RESEARCH

Company Update

26 Februari 2019

Fixed Income Notes 26 Februari 2019

Jelang lelang hari ini, Pergerakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin, hari Senin, tanggal 25 Februari 2019 ditutup menguat ditengah sentimen makin dekatnya proses damai dagang antara Amerika dan China sehingga berdampak kepada nilai tukar Rupiah yang cenderung menguat.

Perubahan harga Surat Utang Negara mencapai 58 bps dengan rata-rata kenaikan sebesar 21 bps sehingga berdampak adanya koreksi tingkat imbal hasil hingga sebesar 7,4 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan, sebagian besar serinya mengalami kenaikan harga yang berkisar antara 6 bps hingga 31 bps mendorong adanya penurunan imbal hasil hingga berkisar antara 1,3 bps hingga 4,3 bps. Kenaikan harga tertinggi didapati pada Surat Utang Negara seri acuan bertenor 10 tahun sebesar 31 bps yang mendorong penurunan imbal hasil sebesar 4,3 bps dan diiringi dengan Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 20 tahun dan 5 tahun yang mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 13 bps dan 6 bps yang berdampak terhadap penurunan harga masing-masing sebesar 1,3 bps dan 1,4 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 tahun mengalami penurunan harga hingga sebesar 5 bps sehingga terjadi kenaikan imbal hasil sebesar 1 bps.

Pada perdagangan awal pekan ini, pergerakan harga Surat Utang Negara kembali ditutup dengan kecenderungan mengalami kenaikan ditengah sentimen positif semakin dekatnya proses damai dagang antara Amerika dan China. Kenaikan harga ini juga dialami oleh pasar surat utang negara-negara berkembang yang lain. Para pelaku pasar merespon bahwa proses damai tersebut akan berdampak terhadap membaiknya kondisi perekonomian di negara-negara berkembang  sehingga membuat para pelaku pasar optimis untuk menginvestasikan dananya pada negara-negara berkembang. Adapun kenaikan harga Surat Utang Negara juga masih dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah yang menguat sepanjang sesi perdagangan kemarin.

Kenaikan harga juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah melemahnya imbal hasil US Treasury. Kenaikan harga didapati pada sebagian besar seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika. Imbal hasil INDO24 dan INDO29 mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,4 bps di level 3,884% dan 3,1 bps di level 4,189% yang didorong terjadinya kenaikan harga sebesar 11 bps dan 25,6 bps. Adapun imbal hasil dari INDO44 dan INDO49 mengalami koreksi masing-masing sebesar 2,2 bps di level 4,995% dan  4,8 bps di level 4,89% setelah mengalami adanya kenaikan harga sebesar 36,4 bps dan 78,7 bps. 

Volume perdagangan Obligasi Negara yang dilaporkan sebesar Rp4,53 triliun dari 41 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Adapun untuk volume perdagangan Surat Utang Negara dengan volume tertinggi didapati pada seri FR0073 sebesar Rp3,00 triliun dari 31 kali transaksi dan kemudian dilanjutkan dengan Surat Utang Negara dengan seri FR0077 dan FR0078 masing-masing sebesar Rp1,35 triliun dari 41 kali perdagangan dan Rp1,27 triliun dari 51 kali transaksi. Adapun untuk perdagangan Sukuk Negara, volume Project Based Sukuk terbesar didapati pada seri PBS014 senilai Rp330,96 miliar dari 8 kali transaksi dan diiringi oleh volume Project Sukuk Negara seri PBS005 dan seri PBS016 masing-masing sebesar Rp220,00 miliar dari 5 kali transaksi dan Rp78,00 miliar untuk 7 kali perdagangan.

Pada perdagangan awal pekan ini, volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan sebesar Rp1,60 triliun dari 41 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan IV Astra Sedaya Finance Tahap II Tahun 2019 Seri A (ASDF04ACN2) senilai Rp799,50 miliar dari 39 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap VII Tahun 2019 Seri A (SMFP04ACN7) dan  Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap I Tahun 2017 Seri B (SMFP04BCN1) masing-masing senilai Rp395,00 miliar dari 11 kali transaksi dan Rp50,00 miliar untuk 2 kali transaksi. Adapun, selanjutnya didapati seri Obligasi Berkelanjutan I Maybank Finance Tahap III Tahun 2016 (BIIF01ACN3) dengan volume perdagangan sebesar Rp38,00 miliar untuk 1 kali transaksi.

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika menguat sebesar 40 pts (0,29%) di level 14018,00 per Dollar Amerika. Penguatan nilai tukar Rupiah tersebut terjadi pada sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 13990,00 hingga 14021,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami penguatan seiring dengan penguatan nilai tukar mata uang regional terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun yang mengalami penguatan tertinggi didapati pada mata uang Reminbi China (CNY) sebesar 0,41% diiringi dengan mata uang Won Korea Selatan (KRW) dan mata uang Rupiah Indonesia yang juga mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,38% dan 0,29% terhadap Dollar Amerika. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan didapati pada mata uang Dollar Hongkong (HKD) sebesar 0,01% dan mata uang Peso Filipina pada perdagangan kemarin tidak mengalami perubahan terhdap mata uang Dollar Amerika.

