RESEARCH

RESEARCH

13 Maret 2019

Fundamental Analysis 13 Maret 2019

Harga Surat Utang Negara bergerak dengan mengalami  kenaikan di tengah nilai tukar Rupiah yang mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika pada perdagangan hari Selasa, tanggal 12 Maret 2019.

Perubahan harga Surat Utang Negara mencapai 65 bps dengan rata-rata kenaikan sebesar 24 bps yang mendorong adanya perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 6,3 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara seri acuan, semua serinya mengalami perubahan harga yang berkisar antara 23 bps hingga 43 bps yang mengakibatkan adanya penurunan tingkat imbal hasil hingga 6,2 bps. Adapun perubahan harga tertinggi didapati pada seri acuan dengan tenor 10 tahun sebesar 43 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 6,2 bps di level 7,847% dan diikuti oleh perubahan harga seri acuan bertenor 20 tahun dan 15 tahun yang masing-masing naik sebesar 31 bps dan 27 bps sehingga berdampak kepada perubahan imbal hasil masing-masing sebesar 3,2 bps di level 8,332% dan 3,2 bps di level 8,270%. Adapun perubahan harga terendah didapati pada seri acuan dengan tenor 5 tahun sebesar 23 bps yang mengakibatkan ternjadinya penurunan imbal hasil sebesar 5,3 bps di level 7,444%.

Penguatan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin masih dipengaruhi oleh faktor perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika setelah pelaku pasar global merespon adanya sentimen positif dari perkembangan isu Brexit, dimana parlemen Inggris menggelar voting untuk menentukan keputusan dari proposal Brexit yang diusulkan Perdana Menteri Theresa May. Hal ini akan meningkatkan sentimen risk-off dari para investor dimana para investor lebih dominan untuk menjual asetnya dan cenderung untuk beralih ke aset yang lebih aman (safe haven asset). Selain itu, adanya lelang penjualan obligasi negara juga turut menjadi katalis positif bagi kenaikan harga obligasi pada perdagangan kemarin. Hal ini terlihat dari peningkatan volume dari perdagangan sebelumnya. Sementara itu, pemerintah berhasil meraup dana sebesar Rp18,05 triliun dari tujuh seri Surat Utang Negara yang ditawarkan kepada para investor.

Kenaikan harga juga terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika ditengah penguatan imbal hasil US Treasury. Kenaikan harga didapati pada semua seri Surat Utang Negara berdonominasi mata uang Dollar Amerika. Perubahan harga INDO 24 dan INDO 29 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 7,9 bps dan 10,6 bps yang berdampak pada penurunan imbal hasil masing-masing sebesar 1,7 bps di level 3,709% dan 1,3 bps di level 4,171%. Adapun untuk seri INDO44 dan INDO 49 didapati kenaikan harga masing-masing sebesar 24 bps dan 14,2 bps sehingga mengakibatkan turunnya tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 1,4 bps di level 5,002% dan 0,9 bps di level 4,909%.

Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp20,76 triliun dari 39 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar cukup aktif melakukan transaksi perdagangan. Adapun Surat Utang Negara seri FR0077 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,27 triliun dari 114 kali transaksi di harga rata - rata 102,98% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 dan FR0079 masing-masing senilai Rp3,62 triliun dari 101 kali transaksi di harga rata - rata 102,57% dan Rp3,32 triliun dari 137 kali transaksi di harga rata - rata 101,80%.

Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih besar daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,61 triliun dari 69 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Adapun untuk seri Obligasi Berkelanjutan III Federal International Finance Tahap V Tahun 2019 Seri A (FIFA03ACN5) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp273,00 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 99,95% dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan III Federal International Finance Tahap V Tahun 2019 Seri B (FIFA03BCN5) dan Obligasi Berkelanjutan III Tower Bersama Infrastructure Tahap II Tahun 2018 (TBIG03CN2) masing-masing senilai Rp240,00 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 99,95% dan Rp130,00 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata-rata 100,01%.

Pada perdagangan kemarin, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami penguatan sebesar 26 pts (0,18%) di level 14265,00 per Dollar Amerika. Pergerakan nilai tukar Rupiah mengalami penguatan di sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14240,00 hingga 14278,00 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami penguatan seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional yang menguat terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun mata uang Won Korea Selatan (KRW) memimpin penguatan  sebesar 0,35% diiringi dengan mata uang Baht Thailand (THB) dan mata uang Rupee India (INR) yang juga mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,29% dan 0,23%. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan tertinggi didapati pada mata uang Peso Filipina (PHP) sebesar 0,96% kemudian diikuti dengan nilai tukar mata uang Yen Jepang (JPY) yang mengalami koreksi sebesar 0,11% terhadap Dollar Amerika. 

Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami penguatan sehingga berada di level 2,61%, hal yang sama juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penguatan sehingga berada di level 2,995%. Kenaikan US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak bervariasi dimana indeks DJIA ditutup melemah sebesar 38 bps sehingga berada pada level 25554,66, sedangkan indeks NASDAQ ditutup mengalami penguatan sebesar 44 bps sehingga berada pada level 7591,03. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dan obligasi Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun mengalami pelemahan masing-masing di level 1,152% dan 0,051%. Adapun untuk obligasi Inggris (Gilt) dan obligasi Jerman (Bund) dengan tenor 30 tahun, keduanya juga mengalami penurunan masing-masing pada level 1,681% dan 0,713%

Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak bervariasi dengan masih berpeluang untuk mengalami kenaikan didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika akibat optimisnya para pelaku pasar terhadap kelanjutan isu Brexit. Selain itu, suksesnya lelang penjualan Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin menjadi indikasi bahwa pelaku pasar masih merespon positif pada kondisi pasar saat ini.

Rekomendasi Dengan kondisi tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara. Kami merekomendasikan kepada investor untuk melakukan strategi trading di tengah pergerakan harga Surat Utang Negara yang cenderung bergerak berfluktuasi dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0069, FR0053, FR0061, FR0070, FR0056, FR0059 dan FR0071.

Pemerintah meraup dana senilai Rp18,05 triliun dengan melaksanakan lelang Surat Utang Negara pada tanggal 12 Maret 2019 untuk seri SPN03190613 (new issuance), SPN12200313 (new issuance), FR0077 (reopening), FR0078 (reopening), FR0068 (reopening), FR0079 (reopening) dan FR0076 (reopening).

 

Download PDF