RESEARCH

RESEARCH

26 Desember 2018

Fixed Income Notes 26 Desember 2018

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Jum'at, 21 Desember 2018 bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan ditengah terbatasnya volume perdagangan jelang libur panjang di akhir pekan.  

Peruabahan harga yang terjadi pada perdagangan di akhir pekan kemarin hingga mencapai 50 bps sehingga mendorong terjadinya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 14 bps. Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek cenderung mengalami kenaikan hingga sebesar 10 bps mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hingga 4,5 bps. Sementara itu harga Surat Utang Negara dengan tenor menengah beregrak bervariasi dengan perubahan hingga sebesar 50 bps mendorong terjadinya perubahan tingkat imbal hasil hingag mencapai 14 bps. Adapun harga Surat Utang Negara dengan tenor panjang mengalami arah perubahan yang beragam dengan besaran perubahan hingga sebesar 40 bps yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 5 bps. Pergerakan harga Surat Utang Negara seri acuan pada perdagangan di akhir pekan mengalami kenaikan, dengan kenaikan harga terbesar didapati pada tenor 5 tahun yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 14 bps di level 7,746%. Adapun untuk tenor 10 tahun dan 20 tahun perubahan hargfa yang terjadi relatif terbatas, kurang dari 10 bps sehingga tingkat imbal hasilnya mengalami penurunan kurang dari 1 bps masing - masing di level 7,929% dan 8,342%. Sedangkan untuk tenor 15 tahun, kenaikan harga sebesar 10 bps mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 1,5 bps di level 8,143%.

Cukup bervariaisnya perubahan harga Surat Utang Negara pada perdagangan di hari Jum'at kemarin didorong oleh aksi pembelian secara selektif oleh pelaku pasar di tengah pergerakan nilai tukar Rupiah yang mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika serta meningkatnya persepsi risiko di tengah gejolak yang terjadi di pasar keuangan global, terutama di pasar sahamnya. Di akhir pekan, indeks saham global bergerak dengan mengalami penurunan di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta penurunan harga komoditas minyak. Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar melakukan pembelian secara selektif terhadap beberapa seri Surat Utang Negara sehingga mendorong terjadinya kenaikan harga. Hanya saja pelaku pasar tidak terlalu agresif melakukan pembelian di pasar sekunder yang tercermin pada volume perdagangan yang tidak begitu besar jelang pelaksanaan libur panjang pada pekan ini. Dalam sepekan terakhir, pergerakan harga Surat Utang Negara cenderung mengalami kenaikan pada keseluruhan tenor Surat Utang Negara sehingga mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil, dengan rata - rata mengalami penurunan sebesar 13 bps. Untuk seri acuan dengan tenor 10 tahun, tingkat imbal hasilnya dalam sepekan terakhir bergerak dengan mengalami penurunan sebesar 15 bps seiring dengan pergerakan imbal hasil surat utang global yang bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan serta relatif stabilnya pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, pergerakan harganya mengalami penurunan yang didapati pada keseluruhan tenor Surat Utang Negara dengan penurunan harga yang cukup besar terjadi pada Surat Utang Negara dengan tenor di atas 10 tahun. Penurunan harga yang terjadi di akhir pekan tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya persepsi risiko yang tercermin pada kenaikan angka Credit Default Swap (CDS). Harga dari INDO23 mengalami penurunan sebesar 5 bps yang mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 1 bps di level 4,129%. Adapun harga dari INDO28 mengalami penurunan sebesar 18 bps yang mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasil sebesar 2,5 bps di level 4,513% dan penurunan harga INDO43 sebesar 40 bps menyebabkan kenaikan imbal hasilnya sebesar 3 bps di level 5,166%. Imbal hasil dari Surat Utang Negara berdenominasi Dollar Amerika dengan tenor 10 tahun dalam sepekan terakhir cenderung mengalami penurunan, sebesar 6 bps sering dengan penurunan imbal hasil US Treasury. 

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan di akhir pekan senilai Rp7,04 triliun dari 42 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp1,50 triliun. Obligasi Negara seri FR0063 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,104 triliun dari 27 kali transaksi di 92,64% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0077 senilai Rp905,42 miliar dari 17 kali transaksi di harga rata - rata 101,58%. Adapun Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp200,00 miliar dari 7 kali transaksi di harga rata - rata 96,92% yang diikuti oleh perdagangan seri PBS006 senilai Rp110,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 101,33%.

