33333fixed-income-notes-27-februari-2019fixed-income-notes-27-
RESEARCH

MNCS Daily Scope Wave

27 Februari 2019

Fixed Income Notes 27 Februari 2019

Harga Surat Utang Negara kembali bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang diakibatkan oleh sentimen damai perang dagang antara Amerika dan China pada perdagangan hari Selasa, tanggal 26 Februari 2019.
 
Perubahan harga Surat Utang Negara mencapai 56 bps yang mendorong  turunnya tingkat imbal hasil hingga sebesar 12 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan, sebagian besar serinya mengalami kenaikan harga yang berkisar antara 49 bps hingga 57 bps yang mengakibatkan adanya rata-rata perubahan tingkat imbal hasil turun sebesar 7,7 bps, dimana pada Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 20 tahun mengalami kenaikan harga tertinggi sebesar 57 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 5,8 bps dan diikuti oleh Surat Utang Negara seri acuan bertenor 10 tahun dan 15 tahun yang mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 53 bps dan 50 bps sehingga berdampak pada penurunan imbal hasil sebesar 7,6 bps dan 5,8 bps. Adapun untuk seri acuan yang mengalami perubahan harga terendah didapati pada tenor 5 tahun sebesar 49 bps yang mengakibatkan terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 11 bps di level 7,573%.  
 
Perubahan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin bergerak dengan mengalami kenaikan. Hal ini masih dipicu oleh adanya penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditengah sentimen damai perang dagang antara Amerika dan China. Selain itu, harga minyak dunia yang mengalami penurunan juga turut menguntungkan Indonesia sehingga nilai tukar Rupiah berpeluang untuk terus menguat. Hanya saja setelah tiga hari berturut-turut Rupiah mengalami penguatan, para investor memanfaatkan momentum ini untuk mengambil aksi untung. Sementara itu, dari hasil lelang Surat Utang Negara pemerintah berhasil meraup dana sebesar Rp22,00 triliun dari total penawaran yang masuk mencapai Rp93,93 triliun. 
 
Kenaikan harga juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah berkurangnya tingkat imbal hasil US Treasury pada tenor diatas 10 tahun. Kenaikan harga didapati pada semua seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika. Harga INDO24 dan INDO29 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 12,4 bps dan 13,7 bps sehingga berdampak terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 2,6 bps di level 3,859% dan 1,6 bps di level 4,173%. Adapun harga dari INDO44 dan INDO49 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 22,8 bps dan 12,90 bps yang mendorong adanya koreksi tingkat imbal hasil sebesar 1,3 bps di level 4,983% dan 0,7 bps di level 4,884%.
 
Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp8,59 triliun dari 43 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar cukup aktif melakukan transaksi di pasar sekunder. Surat Utang Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,41 triliun dari 40 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp9,34 triliun dari 40 kali transaksi kemudian diikuti dengan perdagangan Obligasi Negara FR0064 sebesar Rp826,33 miliar dari 27 kali transaksi. Adapun dari perdagangan sukuk negara, Project Based Sukuk dengan seri PBS014 mengalami volume terbesar senilai Rp232,00 miliar dari 9 kali transaksi dan diikuti oleh seri PBS016 sebesar Rp137,00 miliar untuk 9 kali perdagangan.
 
Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp826,40 miliar dari 50 seri obligasi korporasi yang ditransaksikan. Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank III Tahap IV Tahun 2017 Seri B (BEXI03BCN4) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp190,00 miliar dari 7 kali transaksi di harga rata - rata 100,59% dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan I Bank BRI Tahap III Tahun 2016 Seri B (BBRI01BCN3) senilai Rp80,00 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 100,13%.
 
Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin kembali menguat sebesar 26 pts (0,19%) di level 13992,00 per Dollar Amerika dimana pergerakan nilai tukar Rupiah menguat disepanjang sesi perdagangan pada kisaran 13970,00 hingga 14005,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami penguatan seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional yang bergerak bervariatif terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun mata uang Won Korea Selatan (KRW) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,21% dan diikuti oleh penguatan nilai tukar mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,20%. Sementara itu, mata uang Rupiah Indonesia (IDR) dan mata uang Dollar Singapura (SGD) menguat masing-masing sebesar 0,19% dan 0,05% terhadap mata uang Dollar Amerika. Selanjutnya, mata uang Ringgit Malaysia (MYR) mengalami pelemahan sebesar 0,11% yang diiringi dengan pelemahan mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,08% terhadap Dollar Amerika.
 
Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan sehingga berada pada level 2,637%, namun yang terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun mengalami penurunan sehingga berada pada level 3,006% ditengah kondisi pasar saham Amerika yang ditutup dengan mengalami koreksi dimana indeks DJIA ditutup melemah sebesar 13 bps di level 26057,98 seiring untuk indeks NASDAQ yang ikut mengalami koreksi sebesar 7 bps di level 7549,30. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami pelemahan di level 1,206% sedangkan obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun mengalami kenaikan terbatas di level 0,116%. Adapun untuk obligasi Inggris (Gilt) dan obligasi Jerman (Bund) dengan tenor 30 tahun, keduanya mengalami koreksi masing-masing pada level 1,749% dan 0,744%
 
Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak bervariasi dengan masih berpeluang untuk mengalami kenaikan didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika akibat optimisnya para pelaku pasar terhadap sentimen damai perang dagang antara Amerika dan China. Selain itu, suksesnya lelang penjualan Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin menjadi indikasi bahwa pelaku pasar masih merespon positif pada kondisi pasar saat ini.
 
Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara. Kami merekomendasikan kepada investor untuk melakukan strategi trading di tengah pergerakan harga Surat Utang Negara yang cenderung bergerak berfluktuasi dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0053, FR0061, FR0063, FR0070, FR0077, FR0056 dan FR0059.
 
Pemerintah meraup dana senilai Rp22,00 triliun dengan melaksanakan lelang Surat Utang Negara pada tanggal 26 Februari 2019 untuk seri SPN03190527 (New Issuance), SPN12200213 (Reopening), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0068 (Reopening), dan FR0079 (Reopening).

Back Download PDF