RESEARCH

RESEARCH

04 Januari 2019

Fixed Income Notes 04 Januari 2019

  • Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari ini, 3 Januari 2019 bergerak arah perubahan yang bervariasi dengan kecenderungan masih mengalami kenaikan di tengah meningkatnya persepsi risiko terhadap instrumen surat utang negara - negara berkembang seiring dengan kekhawatiran investor terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global. 
  • Kenaikan tingkat imbal hasil hingga sebesar 8 bps yang didorong oleh adanya penurunan harga Surat Utang Negara yang mencapai 35 bps. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami perubahan hingga sebesar 8 bps di tengah adanya perubahan harga yang mencapai 25 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami kenaikan hingga sebesar 5 bps didorong oleh adanya penurunan harga yang berkisar antara 5 bps hingga 20 bps. Sedangkan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan hinngga sebesar 5 bps didorong oleh adanya penurunan harga yang mencapai 35 bps. Adapun dari Surat Utang Negara seri acuan, kenaikan imbal hasil terjadi pada keseluruhan seri dengan kenaikan yang mendekati 5 bps setelah mengalami penurunan harga yang mencapai 35 bps. Seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun mengalami kenaikan imbal hasil hingga mendekati 5 bps masing - masing di level 7,926% dan 8,022%. Sementara itu untuk seri acuan dengan tenor 15 tahun mengalami kenaikan imbal hasil hingga mendekati 3 bps di level 8,324%.
  • Perubahan tingkat imbal hasil yang cenderung mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin didorong oleh meningkatnya persepsi risiko yang tercermin pada kenaikan angka Credit Deafult Swap (CDS) di tengah kekhawatiran investor global terhadap potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang akan juga berdampak terhadap ekonomi negara - negara berkembang. Beberapa data ekonomi global yang dirilis pada pekan ini memberikan sinyal bahwa kondisi perlambatan ekonomi global semakin terlihat sehingga turut mempengaruhi keputusan investor dalam berinvestasi. Hasil positif dari pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara serta penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika tidak cukup kuat menahan koreksi harga Surat Utang Negara yang terjadi di pasar sekunder. Pemerintah meraup dana senilai Rp28,25 triliun dari lelang penjualan Surat Utang Negara dimana total penawaran yang masuk pada lelang tersebut mencapai Rp55,27 triliun. Hasil yang dimenangkan dari lelang tersebut melebihi target penerbitan awal yang senilai Rp15,0 triliun. 
  • Seiring dengan pergerakan imbal hasil US Treasury yang menunjukkan penurunan, imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika juga menunjukkan penurunan yang terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Utang Negara. Imbal hasil dari INDO24 mengalami penurunan sebesar 2 bps di level 4,248% didorong oleh adanya kenaikan harga hingga 10 bps. Adapun imbal hasil dari INDO29 dan INDO44 pada perdagangan kemarin ditutup dengan mengalami penurunan masing - masing sebesar 3 bps di level 4,527% dan 5,274%.
  • Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya didukung oleh pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara, yaitu senilai Rp15,99 triliun dari 43 seri Surat Berharga Negara dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp10,19 triliun. Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,763 triliun dari 72 transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0077 senilai Rp4,447 triliun dari 94 kali transaksi. Adapun Sukuk Negara Ritel seri SR009 menjasi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp110,82 miliar dari 5 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS006 senilai Rp80,00 miliar dari 4 kali transaksi.
  • Adapun volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan senilai Rp1,04 triliun dari 53 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. Obligasi I AKR Corporindo Tahun 2012 Seri B (AKRA01B) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp124,0 miliar dari 4 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan III Indomobil Finance Tahap III Tahun 2018 Seri A (IMFI03ACN3) senilai Rp100,0 miliar dari 3 kali transaksi. Adapun Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Astra Sedaya Finance Tahap I Tahun 2018 Seri A (SMASDF01ACN1) menjadi sukuk korporasi dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp71,0 miliar dari 5 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Adira Finance Tahap II Tahun 2018 Seri A (SMADMF03ACN2) senilai Rp62,8 miliar dari 11 kali transaksi. 
  • Sementara itu nilai tukar Rupiah ditutup menguat sebesar -41,00 pts (-0,28%) di level 14416,50 per Dollar Amerika. Sempat dibuka menguat terbatas di awal perdagangan, pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin bergerak berfluktuasi dan mengalami pelemahan pada pertengahan perdagangan yang kemudian ditutup dengan mengalami penguatan menjelang berakhirnya sesi perdagangan pada kisaran 14416,00 hingga 14492,50 per Dollar Amerika. Penguatan nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin terjadi di tengah bervariasinya arah perubahan nilai tukar mata uang regional. Mata uang Yen Jepang (JPY) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 1,25% diikuti oleh penguatan mata uang Rupiah dan Baht Thailand (THB) sebesar 0,27%. Adapun mata uang Won Korea Selatan (KRW) memimpin pelemahan mata uang regional, sebesar 0,77% yang diikuti oleh Dollar Taiwan (TWD) sebesar 0,27% dan Peso Philippina (PHP) sebesar 0,26%.
  • Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin menunjukkan penurunan di dorong oleh meningkatnya permintaan aset yang lebih aman (safe haven asset) seiring dengan koreksi yang terjadi di pasar saham global. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup dengan penurunan di level 2,55% seiring dengan melemahnya data manufaktur di Amerika yang memperkuat sinyal akan adanya potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika sert koreksi di pasar saham Amerika yang cukup besar, dimana indeks saham utamnya mengalami penurunan hingga sebesar 3,04% (NASDAQ). Adapun imbal hasil surat utang Inggris dan Jerman juga terlihat mengalami penurunan, masing - masing di level 1,197% dan 0,146% setelah pasar saham di kawasan Eropa juga mengalami penurunan. Bahkan imbal hasil dari surat utang Jepang juga menunjukkan penurunan hingga ke level -0,038% didorong oleh koreksi besar yang terjadi di pasar sahamnya. 
  • Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih berpotensi mengalami penurunan ditengah meningkatnya persepsi risiko terhadap instrumen surat utang negara - negara berkembang. Namun demikian kami melihat bahwa penurunan harga tersebut akan mulai terbatas, didukung oleh hasil positif dari lelang penjualan Surat Utang Negara. Pergerakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari ini akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal jelang disampaikannya data sektor tenaga kerja Amerika. 
  • Rekomendasi : Dengan masih terbukanya peluang terjadinya koreksi harga, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus pada seri Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah. Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati diantaranya adalah sebagai berikut ini : FR0053, FR0061, FR0035, FR0063, FR0070 dan FR0056. Adapun Surat Utang Negara dengan tenor panjang yang cukup menarik adalah FR0058, FR0068, FR0072 FR0075 dan FR0079. 
  • Pemerintah meraup dana senilai Rp28,25 triliun dari Lelang Surat Utang Negara seri SPN03190406 (New Issuance), SPN12200106 (New Issuance), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0068 (Reopening) dan FR0079 (New Issuance) pada hari Kamis, tanggal 3 Januari 2019.

Download PDF