RESEARCH

Company Update

16 September 2019

Fundamental Analysis 16 September 2019

Setelah sepanjang pekan lalu IHSG menguat +0.41% tetapi Investor asing justru kembali membukukan Net Sell sebesar Rp -911.1 miliar, diawal pekan ini IHSG berpotensi terkena tekanan jual seiring cukup banyak perkembangan nefatif mulai dari turunnta harga Nikel -1.36%, Timah -2.72%, Gold -0.76%, EIDO -0.54% serta tajamnya kenaikan tahan harga minyak mentah dunia sekitar +11% Senin pagi akibat serangan kilang minyak Aramco Sabtu pekan lalu membuat suhu geopolitik meningkat di Timur Tengah. Indikasi indeks future Hangseng dan DJIA yang menunjukkan akan dibuka turun cukup tajam menjadi tambahan faktor negatif untuk perdagangan Senin ini ditengah gejolak rencana kenaikan cukai rokok dan gejojak di tubuh KPK. Walaupun IHSG berpeluang turun hari ini, Senin ini kami merekomendasikan untuk trading atas saham-saham di Sektor  Retail, Telko, Bank, Industri Dasar, Infrastruktur, Konstruksi, Konsumer dan Properti. IHSG kami perkirakan bergerak pada 6,285 - 6,378. Adapun saham – saham yang kami rekomendasikan hari ini adalah ERAA EXCL ACES BBRI MARK TOWR WIKA MYOR PZZA PWON.

Mayoritas bursa saham di developed economies bergerak menguat. Bursa saham benua kuning bergerak menguat pada perdagangan akhir kemarin. Indeks Nikkei ditutup menguat sebesar +1.05%, diikuti oleh Indeks Hang Seng menguat sebesar +0.98%, Indeks Kospi dan Indeks Shanghai tutup pada perdagangan Jumat (13/9). Sementara itu, Dow Jones ditutup menguat sebesar +0.14% ke level 27,220, namun S&P 500 melemah sebesar  -0.07%. Wall Street ditutup bervariatif sejalan dengan optimisme pelaku pasar akan harapan damai dagang antara AS-China diiringi oleh stimulus moneter yang diberikan European Central Bank (ECB). Di lain sisi, pelemahan saham Apple sebesar –1.9% setelah Goldman Sachs memangkas target harga menjadi pemberat pergerakan Wall Street. Rilis data investasi aset tetap,  produksi Industri, serta penjualan ritel China menjadi sentimen penggerak bursa Asia hari ini. Di samping itu, di pasar komoditi, harga minyak mentah WTI  melemah –0.44% ke USD 54.85 per barel. Harga minyak diprediksi akan naik US$10 per barel akibat serangan kilang minyak di Arab Saudi milik Saudi Aramco di Abqaiq dan Khurais oleh drone menyebabkan hilangnya 5,7 juta barel produksi minyak mentah per hari atau 50% dari total produksi.

Pada perdagangan 13 September, IHSG ditutup melemah sebesar –0.12% kelevel 6,335. Sejalan dengan hal tersebut, investor asing tercatat melakukan aksi net sell dengan nilai mencapai Rp  135 miliar.  Pelaku pasar perlu mencermati rilis data neraca perdagangan Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini.

Back Download PDF