RESEARCH

Fixed Income Notes

08 Agustus 2019

Fixed Income Notes 08 Agustus 2019

Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin, hari Rabu, 7 Agustus 2019 mengalami penurunan ditengah menguatnya mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika sebagai dampak dari meredanya perang dagang dan membaiknya cadangan devisa Indonesia.
 
Perubahan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin hari Rabu, 7 Agustus 2019 mengalami rata-rata kenaikan hingga sebesar 25 bps yang mendorong terjadinya rata-rata penurunan tingkat imbal hasil sebesar 5 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami kenaikan harga hingga sebesar 14 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan imbal hasil hingga sebesar 10 bps. Sementara itu, Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) juga didapati kenaikan harga hingga 54,3 bps yang berdampak pada menurunnya tingkat imbal hasil hingga sebesar 12 bps. Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor panjang (diatas 7 tahun) mengalami kenaikan harga dengan rata-rata sebesar 26 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil mencapai 3 bps.

Penurunan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan kemarin turut didorong oleh naiknya harga Surat Utang Negara ditengah pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang cenderung menguat. Kenaikan harga Surat Utang Negara tersebut turut dipengaruhi oleh sentimen global dimana sebagian besar pergerakan imbal hasil surat utang global juga cenderung mengalami penurunan sebagai dampak dari meredanya tensi perang dagang antara Amerika dan China dimana kedua negara sepakat untuk kembali ke meja perundingan di Washington pada awal bulan depan.

Sementara itu, dari sentimen domestik, Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa untuk periode Juli 2019 sebesar USD125,9 miliar. Angka tersebut meningkat 1,6% dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2019 sebesar USD123,8 miliar. Adapun posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah dimana angka tersebut berada diatas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan. Dari beberapa sentimen tersebut membuat para pelaku pasar merasa yakin untuk masuk kembali ke pasar sekunder.

Sementara itu, pada perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika terjadi ditengah turunnya tingkat imbal hasil surat utang global. Penurunan imbal hasil tersebut didapati pada keseluruhan seri Surat Utang Negara berdenominasi mata uang Dollar Amerika. Perubahan harga INDO24 dan INDO29 mengalami penguatan masing-masing sebesar 10 bps dan 43 bps yang berdampak pada turunnya imbal hasil masing-masing sebesar 2,3 bps di level 2,807% dan 4,8 bps di level 3,113%. Adapun untuk seri INDO44 dan INDO49 didapati penguatan harga masing-masing sebesar 72 bps dan 103 bps sehingga mengakibatkan penurunan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 4 bps di level 4,170% dan 5,2 bps di level 4,026%. 
 
Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp17,21 triliun dari 45 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan dengan Surat Utang Negara seri acuan sebesar Rp5,53 triliun. Adapun Surat Utang Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,54 triliun dari 182 kali transaksi di harga rata - rata 104,87% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0082 dan FR0064 masing-masing senilai Rp1,63 triliun dari 64 kali transaksi di harga rata - rata 97,25% dan Rp1,51 triliun dari 23 kali transaksi di harga rata - rata 90,88%. Adapun untuk Surat Berharga Syariah terbesar didapati pada Project Based Sukuk seri PBS019 dengan volume sebesar Rp582,25 miliar dari 28 kali transaksi dan diikuti oleh seri PBS016 sebesar Rp400,00 miliar untuk 2 kali transaksi. 
 
Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp1,08 triliun dari 44 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. Adapun untuk seri Obligasi Berkelanjutan I Semen Indonesia Tahap I Tahun 2017 (SMGR01CN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp170,00 miliar dari 15 kali transaksi di harga rata - rata 99,83% dan diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan II Maybank Finance Tahap II Tahun 2019 Seri A (BIIF02ACN2) dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan III Indosat Tahap II Tahun 2019 Seri A (SIISAT03ACN2) masing-masing senilai Rp140,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 101,11% dan Rp123,00 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata-rata 100,02%.  
 
Pada perdagangan kemarin, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika mengalami penguatan sebesar 52 pts (0,37%) di level 14225,00 per Dollar Amerika. Pergerakan nilai tukar Rupiah dibuka dengan mengalami penguatan dan bergerak bervariasi hinggga akhir sesi perdagangan dan bergerak pada kisaran 14214 hingga 14293 per Dollar Amerika. Nilai tukar mata uang Rupiah tersebut mengalami penguatan seiring dengan pergerakan nilai tukar mata uang regional yang bergerak bervariasi terhadap mata uang Dollar Amerika. Adapun mata uang Rupiah Indonesia (IDR) memimpin penguatan sebesar 0,37% diiringi dengan mata uang Yen Jepang (JPY) dan mata uang Dollar Taiwan (TWD) yang juga mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,20% dan 0,06%. Sedangkan untuk mata uang regional yang mengalami pelemahan terbesar didapati pada mata uang Filipina Peso (PHP) yang mengalami koreksi sebesar 0,69% terhadap Dollar Amerika dan diikuti oleh mata uang Renminbi China (CNY) sebesar 0,27% terhadap Dollar Amerika.
 
Sementara itu, imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami  kenaikan yang terbatas sehingga berada di level 1,714%, dan untuk tenor 30 tahun mengalami kenaikan imbal hasil di level 2,228%. Pergerakan US Treasury ini terjadi ditengah kondisi pasar saham Amerika yang bergerak bervariasi dimana indeks DJIA ditutup melemah terbatas sebesar 9 bps sehingga berada pada level 26007,07 dan indeks NASDAQ ditutup menguat sebesar 38 bps sehingga berada pada level 7862,83. Sementara itu, untuk pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami penurunan di level 0,477%. Adapun untuk obligasi Jerman (Bund) dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun, keduanya mengalami kenaikan masing-masing pada level –0,573% dan -0,092%. 
 
Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak bervariasi dengan masih berpeluang untuk mengalami kenaikan yang didorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika akibat optimisnya para pelaku pasar terhadap beberapa sentimen domestik dan global, seperti naiknya angka cadangan devisa periode Juli 2019  dan meredanya tensi perang dagang antara Amerika dan China.

Rekomendasi
Dengan kondisi tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara. Kami merekomendasikan kepada investor untuk melakukan strategi trading di tengah pergerakan harga Surat Utang Negara yang cenderung bergerak naik dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar Rupiah. Adapun seri - seri yang menarik pada kondisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: FR0053, FR0061, FR0043, FR0063, FR0070, FR0040, FR0056, FR0059, dan FR0071. 
 
Rencana Penjualan Sukuk Negara Tabungan (ST) dengan seri ST005.

Back Download PDF