksi di harga rata-rata 60,25% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Bank Danamon Tahap I Tahun 2019 Seri A  (BDMN01ACN1) senilai Rp100,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,03% yang kemudian diiringi dengan Obligasi Berkelanjutan III PNM Tahap I Tahun 2019 Seri A (PNMP03ACN1) sebesar Rp100,00 miliar untuk 8 kali transaksi di harga 100,52%.

Adapun nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup menguat sebesar 14,00 pts (0,10%) di posisi 14144,00 per Dollar Amerika setelah dibuka dengan mengalami penguatan dan pada pertengahan sesi perdagangan sempat mengalami pelemahan yang kemudian menguat kembali hingga akhir sesi perdagangan. Nilai tukar Rupiah tersebut bergerak pada kisaran 14135,00 hingga 14173,00 per dollar Amerika. Penguatan nilai tukar rupiah tersebut terjadi seiring dengan menguatnya sebagian besar nilai mata uang regional. Adapun mata uang yang memimpin penguatan mata uang regional yaitu mata uang Won Korea Selatan sebesar 0,65% dan diikuti oleh penguatan mata uang Baht Thailand (THB) sebesar 0,33%. Sedangkan untuk mata uang yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada mata uang Reminbi China (CNY) sebesar 0,15% terhadap Dollar Amerika. 

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan terutama pada Surat Utang Negara dengan tenor panjang. Hal ini seiring dengan para pelaku pasar yang cenderung menahan diri terhadap sentimen-sentimen yang terjadi pada pasar global, seperti harga minyak yang mulai bergerak fluktuatif sejak beberapa hari lalu, serta adanya sentimen domestik terhadap surplusnya neraca perdagangan Indonesia untuk periode Mei 2019.

Sementara itu, dari faktor eksternal, tingkat imbal hasil dari US Treasury ditutup dengan mengalami penurunan. Tingkat imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup turun di level 2,014% seiring dengan tenor 30 tahun yang juga ikut ditutup menurun pada level 2,539%. Penurunan imbal hasil US Treasury tersebut juga diikuti oleh perubahan pada indeks saham utamanya yang bergerak bervariasi dimana indeks NASDAQ terpantau turun sebesar 32 bps di level 8005,70 namun untuk indeks DJIA mengalami kenaikan sebesar 3 bps di level 26727,54. Adapun untuk imbal hasil dari surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan pada level 0,814%. Sementara itu, imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) bertenor 10 tahun ditutup naik di level –0,303% dan yang bertenor 30 tahun berada di level 0,267%.

Rekomendasi
Dengan beberapa faktor pertimbangan di atas, harga Surat Utang Negara masih akan bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan dalam jangka pendek, maka kami masih menyarankan Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah sebagai pilihan investasi. Selain itu, kami juga tetap menyarankan kepada investor untuk mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan fokus pada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0053, FR0061, FR0063, FR0056, FR0059, FR0064, dan FR0071.

Back Download PDF