RESEARCH

RESEARCH

08 Januari 2019

Fixed Income Notes 08 Januari 2019

  • Imbal hasil pada perdagangan hari Senin, 7 Januari 2019 mengalami penurunan imbal hasil hingga sebesar 6 bps yang dipicu oleh adanya kenaikan harga Surat Utang Negara yang mencapai 35 bps. Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami perubahan hingga sebesar 13 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami penurunan sebesar 12 bps didorong oleh kenaikan harga sebesar 44 bps. Sedangkan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang bergerak dengan mengalami penurunan sebesar 2 bps yang didorong oleh adanya kenaikan harga yang mencapai 27 bps. Pada Surat Utang Negara seri acuan, kenaikan harga yang cukup besar terjadi pada tenor 10 dan 15 tahun, masing-masing sebesar 84 bps dan 106 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 11 bps dan 12 bps yang berada pada level 7,846% dan 8,167%. Adapun untuk seri acuan dengan tenor 5 tahun pada perdangan kemarin tidak mengalami banyak perubahan harga sehingga tingkat imbal hasilnya berada di kisaran level 7,753%.
  • Kenaikan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin didorong oleh penguatan rupiah terhadap Dollar Amerika. Kenaikan harga juga didukung oleh membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS). Kenaikan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin terlihat menguat untuk seri Surat Utang Negara, terutama pada surat utang bertenor menengah dan bertenor panjang ditengah nilai tukar Rupiah yang mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika.
  • Volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin juga terlihat mengalami kenaikan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya. Obligasi Negara seri FR0079 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar senilai Rp 2,059 triliun dari 69 transaksi dengan harga tertinggi 103,25% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara dengan seri FR0077 senilai Rp1,969 triliun dari 69 transaksi di harga rata-rata 101,75%. Adapun Project Based Sukuk seri PBS016 menjadi sukuk negara dengan volume perdagangan terbesar yaitu Rp360 miliar dari 8 transaksi dengan harga tertinggi 99,50% dan diikuti perdagangan Sukuk Negara Retail seri SR008 dengan volume perdagangan sebesar Rp144,15 miliar dari 8 transaksi dengan rata-rata harga pada level 99,85%.
  • Adapun volume perdagangan surat utang korporasi obligasi SIEXCL02ACN1 tercatat surat utang korporasi yang memiliki volume paling besar yaitu sebesar Rp51,06 miliar dengan 8 kali transaksi dengan harga tertinggi 101,45% dan diikuti oleh Obligasi korporasi ADMF03BCN5 senilai Rp50,50 miliar dengan hanya 1 kali transaksi di harga 100,22%. Adapun Sukuk untuk seri SISMRA01CN2 volume perdagangan berada pada urutan keempat sebesar Rp26,00 miliar dari 3 kali transaksi dengan harga tertinggi berada pada level 101,75%.
  • Sementara itu nilai tukar Rupiah ditutup menguat sebesar 190 pts (1,35%) yang berada pada level 14080 per Dollar Amerika. Setelah mengalami tren penguatan terhadap Dollar Amerika dalam beberapa hari perdagangan, pada perdagangan kemarin nilai tukar Rupiah ditutup dengan mengalami penguatan dan bergerak pada kisaran level 14022 hingga 14185 per Dollar Amerika. Penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin seiring dengan nilai tukar mata uang regional yang juga mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika dimana mata uang Rupiah memimpin penguatan mata uang regional dengan tingkat penguatan sebesar 1,35% dan diikuti penguatan oleh  Mata uang Ringgit Malaysia sebesar 0,52%. Mata uang Won Korea dan Yen Jepang pun mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,51% dan 0,31% terhadap Dollar Amerika. Adapun mata uang yang mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika  adalah  Rupee India dan Dollar Hongkong dengan tingkat pelemahan masing-masing sebesar 0,26% dan 0,02%.
  • Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan arah bervariasi di tengah beragamnya sentimen yang ada di pasar surat utang global.
  • Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun berada pada level 2,698% dan untuk US Treasury bertenor 30 tahun berada pada level 2,993%. US Treasury dengan tenor 10 tahun tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya. Sementara itu imbal hasil dari surat utang Jerman ditutup dengan kenaikan sekitar 1 bps atau berada pada level 0,224%. Adapun pasar Amerika Serikat mengalami kenaikan sebesar 0,42% untuk indeks saham DJIA dan sebesar 1,26% untuk indeks saham NASDAQ. Pada perdagangan hari ini perkirakan penguatan harga Surat Utang Negara masih terus mengalami kenaikan yang didorong oleh faktor pergerakan nilai tukar Rupiah.
  • Rekomendasi: Dengan harga Surat Utang Negara yang masih berpeluang untuk mengalami kenaikan, terutama pada Surat Utang Negara dengan tenor diatas 7 tahun maka kami menyarankan kepada investor untuk mencermati beberapa Surat Utang Negara dengan tenor panjang dan melakukan strategi trading untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga tersebut. Beberapa seri Surat Utang Negara yang perlu dicermati adalah berikut ini: FR0075, FR0073, FR0072, FR0071, FR0056 dan FR0059