Adapun volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan pada perdagangan di hari Jum'at senilai Rp2,07 triliun dari 63 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Sukuk Mudharabah Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry I Tahun 2018 Seri B (SMLPPI01B) menjadi SUkuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp636,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,00% yang diikuti oleh perdagangan  Sukuk Mudharabah Berkelanjutan Indonesia Eximbank I Tahap I Tahun 2018 Seri B (SMBEXI01BCN1) senilai Rp30,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 96,89%. Sedangkan Obligasi Berkelanjutan III Tower Bersama Infrastructure Tahap II Tahun 2018 (TBIG03CN2) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp150,00 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata - rata 100,00% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Batavia Prosperindo Finance Tahap II Tahun 2017 (BPFI01CN2) senilai Rp130,00 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata - rata 100,03%. 

Pergerakan nilai tukar Rupiah jelang libur panjang mengalami pelemahan sebesar 80,30 pts (0,55%) di level 14552,80 per Dollar Amerika. Bergerak dengan menunjukkan pelemahan sejak awal perdagangan, nilai tukar Rupiah bergerak dengan mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan di kisaran 14464,00 hingga 14552,80 per Dollar Amerika di tengah beragamnya arah pergerakan mata uang regional terhadap Dollar Amerika. Mata uang Won Korea Selatan (KRW) pada akhir pekan memimpin penguatan mata uang regional, sebesar 0,46% yang diikuti oleh mata uang Peso Philippina (PHP) sebesar 0,45%. Adapun mata uang Rupee India (INR) memimpin pelemahan mata uang regional pada perdagangan di kahir pekan, sebesar 0,75% yang diikuti oleh mata uang Rupiah dan Yuan China (CNY) sebesar 0,29%. Dalam sepakan, mata uang regional bergerak dengan kecenderungan mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika di tengah melemahanya mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang utama dunia. Mata uang Rupee India memimpin penguatan mata uang regional dalam sepekan, dengan penguatan sebesar 2,37% yang diikuti oleh penguatan mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 1,94%. Adapun mata uang Rupiah cenderung bergerak stabil dengan mengalami penguatan sebesar 0,22%.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan di akhir pekan cenderung bergerak dengan mengalami kenaikan. Namun demikian, pada perdagangan di hari Senin, 24 Desember 2018, pergerakan imbal hasil surat utang global bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup turun ke level 2,752% seiring dengan koreksi di pasar saham Amerika mendorong meningkatnya permintaan terhadap aset yang lebih aman (safe haven asset). Adapun imbal hasil surat utang Inggris dan Jepang juga terlihat mengalami penurunan, masing - masing di level 1,262% dan 0,025%. Adapun imbal hasil surat utang Jerman, pada perdagangan di hari Senin ditutup dengan mengalami kenaikan di level 0,248%. 

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara akan kembali bergerak dengan arah perubahan yang beragam yang lebih dipengaruhi oleh katalis eksternal. Ditengah terbatasnya hari perdagangan dan data ekonomi demestik di akhir tahun 2018 maka faktor eksternal lebih akan banyak berdampak terhadap perdagangan Surat Utang Negara hingga akhir tahun 2018. Beberapa faktor tersebut diantaranya adalah penurunan imbal hasil US Treasury yang akan berpotensi untuk menjadi katalis positif bagi Surat Utang negara, baik itu denominasi Rupiah maupun Dollar Amerika. Selain itu, pelemahan mata uang Dollar Amerika terhadap mata uang utama dunia di tengah berhentinya sebagian layanan pemerintah Amerika Serikat (government shutdown) akan meredakan tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang akan juga berdampak positf bagi pasar Surat Utang Negara. Hanya saja, koreksi besar yang terjadi di pasar saham Amerika Serikat, dimana indeks utama pasar saham Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 2,91% untuk DJIA dan sebesar 2,71% untuk S&P500 akan menigkatkan persepsi risiko terhadap instrumen - instrumen yang berisiko termasuk didalamnya adalah instrumen negara - negara berkembang. Oleh karena itu kami melihat bahwa kombinasi dari beberapa faktor eksternal tersebut akan berdampak terhadap beragamnya arah pergerakan harga Surat Utang Negara hingga akhir tahun 2018. Satu - satunya katalis positif dari internal adalah upaya pelaku pasar untuk menjaga kinerja portofolio mereka di akhir tahun 2018 agar tetap memberikan kinerja yang optimal (window dressing). 

Pada pekan ini terdapat dua surat utang yang jatuh tempo senilai Rp3,0 triliun dan US$5 juta.

Pencatatan Obligasi Berkelanjutan III WOM Finance Tahap I Tahun 2018. 

Download PDF