RESEARCH

RESEARCH

23 November 2018

Weekly Analysis 19 - 23 November 2018

Secara week-on-week, IHSG telah menguat sebesar +2.35 persen atau +138.2 point ke 6,012. Current account deficit (CAD) Indonesia bertambah melebar. Pada 3Q18, CAD menunjukkan 3.37% dari GDP, terdalam sejak 2Q14. Net capital outflow menjadi faktor utama CAD yang bertambah melebar. Agar supaya menekan CAD yang semakin melebar, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (7 days repo) sebesar +25bps menjadi 6.0%. Di samping itu, neraca perdagangan Indonesia kembali defisit pada Okt18, lebih tinggi di atas ekspektasi. Berdasarkan technical analysis, Jika menguat, IHSG akan tertahan di 6070 sebagai resistance level terkuat. Di tengah faktor negatif domestik yang variatif dan yield obligasi berlanjut meningkat, tidak ada solid signal to bullish untuk pergerakan IHSG dalam jangka menengah-panjang.Kami perkirakan IHSG akan bergerak dalam range 5,880-6,070.

Wall Street dalam sepekan bergerak melemah sebesar –576 point atau –2.22 persen di level 25,413.  Tingkat inflasi US berlanjut meningkat ke 2.5% pada Okt18, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan  sebelumnya. Hal tersebut mengindikasi aktivitas ekonomi US berlanjut meningkat. Investor portofolio sedikit underconfidence seiring dengan meningkatnya tingkat kepercayaan kenaikkan fed fund rate. Selain itu, setelah Trump berdiskusi dengan top trade adviser-nya pada Selasa, dia berencana mengenakan tarif 25% pada impor mobil. Di samping itu, budget deficit US semakin melebar pada Oktober.

Bursa Asia bergerak mixed, perlemahan terbesar terjadi pada Bursa Jepang sebesar –569 atau –2.56. Harga komoditas bergerak mixed. Penguatan terjadi pada harga Timah sebesar +1.04 persen atau meningkat +200 point. Perlemah terjadi pada harga CPO sebesar –5.59 persen atau melemah –105 point.

 

Download PDF