      Berita Pasar

  • Rencana Lelang Surat Berharga Syariah Negara atau Sukuk Negara seri SPN-S 09072019 (New Issuance), PBS014 (reopening), PBS019 (reopening), PBS021 (reopening) dan PBS022 (New Issuance) pada hari Selasa tanggal 8 Januari 2019.
  • Pemerintah akan melakukan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada hari Selasa, tanggal 8 Januari 2019. Seri SBSN yang akan dilelang adalah seri SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara - Syariah) dan PBS (Project Based Sukuk) untuk memenuhi  sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2019. Target penerbitan adalah senilai Rp8 triliun dengan seri – seri yang akan dilelang adalah sebagai berikut:

         Surat Perbendaharaan Negara seri SPN-S 09072019 (Diskonto; 9 Juli 2019);

         Project Based Sukuk Seri PBS014 (6,500%; 15 Mei 2021);

         Project Based Sukuk Seri PBS019 (8,250%; 15 September 2023);

         Project Based Sukuk Seri PBS021 (8,500%; 15 Nopember 2026); dan

         Project Based Sukuk Seri PBS022 (imbalan tetap; 15 April 2034).

  • Kami perkirakan jumlah penawaran yang masuk akan berkisar antara Rp25—35 triliun dengan jumlah penawaran terbesar masih akan didapati pada Surat Perbendaharaan Negara serta pada PBS014. Berdasarkan kondisi di pasar sekunder menjelang pelaksanaan lelang, kami perkirakan tingkat imbal hasil yang akan dimenangkan pada lelang hari ini adalah sebagai berikut :

         Surat Perbendaharaan Negara seri SPN-S 09072019 berkisar antara 6,71875 - 6,81250;

         Project Based Sukuk seri PBS014 berkisar antara 7,75000 - 7,84375;

         Project Based Sukuk seri PBS019 berkisar antara 8,09375 - 8,18750;

         Project Based Sukuk seri PBS021 berkisar antara 8,21875 - 8,31250; dan

         Project Based Sukuk seri PBS022 berkisar antara 8,40625 - 8,50000 dengan tingkat imbalan sebesar 8,375%

  • Lelang akan dibuka pada hari Selasa tanggal 8 Januari 2019 pukul 10.00 WIB dan ditutup pukul 12.00 WIB. Hasil lelang akan diumumkan pada hari yang sama. Adapun setelmen akan dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 10 Januari 2019 atau 2 hari kerja setelah tanggal pelaksanaan lelang (T+2).  Di tahun 2019, target penerbitan bersih (net issuance) Surat Berharga Negara senilai Rp389,0 triliun dimana pada kuartal I tahun 2019 pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Berharga Negara melalui lelang senilai Rp185,00 triliun dari 7 kali lelang Surat Utang Negara dan 6 kali lelang Sukuk Negara

Download PDF