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup mengalami penurunan sebesar 1 bps yang berada pada level 2,663%, hal yang sama juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penurunan sebesar 0,7 bps yang berada pada level 3,025% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak menguat. Indeks NASDAQ ditutup menguat sebesar 36 bps sehingga berada pada level 7554,46 dan untuk indeks DJIA juga ditutup dengan mengalami penguatan sebesar 23 bps sehingga berada pada level 26091,95. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami penguatan masing-masing di level 1,185% dan 1,725% sedangkan obligasi Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun mengalami penurunan masing-masing di level 0,105% dan 0,734%.

Pada perdagangan hari ini, kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan berpeluang mengalami kenaikan seiring dengan optimisnya para pelaku pasar global terhadap kelanjutan damai dagang antara Amerika dan China serta stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Selain itu, dari faktor domestik diperkuat dengan adanya lelang penjualan Surat Utang Negara yang akan dilaksanakan pada hari ini. Pemerintah berencana untuk mengadakan lelang penjualan Surat Utang Negara dengan target penerbitan senilai Rp15 triliun dari enam seri Surat Utang Negara yang ditawarkan kepada investor. Kami perkirakan pelaku pasar masih akan mencermati pelaksanaan lelang sebelum kembali melakukan transaksi di pasar sekunder. 

Rekomendasi Dengan beberapa faktor pertimbangan di atas, harga Surat Utang Negara masih akan bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan dalam jangka pendek, maka kami masih menyarankan Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah sebagai pilihan investasi. Selain itu, kami juga tetap menyarankan kepada investor untuk mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan fokus pada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0069, FR0061, FR0053, FR0063, FR0070, dan FR0056.

Rencana Lelang Surat Utang Negara seri SPN03190527 (New Issuance), SPN12200213 (Reopening), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0068 (Reopening), dan FR0079 (Reopening) pada hari Selasa, tanggal 26 Februari 2019.

Pemerintah akan melakukan lelang penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang Rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2019. Target penerbitan senilai Rp15.000.000.000.000,00 (lima belas triliun rupiah) dengan seri – seri yang akan dilelang adalah sebagai berikut : 

- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN03190527 (Diskonto; 27 Mei 2019);

- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN12200213 (Diskonto; 13 Februari 2020);

- Obligasi Negara seri FR0077 (8,12500%; 15 Mei 2024);

- Obligasi Negara seri FR0078 (8,25000%; 15 Mei 2029);

- Obligasi Negara seri FR0068 (8,37500%; 15 Mei 2034); dan

- Obligasi Negara seri FR0079 (8,37500%; 15 April 2039). 

Kami perkirakan jumlah penawaran yang masuk akan berkisar antara Rp45—55 triliun dengan jumlah penawaran yang cukup besar akan didapati pada instrumen Surat Perbendaharaan Negara serta pada Obligasi Negara seri FR0077 dan FR0078. Adapun berdasarkan kondisi pergerakan harga Surat Utang Negara menjelang pelaksanaan lelang, maka kami perkirakan tingkat imbal hasil yang akan dimenangkan adalah sebagai berikut :

- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN03190527 berkisar antara 5,75 - 5,84;

- Surat Perbendaharaan Negara Seri SPN12200213 berkisar antara 6,06 - 6,15;

- Obligasi Negara seri FR0077 berkisar antara 7,66 - 7,75;

- Obligasi Negara seri FR0078 berkisar antara 7,84 - 7,93;

- Obligasi Negara seri FR0068 berkisar antara 8,16 - 8,25; dan

- Obligasi Negara seri FR0079 berkisar antara 8,28 - 8,37. 

Lelang akan dilaksanakan pada hari Selasa, 26 Februari 2019, dibuka pukul 10.00 WIB dan ditutup pukul 12.00 WIB. Adapun hasil dari pelaksanaan akan diumumkan pada hari yang sama dan hasil dari lelang akan didistribusikan pada hari Kamis, tanggal 28 Februari 2019. Di tahun 2019, target penerbitan bersih (net issuance) Surat Berharga Negara senilai Rp389,0 triliun dimana pada kuartal I tahun 2019 pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Berharga Negara melalui lelang senilai Rp185,00 triliun dari 7 kali lelang Surat Utang Negara dan 6 kali lelang Sukuk Negara. Pada lelang sebelumnya pemerintah meraup dana senilai Rp25,00 triliun dari total penawaran yang masuk mencapai Rp66,35 triliun.

Back Download PDF