RESEARCH

RESEARCH

29 Januari 2019

Fixed Income Notes 29 Januari 2019

  • Jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara serta pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika (FOMC Meeting), harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Senin, 28 Januari 2019 bergerak dengan arah beragam dengan kecenderungan mengalami penurunan.
  • Perubahan tingkat harga yang terjadi mencapai 30 bps yang berdampak terhadap perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 4 bps dimana kecenderungan penurunan harga didapati pada tenor 5 tahun hingga 10 tahun dan tenor diatas 20 tahun. Adapun pada perdagangan Obligasi Negara untuk seri acuan, penurunan harga yang terjadi telah mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil sebesar 1 bps, dimana kenaikan imbal hasil terbesar didapati dengan tenor 10 tahun yaitu sebesar 1 bps yang didorong oleh perubahan harga sebesar 7 bps. Sementara itu, untuk perdagangan Obligasi Negara seri acuan dengan tenor 5, 15 dan 20 tahun, ketiganya mengalami perubahan imbal hasil sebesar 0,8 bps yang didorong oleh penurunan harga masing-masing sebesar 3 bps, 7 bps dan 7 bps.
  • Imbal hasil Surat Utang Negara yang cenderung bergerak dengan mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin terjadi di tengah minimnya katalis jelang pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara yang akan diadakan pada hari ini. Terbatasnya perubahan imbal hasil juga didukung oleh volume perdagangan  yang terus menurun bila dibandingkan  dengan volume perdagangan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar menahan diri untuk melakukan transaksi menjelang lelang, dimana pemerintah mentargetkan penerbitan Surat Utang Negara senilai Rp15 triliun dari enam seri Surat Utang Negara yang akan ditawarkan kepada investor. Selain itu investor juga masih mencermati pergerakan nilai tukar rupiah ditengah jelang diadakannya pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika (FOMC Meeting) pada hari ini walaupun para pelaku pasar mengestimasi bahwa Bank Sentral Amerika akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada level 2,5%.
  • Harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika mengalami kecenderungan penurunan ditengah imbal hasil US Treasury yang bergerak terbatas dan membaiknya persepsi risiko di tengah gejolak yang terjadi di pasar keuangan global. Perubahan harga terjadi pada keseluruhan seri Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika. Imbal hasil INDO24 mengalami kenaikan sebesar 2,4 bps di level 3,892% yang didorong terjadinya penurunan harga sebesar 11,30 bps. Sementara itu INDO29 mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 5 bps di level 4,292% yang disebabkan penurunan harga sebesar 41,60 bps. Adapun untuk INDO44 mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 2,21 bps di level 5,045% yang didorong oleh penurunan harga sebesar 36,7 bps. Sementara itu, untuk INDO49 juga mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 3,25 bps di level 4,945% yang disebabkan penurunan harga sebesar 53,20 bps
  • Volume perdagangan Surat Utang Negara mengalami penurunan dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya, dengan volume perdagangan senilai Rp9,91 triliun dari 40 seri Surat Utang Negara yang dilaporkan, dengan volume terbesar didapati pada Obligasi Negara seri FR0070 senilai Rp1,438 triliun dari 23 kali transaksi di harga rata - rata 101,475% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0069 senilai Rp1,080 triliun dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 100,29%. Sementara itu dari perdagangan Project Based Sukuk seri PBS014 didapati volume perdagangan terbesar senilai Rp275,00 miliar dari 11 kali transaksi di harga 97,20% dan diikuti oleh perdagangan Surat Perbendaharaan Negara Syariah seri SPNS08022019 senilai Rp132,00 miliar dari 1 kali transaksi di harga 99,86%.
  • Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, senilai Rp540,15 miliar dari 35 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi I Tridomain Performance Materials Tahun 2018 (TDPM01)  dengan nilai Rp148,00 miliar dari 3 kali transaksi dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap III Tahun 2018 Seri (ADMF04CCN3) senilai Rp60,00 miliar dari 1 kali transaksi di harga 100,72%. Adapun untuk volume obligasi korporasi sebesar Rp50,60 miliar untuk 4 kali transaksi di harga rata-rata 101,17% didapati pada Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap IV Tahun 2019 Seri C (ADMF04CCN4). Selanjutnya Obligasi PLN VIII Tahun 2006 Seri B (PPLN08B) didapati volume senilai Rp50,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata-rata sebesar 111,125%.
  • Nilai tukar Rupiah pada perdagangan hari Senin, tanggal 28 Januari 2019 ditutup menguat sebesar 21,00 pts (0,15%) per Dollar Amerika. Pada akhir sesi perdagangan, penguatan rupiah sudah mulai terlihat mereda dibandingkan saat awal perdangangan. Hal ini terlihat dari ditutupnya Rupiah pada level Rp14071,50 dimana kondisi tersebut tidak jauh berbeda dari penutupan sebelumnya. Adapun nilai tukar Rupiah bergerak menguat di sepanjang sesi perdagangan pada kisaran antara 14032,50 hingga 14071,50 per Dollar Amerika.
  • Penguatan nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin terjadi di tengah penguatan sebagian besar nilai tukar mata uang regional. Mata uang Baht Thailand (THB) dan mata uang Ringgit Malaysia (MYR) merupakan mata uang yang mengalami penguatan tertinggi, masing—masing sebesar 0,36% dan 0,33% kemudian diiringi oleh penguatan mata uang Won Korea Selaran (KRW) sebesar 0,30%. Selanjutnya, mata uang Yuan China (CNY) dan mata uang Rupiah Indonesia (IDR) keduanya mengalami penguatan mata uang regional sebesar 0,15% yang dilanjutkan dengan penguatan mata uang Yen Jepang (JPY) sebesar 0,13% terhadap mata uang Dollar Amerika. Sedangkan arah pergerakan yang berlawanan terjadi pada pelemahan mata uang Peso Filipina (PHP) dan Dollar Hongkong (HKD). Keduanya mengalami pelemahan nilai tukar terhadap mata uang regional masing-masing sebesar 0,06% dan 0,00%.
  • Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun ditutup dengan kondisi mengalami pelemahan terbatas sebesar 53 bps berada pada level 2,74%, namun imbal hasil US Treasury dengan tenor 30 tahun menguat di level 3,07%. Kondisi pasar saham Amerika Serikat juga mengalami koreksi dimana indeks saham utamanya mengalami pergerakan yang terbatas. Indeks DJIA terkoreksi sebesar 84 bps di level 24528,22 dan untuk indeks NASDAQ juga mengalami koreksi sebesar 111 bps di level 7085,69. Adapun untuk imbal hasil surat utang Inggris bertenor 10 tahun mengalami penguatan terbatas sebesar 0,8 bps sehingga berada pada level 1,277%. Sedangkan, untuk surat utang Jerman bertenor 10 tahun mengalami koreksi sehingga berada pada level 0,206%.
  • Pada hari ini pemerintah berencana untuk mengadakan lelang penjualan Surat Utang Negara dengan target penerbitan senilai Rp15 triliun dari enam seri Surat Utang Negara yang ditawarkan investor. Kami perkirakan pelaku pasar masih akan mencermati pelaksanaan lelang sebelum kembali melakukan transaksi di pasar sekunder. Adapun pergerakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak cenderung mendatar (sideways). Selain itu, para pelaku pasar juga mencermati perubahan nilai tukar Rupiah jelang disampaikannya notulen Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika (FOMC Meeting) yang akan dilaksanakan pada hari ini dan besok tanggal 29-30 Januari 2019.
  • Rekomendasi
    Dengan kondisi tersebut maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. Bagi investor dengan horizon jangka menengah dan jangka panjang dapat mengikuti lelang penjualan Surat Utang Negara, dimana pemerintah menawarkan keempat Surat Utang Negara seri acuannya dan dua seri Surat Perbendaharaan Negara. Adapun beberapa seri yang menarik untuk dicermati pada perdagangan hari ini yaitu: FR0077, FR0078, FR0068, FR0079, FR0053, dan FR0067.
  • Rencana Lelang Surat Utang Negara seri SPN03190430 (New Issuance), SPN12200130 (New Issuance), FR0077 (Reopening), FR0078 (Reopening), FR0068 (Reopening) dan FR0079 (Reopening) pada hari Selasa, tanggal 29 Januari 2019.

Download PDF